Jakarta, Optimaise News – Megawati Soekarnoputri datang ke acara perilisan kenangan hidup Erros Djarot jilid kedua serta ketiga di balai seni kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Minggu 9 Agustus 2026. Ratusan undangan lintas usia memenuhi ruangan, dari pejabat aktif hingga seniman senior.
Inti artikel
- Ratusan undangan lintas usia memenuhi ruangan, dari pejabat aktif hingga seniman senior
- Anies Baswedan dan Menteri Koperasi Ferry Juliantono ikut meramaikan deretan kursi depan
- Optimaise News mencatat keakraban itu langsung terasa sejak kedatangan tamu utama yang mengenakan batik merah hitam
Anies Baswedan dan Menteri Koperasi Ferry Juliantono ikut meramaikan deretan kursi depan. Optimaise News mencatat keakraban itu langsung terasa sejak kedatangan tamu utama yang mengenakan batik merah hitam.
Deretan Tokoh di Sisi Megawati dan Undangan
Puti Guntur Soekarno serta Romy Soekarno mendampingi Megawati setibanya di lokasi. Bintang Puspayoga sebagai Ketua DPP PDIP juga hadir di barisan yang sama. Rano Karno yang menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta duduk di sebelah mereka, menambah nuansa silaturahmi antar generasi.
Kehadiran tokoh sekelas Anies Baswedan dan Ferry Juliantono memperlihatkan jangkauan pergaulan Erros yang luas. Para undangan saling sapa tanpa sekat formal, mencerminkan semangat kebersamaan yang ingin ditonjolkan lewat buku tersebut. Suasana tetap santai meski daftar tamu berisi nama-nama berpengaruh.
Undangan resmi memuat pesan Erros agar orang berani menyampaikan kebenaran meski terasa pedih, supaya ia tidak menggerogoti pikiran dan batin selamanya. Kalimat itu menjadi pengingat singkat sebelum sesi bedah dimulai. Banyak hadirin mengangguk ketika kata-kata itu dibacakan ulang.
Guyonan Ringan Megawati soal Kisah yang Diluncurkan

Megawati memilih tidak menyampaikan pidato panjang. Ia hanya berseloroh tentang Erros yang dulu sempat mengangkatnya namun masih menjaga gawang saat ia hendak lewat. Tawa hadirin langsung pecah karena guyonan itu terasa personal sekaligus ringan.
Ia menambahkan bahwa di dalam cerita ada bagian yang benar dan ada yang kurang tepat, sebab pelaku utamanya adalah dirinya sendiri. Candaan tersebut disambut gelak tawa lebih keras lagi dari kursi tamu. Momen itu menjadi titik cair paling terasa sepanjang acara.
Busana batik merah hitam yang dikenakannya terlihat kontras dengan nuansa formal ruang teater. Penampilannya tetap sederhana namun mencuri perhatian kamera. Optimaise News mengamati bahwa pendekatan humor justru membuat jarak antara tokoh besar dan undangan biasa menyusut.
Bedah Buku oleh Laksamana Sukardi hingga Haidar Bagir

Sesi pembahasan dipandu Bambang Harymurti. Ia mengarahkan alur agar para penanggap bisa saling mengisi. Mantan Menteri BUMN Laksamana Sukardi, mantan Kapolri Suroyo Bimantoro, dan Haidar Bagir bergiliran membedah isi jilid kedua dan ketiga.
Masing-masing memberikan sudut pandang berbeda berdasarkan pengalaman mereka bersama Erros. Diskusi tidak hanya menyinggung fakta sejarah, tetapi juga pelajaran moral yang bisa diambil pembaca masa kini. Hadirin menyimak dengan tenang tanpa ada interupsi kasar.
Urutan penyampaian diatur rapi sehingga setiap narsum mendapat porsi seimbang. Penanggap menekankan pentingnya menulis kenangan sebelum memori pudar. Atmosfer tetap hangat hingga penutup, menandakan peluncuran berjalan sesuai harapan panitia.







