Jakarta, Optimaise News – Umat Muslim di Indonesia kerap menyiapkan amalan khusus pada malam menjelang Rabu terakhir bulan Safar yang dikenal sebagai Rebo Wekasan. Tradisi ini diarahkan untuk memohon perlindungan Allah dari sekitar 320.000 bala bencana yang diyakini turun pada rentang waktu itu.
Inti artikel
- Umat Muslim di Indonesia kerap menyiapkan amalan khusus pada malam menjelang Rabu terakhir bulan Safar yang dikenal sebagai Rebo Wekasan
- Tradisi ini diarahkan untuk memohon perlindungan Allah dari sekitar 320.000 bala bencana yang diyakini turun pada rentang waktu itu
- Sejarah amalan ini tertaut pada tulisan Syekh Ahmad bin Umar Ad-Dairabi
Menurut catatan Optimaise News, praktik ini bermula dari anjuran Syekh Ahmad bin Umar Ad-Dairabi lewat kitab Fathul Malik al-Majid al-Muallaf dan kini dilengkapi bacaan MUI yang dilansir NU Online. Jarak waktunya mulai Selasa sore hingga sebelum matahari terbenam Rabu, tanpa dalil shahih namun dijalankan sebagai ikhtiar murni.
Asal Anjuran Kitab dan Konteks 320 Ribu Bala
Sejarah amalan ini tertaut pada tulisan Syekh Ahmad bin Umar Ad-Dairabi. Ia menyebut hari Rabu terakhir Safar sebagai momen di mana bala dalam jumlah besar diturunkan, sehingga perlu penjagaan khusus.
Fakta yang dipegang komunitas setempat menyebut angka 320.000 bencana. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa ikhtiar doa dan salat sunnah dipandang sebagai cara memohon kasih sayang Ilahi sepanjang tahun.
Kompas.com 2026 menegaskan Rebo Wekasan bisa dibaca sebagai upaya menjaga diri. Tidak ada jaminan absolute, hanya pengharapan lindungi dari musibah yang turun di langit maupun bumi.
Susunan Empat Rakaat dan Bacaan Al-Quran
Salat sunnah Rebo Wekasan dilakukan empat rakaat. Setiap rakaat disertai surat Al-Kautsar dibaca tujuh belas kali, Al-Ikhlas lima kali, serta Al-Falaq dan An-Nas masing-masing sekali.
Setelah salam, dianjurkan membaca doa yang tercatat di Mujarrabat Ad-Dairabi. Bunyi singkatnya: Hafizhahullahu bikaramin min jami’il balaya allati tanzilu fidzalika lau wa lam yuhim hawlahu balliyatu tilkal balaya ila tamamis sanah. Maknanya memohon agar Allah menjaga dengan karunia-Nya dari segala musibah hari itu hingga akhir tahun.
Bacaan itu ditempatkan sebagai penutup. Ia bukan digantikan, melainkan dilengkapi doa lain agar niat tolak bala semakin utuh.
Doa MUI dan Susunan Bismillah Asmaul Husna
Majelis Ulama Indonesia menyediakan lafal yang banyak dirujuk lewat NU Online. Dimulai dengan shalawat: Allahuummasalli alaa sayyidinaa Muhammadin shalatan tunjinaa biha. Lanjutan doa memohon diselamatkan dari segala ketakutan dan bencana serta dijauhkan dari kejahatan yang turun dari langit maupun keluar dari bumi.
Versi lengkap biasanya dibuka basmalah, dilanjutkan deretan Asmaul Husna, lalu doa tolak bala. Kompas membedakan tiga unsur utama itu agar mudah dihafal.
Artinya secara garis besar: Ya Allah, berilah shalawat kepada Nabi Muhammad yang dengannya kami diselamatkan dari segala keadaan dan afat, ditunaikan segala hajat, disucikan dari keburukan, diangkat derajat, dan disampaikan kepada puncak kebaikan di dunia dan akhirat. Lindungi kami dari keburukan yang datang dari langit dan bumi, sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.



![250 Jemaah Gratis Tiba di Makkah untuk Umrah Langsung [58]](https://news.optimaise.co.id/wp-content/uploads/2026/08/250-Jemaah-Gratis-Tiba-di-Makkah-unt-cover-min1980.webp)



