Jakarta, Optimaise News – Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i merespons keras video yang beredar luas di media sosial. Isinya menunjukkan tantangan menghafal Surah Ad-Dhuha di stan festival musik The Sounds Project dengan iming-iming minuman beralkohol sebagai hadiah.
Inti artikel
- Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i merespons keras video yang beredar luas di media sosial
- Video tersebut langsung memicu perdebatan publik karena menghubungkan ayat suci dengan promosi produk alkohol
- Romo Syafi’i menyatakan rasa keprihatinan mendalam terhadap kejadian itu
Video tersebut langsung memicu perdebatan publik karena menghubungkan ayat suci dengan promosi produk alkohol. Optimaise News merangkum sikap tegas pejabat Kemenag yang menekankan batasan jelas antara kebebasan berekspresi dan penghormatan terhadap agama.
Reaksi Resmi atas Kampanye Hafalan Berhadiah Alkohol
Romo Syafi’i menyatakan rasa keprihatinan mendalam terhadap kejadian itu. Ia menegaskan bahwa kitab suci maupun pesan keagamaan tidak pantas dimasukkan ke dalam hiburan atau cara menarik perhatian konsumen.
Menurutnya, materi agama yang dipakai untuk aktivitas dagang berisiko merendahkan nilai luhur. Pelaku usaha diminta menahan diri agar keuntungan semata tidak mengorbankan rasa hormat umat.
Ia menambahkan bahwa Al-Qur’an memiliki posisi yang sangat tinggi bagi kaum muslim. Ayat-ayatnya tidak boleh dijadikan trik untuk meraih popularitas di platform media sosial atau menaikkan penjualan.
Wamenag Soroti Tantangan Hafalan Al-Qur’an di Stan Minuman Beralkohol sebagai Momentum Aturan
Kasus ini diharapkan menjadi titik balik penyusunan pedoman yang tegas. Tujuannya agar simbol keagamaan tidak lagi masuk ranah promosi, lelucon, atau taktik mencari laba.
Romo Syafi’i mengajak semua pihak evaluasi total. Keuntungan dan viralitas jangan sampai mengorbankan penghormatan terhadap keyakinan masyarakat.
Dia mengingatkan pelaku usaha dan panitia event agar tidak menjadikan agama sebagai barang dagangan. Kutipannya jelas: “Kepada pelaku usaha dan penyelenggara kegiatan, saya tegaskan jangan mengejar keuntungan dan viralitas dengan menjadikan agama sebagai komoditas.”
Pelajaran dari Polemik Holywings 2022
Wamenag menyinggung peristiwa sebelumnya di Holywings yang memakai nama Muhammad dan Maria untuk promosi. Insiden itu sempat memanas dan berujung proses hukum.
Menurutnya, peristiwa Holywings membuktikan kebebasan berekspresi tetap punya batas. Batas itu muncul begitu masuk wilayah penghormatan agama.
Pengalaman tersebut menjadi rujukan agar kejadian serupa tidak terulang. Event organizer dan merek perlu lebih cermat memilih konsep sebelum meluncurkan kampanye.
Dampak Praktis bagi Pelaku UMKM dan Event
Bagi pemilik usaha kecil menengah yang kerap ikut festival, peringatan ini relevan. Mereka harus memisahkan produk dari atribut agama agar tidak kena dampak hukum atau boikot publik.
Pilihan hadiah atau challenge harus diverifikasi dulu kelayakannya. Menghindari gimmick yang menyinggung bisa menjaga citra merek dalam jangka panjang.
Optimaise News menilai kesadaran kolektif ini membantu industri kreatif tumbuh sehat tanpa memicu konflik sosial.



![250 Jemaah Gratis Tiba di Makkah untuk Umrah Langsung [58]](https://news.optimaise.co.id/wp-content/uploads/2026/08/250-Jemaah-Gratis-Tiba-di-Makkah-unt-cover-min1980.webp)



