Jakarta, Optimaise News – Kelompok kedua sebanyak 250 jemaah program tamu Raja Salman tiba di Makkah dan langsung menunaikan ibadah Umrah. Mereka berasal dari 23 negara Eropa serta Asia, melanjutkan rangkaian penyelenggaraan tahun ini.
Inti artikel
- Kelompok kedua sebanyak 250 jemaah program tamu Raja Salman tiba di Makkah dan langsung menunaikan ibadah Umrah
- Mereka berasal dari 23 negara Eropa serta Asia, melanjutkan rangkaian penyelenggaraan tahun ini
- Sebelum menuju Makkah, rombongan sempat tinggal di Madinah untuk serangkaian ziarah dan kunjungan edukatif
Sebelum menuju Makkah, rombongan sempat tinggal di Madinah untuk serangkaian ziarah dan kunjungan edukatif. Agenda ini menjadi bagian dari empat gelombang yang seluruhnya ditanggung penuh pihak kerajaan.
Raja Salman Biayai 1.000 Jemaah Umrah Gratis di Empat Gelombang
Optimaise News mencatat skema tahunan tersebut memfasilitasi total 1.000 peserta. Empat rombongan masing-masing berjumlah 250 orang digelar secara bergantian. Gelombang perdana digelar Januari 2024 dan memuat 250 peserta dari 16 negara Asia, di antaranya warga Indonesia.
Kelompok kedua ini memperluas cakupan geografis ke wilayah Balkan, Eropa Barat, serta beberapa negara Arab. Nama negara peserta mencakup Bosnia dan Herzegovina hingga Suriah. Kehadiran mereka mempertegas jangkauan program yang dijalankan kementerian terkait Arab Saudi.
Peserta menempuh perjalanan dengan seluruh biaya akomodasi, transportasi, dan fasilitas ibadah ditanggung. Model sponsorship semacam ini membedakan program penjamu dua masjid suci dari paket komersial biasa. Informasi serupa sempat beredar di kanal Instagram dan portal berita yang membahas kuota gratis serupa.
Agenda Madinah sebelum Tiba di Tanah Haram

Selama berada di Madinah, jemaah mengunjungi Kompleks Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd. Di sana mereka menyimak proses produksi mushaf serta cara distribusi ke berbagai benua. Kunjungan itu memberi pemahaman praktis tentang penyebaran kitab suci ke seluruh dunia.
Rombongan juga menziarahi Jabal Uhud dan Pemakaman Syuhada Uhud. Tempat bersejarah tersebut menjadi titik refleksi perjuangan sahabat. Setelah itu mereka menuju Masjid Quba untuk menunaikan salat berjamaah sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah.
Urutan kunjungan disusun agar peserta merasakan nuansa sejarah Madinah dulu. Pengalaman di kota nabi menjadi fondasi spiritual sebelum melaksanakan manasik di tanah haram. Pola itinerary sama diterapkan pada gelombang sebelumnya agar standar pelayanan konsisten.
Ibadah Umrah Langsung plus Agenda Akademis dan Budaya
Begitu tiba di Makkah, jemaah langsung menunaikan rangkaian Umrah. Ritual tersebut menjadi tujuan utama kedatangan. Di luar manasik, program menyiapkan agenda akademis dan kegiatan budaya agar peserta memahami konteks lokal lebih dalam.
Salah satu destinasi adalah Kompleks Raja Abdulaziz yang memproduksi Kiswah Ka’bah. Di sana mereka melihat proses penyiapan kain penutup suci. Kunjungan tersebut melengkapi pengalaman religius dengan wawasan produksi benda sakral Islam.
Penyelenggaraan dikelola Kementerian Urusan Islam Arab Saudi. Lembaga itu menanggung seluruh logistik dan pembinaan. Fokusnya memastikan jemaah dari berbagai latar dapat menjalani ibadah dengan tenang tanpa beban biaya pribadi.
Dengan dua gelombang sudah terlaksana, sisa kuota 500 orang masih menanti. Optimaise News memantau bahwa skema empat rombongan memberi kesempatan merata bagi warga dari belahan dunia berbeda. Model ini menunjukkan komitmen kerajaan terhadap tamu dhuafa yang ingin menunaikan ibadah di dua kota suci.
Pengalaman peserta Eropa dan Asia ini menambahkan warna pada peta penerima manfaat. Mereka membawa pulang memori ziarah Madinah, pelaksanaan Umrah, serta wawasan tentang produksi Al-Qur’an dan Kiswah. Seluruh rangkaian digelar tanpa membebani anggaran pribadi jemaah.
Keberadaan program penjamu dua masjid suci terus menjadi rujukan media. Portal berita dan kanal sosial sering menampilkan gambar kedatangan rombongan serupa. Fokus Optimaise News tetap pada fakta perjalanan dan agenda yang sudah terverifikasi dari sumber resmi.
Rombongan kedua membuktikan bahwa jangkauan tidak terbatas pada Asia saja. Negara Balkan dan Eropa Barat turut dilibatkan agar representasi global semakin luas. Hal itu selaras dengan tujuan dakwah yang digaungkan kementerian terkait.
Setelah menuntaskan Umrah, jemaah masih mengikuti sisa agenda budaya. Interaksi dengan komunitas lokal dan kunjungan situs sejarah memperkaya pemahaman. Pendekatan holistik inilah yang membedakan skema sponsorship kerajaan dari perjalanan umrah biasa.
Tahun berjalan menandai kelanjutan komitmen yang sudah berlangsung sebelumnya. Empat gelombang dengan total 1.000 kursi gratis memberi peluang nyata bagi mereka yang kesulitan membiayai sendiri. Rombongan dari 23 negara pada gelombang kedua menambah daftar panjang penerima manfaat.







