Jakarta, Optimaise News – Rebo Wekasan jatuh pada 12 Agustus 2026 atau 30 Safar 1448 Hijriah dan menjadi agenda utama bagi umat Islam di Jawa serta Sunda yang ingin memohon perlindungan dari musibah. Ribuan warga mengumpul di masjid-masjid sore itu untuk melancarkan rangkaian doa keselamatan dan dzikir agar segala urusan lapang serta terhindar dari bala.
Inti artikel
- Tradisi ini lahir dari kebiasaan panjang di Indonesia yang menolak anggapan jahiliyyah bahwa Safar penuh sial
- Di era jahiliyyah Arab, Safar dipandang bulan tidak baik yang membawa kecelakaan
- Pandangan ini menyusup ke Indonesia dan dijadikan acuan negatif
Tradisi ini lahir dari kebiasaan panjang di Indonesia yang menolak anggapan jahiliyyah bahwa Safar penuh sial. Ulama menghukuminya boleh apabila dibarengi niat taubat dan perbaikan diri, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tidak ada wabah yang menyebar sendiri serta tidak ada kesialan di bulan ini.
Rebo Wekasan dan Penolakan terhadap Pandangan Lama
Di era jahiliyyah Arab, Safar dipandang bulan tidak baik yang membawa kecelakaan. Pandangan ini menyusup ke Indonesia dan dijadikan acuan negatif. Namun hadis Bukhari-Muslim justru menegaskan aman dan terbuka untuk semua umat. Ulama seperti Imam Abdurrauf al-Munawiy dalam kitab Faidh al-Qadir menegaskan boleh dilakukan asalkan niat taubat serta mendekatkan diri kepada Allah.
Amalan dimulai dengan doa permohonan lapang urusan dan lindung dari musibah. Dimulai dengan basmalah, shalawat, lalu menyebut Ya Syadid al-Quwa dan Ya Aziz. Lalu akhirnya cukupkan aku dari makhluk-Mu yang jahat dan tutup dengan Hasbunallah wal hamdu lillah.
Amalan Istighfar dan Kembali ke Jalur Taubat

Amalan kedua adalah mendekatkan diri dengan istighfar dan taubat. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan bahwa bagi yang memperbanyak dzikir ini Allah akan lapangkan kesempitan dan beri jalan keluar tak terduga. Siklus ini tak hanya rutinitas tapi juga bentuk penyadaran akan batas manusia di hadapan ilahi.
Amalan Bacaan Al-Quran dan Dzikir Ayat Salamun
Amalan ketiga melibatkan pembacaan Al-Quran dan dzikir. Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayah Az-Zain menyebutkan tujuh ayat bernama salamun yang memiliki makna penjaga dan kedamaian. Ayat tersebut antara lain Q.S. Yasin ayat 58, As-Saffat ayat 79, 109, 120 dan 130, Az-Zumar ayat 73, serta Al-Qadr ayat 5. Dengan amalan ini diharapkan menjadi pelindung pribadi maupun keluarga.
Apa Bedanya Amalan Rebo Wekasan dengan Rutinitas Harian
Berbeda dengan sholat sunnah rutin, Rebo Wekasan menekankan fokus pada malam satu hari dalam hijriyah. Ini menjadi momen berkumpul bagi masyarakat yang ingin menjaga harmoni dan keamanan keluarga. Tradisi ini terus bertahan karena memberikan rasa aman di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.







