Jakarta, Optimaise News – Wakil Ketua DPD RI Yorrys Raweyai yang memimpin Pansus Penanganan Konflik dan Keamanan Papua meninjau langsung tiga distrik di wilayah Puncak, Papua Tengah, pada Minggu 2 Agustus. Kunjungan itu memperlihatkan ratusan warga dari Yugumuak, Oneri, Agandugume, serta Lambewi yang terpaksa meninggalkan rumah karena bentrokan masih berlangsung.
Inti artikel
- Mereka kehilangan sumber nafkah, lahan pertanian, dan kesempatan berkebun, sementara anak-anak sulit bersekolah di lingkungan yang rawan
- Situasi belum tenang membuat kepulangan tertunda, dan penambahan personel non-organik memperpanjang rasa waswas warga
- Optimaise News merangkum temuan lapangan Pansus beserta respons yang sudah diberikan
Mereka kehilangan sumber nafkah, lahan pertanian, dan kesempatan berkebun, sementara anak-anak sulit bersekolah di lingkungan yang rawan. Situasi belum tenang membuat kepulangan tertunda, dan penambahan personel non-organik memperpanjang rasa waswas warga. Optimaise News merangkum temuan lapangan Pansus beserta respons yang sudah diberikan.
Ratusan Warga Puncak Kehilangan Sumber Nafkah dan Akses Sekolah
Di lokasi penampungan, Yorrys Raweyai mencatat betapa beratnya dampak konflik sehari-hari. Warga yang sebelumnya aktif bertani kini tak bisa menggarap ladang. Pekerjaan sampingan pun lenyap sehingga kebutuhan pokok semakin sulit dipenuhi.
Anak-anak di pengungsian menghadapi hambatan serius untuk belajar. Gedung sekolah di daerah asal mereka berada di zona tidak aman, sementara fasilitas darurat di tempat penampungan masih terbatas. Yorrys menekankan bahwa hilangnya kesempatan belajar memperburuk masa depan generasi muda setempat.
Ia menyampaikan secara langsung: “Mereka kehilangan mata pencaharian, kesempatan untuk bertani dan berkebun, serta anak-anak mereka kesulitan untuk mengakses pendidikan yang layak akibat daerah tempat tinggal mereka yang sedang dilanda konflik.” Pernyataan itu menjadi landasan Pansus untuk merinci kebutuhan mendesak.
Trauma Keamanan Berkepanjangan dan Kesulitan Kembali ke Kampung
Pengungsi belum bisa pulang karena ketegangan di distrik asal belum mereda. Setiap hari mereka menunggu kabar aman yang tak kunjung datang. Rasa takut masih kuat setelah peristiwa kekerasan sebelumnya.
Penambahan terus-menerus pasukan non-organik di kawasan itu justru memperpanjang trauma. Warga merasa diawasi dan sulit beraktivitas normal. Kondisi ini membuat banyak keluarga memilih bertahan di pengungsian meski fasilitas seadanya.
Pansus mencatat bahwa kehadiran keamanan harus diimbangi pendekatan yang meredakan ketakutan. Tanpa langkah itu, proses pemulihan sosial dan ekonomi akan semakin lambat. Temuan ini dikumpulkan agar menjadi bahan evaluasi usai masa reses.
Bantuan Langsung dan Rencana Tindak Lanjut Pansus
Saat berada di lokasi, Yorrys menyerahkan uang tunai beserta paket sembako kepada keluarga di penampungan. Bantuan tersebut dimaksudkan sebagai sokongan sementara sambil menunggu solusi jangka panjang. Penerima tampak lega meski mengakui kebutuhan mereka jauh lebih besar.
Pansus berkomitmen menindaklanjuti seluruh aspirasi yang disampaikan pengungsi. Data lapangan akan disusun rapi untuk merumuskan kinerja tim setelah reses. Langkah itu mencakup usulan perlindungan, pemulihan lahan, dan akses pendidikan darurat.
Kehadiran negara diharapkan lebih nyata melalui koordinasi antarlembaga. Optimaise News mencatat bahwa Pansus ingin memastikan suara warga terdengar di tingkat nasional tanpa menunggu eskalasi baru. Proses himpun fakta masih berlanjut di distrik-distrik terdampak.






