Tangerang, Optimaise News – Petugas kepolisian Malaysia menelusuri keterlibatan oknum di Bandara KLIA setelah penangkapan pilot pesawat yang membawa 70.114 butir ekstasi seberat 26 kilogram di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Direktur NCID Bukit Aman Datuk Hussein Omar Khan menegaskan individu di unit pemeriksaan bandara tersebut segera digali keterangannya dan digiring ke proses hukum bila bukti cukup.
Inti artikel
- Penyelidikan awal menunjukkan Saufi Othman mengambil barang di sebuah apartemen kawasan Ampang, Malaysia
- Ia tiba di KLIA pagi hari, menitipkan bagasi berisi ekstasi, lalu melanjutkan penerbangan ke Kota Kinabalu
- Setelah mendarat di Sabah, ia kembali ke Kuala Lumpur hanya untuk mengambil koper yang sama
Pihak PDRM mengungkap bahwa Mohd Saufi Othman (39) diduga mendapatkan bantuan internal saat menitipkan bagasi ilegal sebelum terbang ke Indonesia. Optimaise News merangkum rangkaian perjalanan narkoba ini dari sumber di Ampang hingga penangkapan di terminal kargo Jakarta sebagai sinyal waspada bagi penumpang dan pelaku usaha logistik lintas negara.
Rute Narkoba dari Ampang ke Terminal Soekarno-Hatta
Penyelidikan awal menunjukkan Saufi Othman mengambil barang di sebuah apartemen kawasan Ampang, Malaysia. Ia tiba di KLIA pagi hari, menitipkan bagasi berisi ekstasi, lalu melanjutkan penerbangan ke Kota Kinabalu.
Setelah mendarat di Sabah, ia kembali ke Kuala Lumpur hanya untuk mengambil koper yang sama. Dari situ ia langsung terbang menuju Jakarta. Bea Cukai Republik Indonesia akhirnya menggagalkan aksi tersebut di Bandara Soekarno-Hatta dengan total 70.114 butir dan bobot 26 kilogram.
Pola bolak-balik ini menimbulkan pertanyaan soal celah pengawasan bagasi di terminal keberangkatan. Bagi pelaku UMKM yang sering mengirim barang via kargo udara, kasus ini mengingatkan pentingnya memeriksa dokumen dan rute mitra logistik agar tidak tersangkut barang ilegal.
Petugas Pemeriksaan KLIA Masuk Radar Penyelidikan
Hussein Omar Khan menjelaskan bahwa staf yang ikut dalam proses pemeriksaan di KLIA termasuk dalam daftar individu yang akan dimintai keterangan. Jika bukti menunjukkan bantuan aktif, penangkapan akan dilakukan tanpa penundaan.
MetroTV sebelumnya melaporkan PDRM sudah mengidentifikasi petugas yang diduga membantu aksi pilot berinisial MSO. Langkah itu memperluas lingkup kasus dari satu pelaku penerbangan menjadi potensi jaringan internal bandara.
Proses pemanggilan masih dalam tahap awal. Polisi Malaysia menekankan bahwa keterangan staf akan dibandingkan dengan rekaman CCTV dan data bagasi. Hal ini memberi ruang bagi penumpang dan operator bandara untuk meninjau ulang prosedur check-in yang rentan dimanipulasi.
Menunggu Data Polri untuk Kirim Personel
PDRM menyatakan menunggu informasi formal dari Kepolisian Republik Indonesia sebelum mengirim personel ke wilayah hukum Indonesia. Kerja sama lintas negara ini diperlukan agar penyidikan di kedua belah pihak tidak tumpang tindih.
Penangkapan di Tangerang sudah memberikan bukti fisik yang kuat. Kini fokus beralih ke sisi Malaysia: siapa yang memfasilitasi penitipan bagasi dan bagaimana narkoba lolos dari pemeriksaan awal di KLIA.
Bagi pembaca yang sering bepergian atau mengelola pengiriman antarnegara, kasus ini menjadi contoh nyata bahwa celah di titik transit bisa dimanfaatkan sindikat. Optimaise News mencatat pentingnya koordinasi Bea Cukai dan kepolisian agar rantai pasok udara tetap aman.





