Indeks utama Wall Street ditutup kompak melemah pada perdagangan Jumat (17/7/2026) waktu New York. Tekanan datang dari aksi jual saham semikonduktor dan teknologi di tengah persaingan AI dari China serta memanasnya kembali konflik Amerika Serikat–Iran.
Dikutip dari CNBC internasional, Nasdaq Composite ambles 1,4% ke 25.520,24, S&P 500 jatuh 1,01% ke 7.457,69, dan Dow Jones Industrial Average turun 406,55 poin atau 0,77% ke 52.146,42. Optimaise News mencatat pelemahan ini juga merembet ke kinerja mingguan ketiga indeks utama.
Pergerakan indeks Wall Street di sesi Jumat
Secara mingguan, S&P 500 turun 1,6%, Nasdaq merosot 2,9%, sedangkan Dow Jones melemah 0,9%. Ketiga indeks utama Wall Street kompak melemah dipimpin Nasdaq yang paling dalam terkena aksi jual teknologi.
Saham-saham AI dan chip menjadi motor pelemahan harian. Investor bereaksi terhadap sentimen persaingan global di sektor semikonduktor dan belanja AI yang dinilai semakin agresif.
Aksi jual saham chip AS anjlok tajam

Tekanan terbesar datang dari sektor semikonduktor. ETF VanEck Semiconductor (SMH) mencatat penurunan mingguan ketiga dalam empat pekan terakhir dengan koreksi hampir 9%.
Wall Street tersengat aksi jual saham chip setelah pelaku pasar menilai valuasi dan belanja modal perusahaan teknologi AS semakin rentan terhadap kompetisi harga. Saham chip AS anjlok tajam seiring kekhawatiran bahwa permintaan AI pengguna makin sensitif terhadap biaya.
Model AI China Moonshot picu kekhawatiran belanja tech

Sentimen negatif dipicu peluncuran model AI terbaru perusahaan rintisan asal China, Moonshot AI. Model itu diklaim mampu mempersempit kesenjangan performa dengan model AI terdepan dari perusahaan-perusahaan AS.
Senior Investment Strategist Edward Jones, Angelo Kourkafas, menilai kemunculan model AI open source dari China memicu kekhawatiran baru soal tingginya belanja teknologi emiten AS. “Pasar mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Permintaan AI dari pengguna menjadi lebih sensitif terhadap harga dan investor mulai menghukum perusahaan yang meningkatkan belanja terlalu agresif,” ujarnya.
Ia menekankan volatilitas saat ini tidak berarti tren AI berakhir. “Ini lebih mencerminkan bahwa tema AI mulai memasuki fase yang lebih matang, sesuatu yang lazim terjadi dalam siklus investasi teknologi yang bersifat transformatif,” tambahnya.
Netflix anjlok dan konflik AS-Iran memanas
Selain saham chip, Netflix menjadi salah satu pemberat utama pasar setelah sahamnya anjlok lebih dari 7%. Investor kecewa karena proyeksi kinerja perusahaan dinilai belum mampu meredakan kekhawatiran perlambatan pertumbuhan bisnis.
Menurut pantauan Optimaise News, tekanan pasar juga ditopang memanasnya konflik AS–Iran yang menambah ketidakpastian geopolitik. Kombinasi aksi jual chip, kompetisi AI China, dan sentimen geopolitik membuat Wall Street menutup pekan dengan nada negatif.






