Jakarta, Optimaise News – Pemerintah membuka jendela peluang 3 sampai 4 hari munculnya awan hujan hingga 18 Agustus 2026 sebagai penentu Operasi Modifikasi Cuaca, di tengah armada sekitar 43 helikopter dan 10 hingga 15 pesawat fixed-wing yang sudah digelar. Menko Polkam Djamari Chaniago menyampaikan data itu dalam konferensi pers di kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Inti artikel
- Menko Polkam Djamari Chaniago menyampaikan data itu dalam konferensi pers di kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026)
- Ancaman El Nino yang diperkirakan bertahan sampai awal September atau awal Oktober memperpanjang kekeringan dan menekan peluang padam cepat
- Djamari Chaniago menegaskan luas karhutla nasional
Menurut rangkuman Optimaise News dari keterangan resmi, luas hutan dan lahan terbakar sudah melebihi 107.000 hektare hingga awal Agustus. Ancaman El Nino yang diperkirakan bertahan sampai awal September atau awal Oktober memperpanjang kekeringan dan menekan peluang padam cepat.
Angka resmi 107 ribu hektare dan perkiraan El Nino
Djamari Chaniago menegaskan luas karhutla nasional. “Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan terhitung 107.000 hektar lebih sampai dengan hari ini,” katanya di Jakarta.
El Nino kuat dinilai mempercepat kekeringan dan berpotensi membuat musim kemarau lebih panjang sehingga lahan lebih mudah terbakar. Angka 107 ribu hektare juga disebut berpeluang terus bertambah selama puncak El Nino September-Oktober masih berlangsung.
Pemerintah merespons cuaca panas itu dengan penanganan terpadu, termasuk di kawasan yang sempat menyala seperti Bromo dan Gede Pangrango. Fokus tetap pada pengendalian dini sebelum api meluas ke gambut yang lebih sulit dipadamkan.
Armada udara 43 helikopter plus fixed-wing

Satgas udara mengerahkan sekitar 43 helikopter hingga Senin itu. Ditambah 10 hingga 15 pesawat fixed-wing yang bisa dikerahkan sesuai kebutuhan operasi.
Djamari menilai operasi udara, terutama Operasi Modifikasi Cuaca oleh BNPB untuk hujan buatan, sebagai langkah paling efektif. Volume air yang dijatuhkan bisa mencakup wilayah luas dalam waktu singkat dibanding hanya mengandalkan jalur darat.
OMC tetap bergantung ketersediaan awan hujan. Tanpa awan, hujan buatan tidak bisa dijalankan. Pemerintah terus memantau perubahan cuaca agar pesawat segera diterbangkan begitu awan terdeteksi.
Jendela awan hujan 3-4 hari sampai 18 Agustus

Perkiraan cuaca menyebut peluang 3 atau 4 hari munculnya awan hujan hingga 18 Agustus 2026. Djamari berharap jendela itu jatuh menjelang peringatan 17 Agustus sebagai momen psikologis yang menopang kerja satgas.
“Minggu-minggu ini sampai dengan tanggal 18 Agustus itu ada tiga atau empat hari kemungkinan awan hujan ada. Kalau itu ada, itu memang mungkin anugrah yang diberikan kepada kita, mungkin menjelang 17 Agustus ini semoga itu akan keluar awan hujan itu,” ujarnya.
Dalam linimasa singkat yang dihimpun Optimaise News: angka 107 ribu ha, armada 43 heli plus 10-15 fixed-wing, jendela 3-4 hari awan, dan enam provinsi siaga, memberi gambar kapan OMC paling mungkin berhasil dan di mana risiko tertinggi.
Operasi darat, tangki fleksibel, dan enam provinsi siaga
Satgas darat disiapkan dalam jumlah besar. Mereka memanfaatkan sumber air setempat, flexible tank yang bisa dipindah ke titik butuh, serta sumur buatan di sejumlah daerah agar pasokan air tidak putus.
Enam provinsi berstatus paling rawan dan dipantau ketat: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Di luar enam itu, titik lain tetap ditangani sesuai kesiapan armada cadangan.
Langkah darat melengkapi OMC. Begitu hujan buatan turun, pasukan darat bisa memadam sisa titik dan menjaga agar api tidak menyebar ulang di lahan kering.
Titik Bromo menyusut: contoh cepat dari cadangan helikopter
Kepala BNPB Suharyanto melaporkan titik api di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru turun dari 34 menjadi 2 titik. BNPB menyiagakan tiga helikopter cadangan untuk bergerak di luar enam provinsi prioritas, termasuk penanganan Bromo.
Lahan mineral seperti di Bromo dan NTT dinilai lebih mudah dipadamkan dibanding gambut. Respons cepat di Bromo, Gede Pangrango, dan sekitar Rinjani menjadi contoh bahwa armada cadangan bisa menutup celah di luar zona siaga utama.







