Jakarta, Optimaise News – Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan lonjakan pendaftar undangan upacara HUT ke-81 RI di Halaman Istana Merdeka, Jakarta, hingga di atas 336.000 orang. Angka itu jauh melampaui slot awal sekitar 5.500 yang disiapkan panitia untuk 17 Agustus 2026.
Inti artikel
- Angka itu jauh melampaui slot awal sekitar 5.500 yang disiapkan panitia untuk 17 Agustus 2026
- Optimaise News merangkum pernyataan resminya di Kompleks Parlemen, Senin (10/8/2026)
- Pendaftaran dibuka empat hari, dari 5 hingga 9 Agustus 2026, lewat kanal resmi pemerintah
Menghadapi antusiasme itu, panitia menambah satu blok baru berkapasitas sekitar 3.400 undangan, memprioritaskan pemohon yang belum pernah hadir, serta membagi hadirin ke sesi pengibaran bendera pagi dan penurunan sore. Optimaise News merangkum pernyataan resminya di Kompleks Parlemen, Senin (10/8/2026).
Lonjakan Antusiasme Masyarakat Tercatat
Pendaftaran dibuka empat hari, dari 5 hingga 9 Agustus 2026, lewat kanal resmi pemerintah. Minat publik datang dari berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri, yang ingin menyaksikan langsung detik-detik proklamasi di pusat pemerintahan.
Prasetyo menjelaskan keterbatasan fisik halaman istana membuat kuota awal ketat. “Dapat kami sampaikan karena kapasitas atau luas istana itu juga sangat terbatas, jadi dari agenda atau slot kurang lebih 5.500 yang kita siapkan, pendaftar selama 4 hari dibuka itu mencapai di atas 336.000 pendaftar,” kata Prasetyo.
Sebelumnya panitia sempat menyiapkan akses bagi sekitar 8.100 orang untuk upacara langsung. Setelah data ditutup, total undangan yang dikelola mendekati kisaran 11.500 termasuk penyesuaian terbaru, tetap jauh di bawah jumlah pemohon.
Langkah Panitia untuk Perluas Akses Masyarakat
Sebagai respons, panitia memutuskan membuka satu blok area tambahan tanpa mengubah tata acara pokok. Kapasitas blok baru diperkirakan sekitar 3.400 undangan agar lebih banyak warga merasakan suasana upacara di Istana.
“Kami memutuskan sebagai panitia akan membuat tambahan satu blok lagi yang kurang lebih kapasitasnya mencapai 3.400,” ujar Prasetyo. Langkah itu dinilai sebanding dengan permintaan tinggi tanpa mengorbankan keamanan dan keteraturan prosesi.
Dalam rangkuman Optimaise News, penambahan kuota dimaksudkan agar peringatan detik-detik Proklamasi terasa lebih merata di lapisan masyarakat yang berbeda daerah, bukan hanya bagi mereka yang sudah terbiasa hadir di magang kenegaraan serupa.
Prioritas Data untuk Memastikan Keadilan
Panitia akan membuka catatan undangan tahun-tahun sebelumnya. Data itu menjadi dasar membagi porsi agar pemohon yang sama sekali belum pernah mengikuti upacara di Istana mendapat ruang lebih luas.
“Berdasarkan analisa data kami juga ingin menyampaikan bahwa untuk tahun ini, kita akan membagi porsi untuk memprioritaskan kepada yang belum pernah sama sekali,” kata Prasetyo. Ia menegaskan pendaftar lama tetap boleh mendaftar, hanya proporsinya diatur ulang.
Pendekatan filtrasi berbasis rekam kehadiran ini diharapkan mengurangi kesan kuota terserap berulang oleh kelompok yang sama, sambil tetap menghormati antusiasme warga yang kembali mendaftar.
Pengelolaan Kuota dengan Dua Sesi Upacara
Agar penambahan blok benar-benar terpakai, masyarakat undangan akan dialokasikan ke dua sesi. Sesi pagi fokus pada pengibaran bendera Merah Putih, sedangkan sesi sore menampung prosesi penurunan bendera.
Pembagian waktu itu memungkinkan kapasitas total digandakan dalam satu hari peringatan tanpa memperluas tapak fisik secara berlebihan. Undangan yang lolos seleksi juga berpeluang menyaksikan pagelaran kesenian dan kebudayaan di halaman Istana usai rangkaian formal.
Dengan slot terbatas, panitia menekankan bahwa hanya sebagian kecil dari 336 ribu pemohon yang akhirnya dapat hadir. Transparansi data dan pembagian sesi menjadi cara menjaga ketertiban sekaligus memperluas akses.
Terima Kasih Panitia kepada Inisiatif Rakyat
Prasetyo menyampaikan apresiasi kepada seluruh lapisan masyarakat yang ikut mendaftar. “Jadi, sekali lagi kami menyampaikan terima kasih. Ini mendandakan antusias masyarakat untuk dapat hadir mengikuti peringatan detik-detik proklamasi sangat tinggi,” tutur Prasetyo.
Selain perebutan undangan di Istana, panitia memantau berbagai inisiatif lokal di bulan kemerdekaan. Lomba modern maupun tradisional, kreativitas warga, hingga flashmob silat yang digelar PB IPSI disebut sebagai contoh apresiasi budaya bela diri yang turut meramaikan HUT ke-81 RI di daerah.
Monitoring tersebut menempatkan upacara di Istana sebagai puncak simbolik, sementara semangat kemerdekaan dilanjutkan oleh warga di seluruh Indonesia lewat kegiatan mandiri yang beragam.







