Jakarta, Optimaise News – Gempa dangkal magnitudo 6,4 mengguncang barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, Rabu (5/8/2026) pukul 11.14 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan peristiwa itu tidak berpotensi tsunami, meski guncangan terasa hingga skala intensitas IV MMI di sejumlah kepulauan.
Inti artikel
- Gempa dangkal magnitudo 6,4 mengguncang barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, Rabu (5/8/2026) pukul 11.14 WIB
- Pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer, sekitar 221 kilometer barat laut Pulau Karatung
- Optimaise News merangkum parameter resmi, mekanisme sumber, aftershock, serta imbauan yang dikeluarkan BMKG agar warga tetap tenang
Pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer, sekitar 221 kilometer barat laut Pulau Karatung. Optimaise News merangkum parameter resmi, mekanisme sumber, aftershock, serta imbauan yang dikeluarkan BMKG agar warga tetap tenang.
Parameter teknis gempa dari BMKG
Akun resmi @InfoBMKG di X merilis data awal segera setelah guncangan. Kutipan persis unggahan tersebut: “#Gempa Mag:6.4, 05-Agu-26 11:14:04 WIB, Lok:5.60 LU,125.27 BT (221 km BaratLaut PULAUKARATUNG-SULUT), Kedlmn:10 Km, tdk berpotensi tsunami #BMKG.”
Koordinat episenter 5,60 LU dan 125,27 BT menempatkan pusat di laut, jauh di barat laut Pulau Karatung. Jarak 221 kilometer dan kedalaman dangkal 10 kilometer menjadi rujukan utama analisis awal yang diutamakan kecepatan penyampaian kepada publik.
Pemutakhiran data kemudian menyebut magnitudo update M6,5 pada lokasi sekitar 186 kilometer barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, dengan koordinat 5,29 LU dan 125,43 BT. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menegaskan parameter masih dapat berubah seiring kelengkapan data lapangan.
Alasan tidak berpotensi tsunami

Hasil pemodelan tsunami BMKG menyimpulkan gempa tidak memicu gelombang air laut berbahaya. Mekanisme sumber berupa pergerakan naik atau thrust fault terkait aktivitas subduksi di Cotabato Trench, namun konfigurasi tersebut tidak menghasilkan potensi tsunami menurut model resmi.
Pernyataan “TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI” diulang dalam keterangan Wijayanto. Meski magnitudo relatif besar dan pusat dangkal, jarak episenter di laut serta karakteristik patahan menjadi dasar penilaian BMKG. Masyarakat diminta hanya merujuk informasi resmi, bukan isu liar.
Dampak guncangan dan aftershock
Guncangan dirasakan hingga skala IV MMI di Kepulauan Marore, Miangas, dan Kendahe. Di siang hari, banyak orang di dalam rumah merasakan getaran; jendela dan pintu berderik, dinding berbunyi, dan gerabah bisa pecah. Di luar rumah, hanya sebagian orang yang merasakannya.
Hingga pukul 11.40 WIB, monitoring BMKG mencatat dua gempa susulan. Magnitudo terbesar aftershock mencapai M4,8. Belum ada laporan kerusakan struktur bangunan atau korban jiwa yang dikonfirmasi pada rilis awal. Optimaise News mencatat pemantauan terus berlanjut untuk memperbarui dampak bila ada data baru.
Imbauan masyarakat dan pemantauan lanjutan
Wijayanto mengimbau warga tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ia meminta masyarakat menjauhi bangunan yang retak atau rusak akibat gempa, serta memeriksa keutuhan rumah.
BMKG akan terus memonitor aktivitas aftershock dan menyampaikan pemutakhiran kepada pemangku kepentingan serta publik. Disclaimer awal menekankan kecepatan informasi, sehingga angka magnitudo, koordinat, atau kedalaman bisa disesuaikan jika data tambahan masuk.







