Jakarta, Optimaise News – Febri Diansyah resmi ditunjuk sebagai kuasa hukum Febrie Adriansyah pada 23 Juli 2026 di Jakarta. Ia menggantikan Hotman Paris yang mundur hanya beberapa hari setelah mendampingi mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) itu.
Inti artikel
- Febri Diansyah resmi ditunjuk sebagai kuasa hukum Febrie Adriansyah pada 23 Juli 2026 di Jakarta
- Ia menggantikan Hotman Paris yang mundur hanya beberapa hari setelah mendampingi mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) itu
- Ironi rekam jejaknya langsung mencuat
Ironi rekam jejaknya langsung mencuat. Mantan aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) dan wajah humas KPK kini beruntun membela pejabat tersangka. Profil Febri Diansyah, eks jubir KPK yang kini berdiri di seberang lembaga lama, jadi sorotan publik.
Sembilan Tahun Mengawal Korupsi di ICW Sebelum Masuk KPK
Febri Diansyah lahir di Padang, 8 Februari 1983. Ia menyelesaikan Sarjana Hukum di Universitas Gadjah Mada pada 2007.
Sekitar sembilan tahun ia aktif di ICW. Tugas utamanya mengawal perkara korupsi dan memantau jalannya peradilan. Pengalaman panjang itu membangun kredibilitas sebelum ia pindah ke lembaga antikorupsi resmi.
Di ICW ia belajar pola penindakan dan celah sistem. Bekal itu kemudian membawanya masuk jajaran KPK sebagai pegawai fungsional.
Dari Pegawai Gratifikasi ke Juru Bicara hingga Mundur 2020

Awal karier di KPK ditempuh di Direktorat Gratifikasi. Awal Desember 2016 ia dipercaya menjadi Juru Bicara lembaga tersebut.
Wajahnya kerap muncul di televisi saat menjelaskan kasus besar. Ia menjadi juru bicara yang relatif akrab di telinga publik. September 2020 ia mengundurkan diri usai polemik revisi UU KPK 2019.
Keputusan mundur menutup bab sebagai humas institusi. Setelah itu ia beralih ke praktik advokat swasta bersama rekan lama.
Transisi Advokat: SYL, Hasto, hingga Klien Kontroversial Lain

Bersama Donal Fariz, Febri mendirikan Visi Law Office. Transisi ke dunia pembelaan membuka daftar klien yang sering memicu perdebatan.
Ia pernah mendampingi Putri Candrawathi dalam kasus pembunuhan Brigadir J. Ia juga menjadi kuasa hukum Hasto Kristiyanto terkait perkara Harun Masiku. Keyakinan bahwa klien tak terlibat serta faktor Todung Mulya Lubis disebut sebagai alasan menerima kuasa Hasto.
Pada perkara Syahrul Yasin Limpo, konteks isu politik menjelang Pilpres 2024 turut mewarnai penerimaan kuasa. Ia kemudian mundur di tengah jalan. Kasus lain yang jarang diangkat media mencakup gugatan terkait Denny Indrayana pada Pilkada Kalimantan Selatan.
Sempat muncul pernyataan keengganan menangani kasus dugaan korupsi setelah keluar KPK. Praktik aktual justru menunjukkan sebaliknya lewat deretan pejabat tersangka. Perkara Febrie bukan kasus korupsi pertama yang ia tangani pasca-KPK.
Masuk Menggantikan Hotman Paris di Perkara Febrie Adriansyah
Febrie Adriansyah berstatus tersangka korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Ia ditahan di Rutan KPK.
Hotman Paris sempat memegang kuasa hukum. Beberapa hari kemudian ia mundur. Alasan kesehatan disebut jelas: saraf kejepit yang memaksanya memakai kursi roda dan menjalani perawatan rumah sakit. Rentetan kritik publik terhadap pendampingan itu juga mengiringi keputusan mundurnya.
Surat kuasa tertanggal 23 Juli 2026 menandai masuknya Febri. Pemeriksaan klien dilaporkan berlangsung sekitar 10 jam. Pergantian dalam hitungan hari memperlihatkan dinamika cepat di ruang advokasi pejabat tinggi.
Optimaise News menyusun sintesis timeline utuh dari aktivis ICW, jubir KPK, advokat multi-klien kontroversial, hingga pengganti Hotman di kasus Febrie. Kontras komitmen awal versus praktik aktual menjadi penanda pergeseran peran yang sulit diabaikan.
Harapan Klien soal Proses Adil dan Klaim Honorarium di Kasus Lama
Febri menyatakan klien berharap penyidik Kejaksaan Agung memilah fakta secara jernih. Harapan itu disampaikan agar proses berjalan adil dan tidak tercampur kepentingan lain.
Dalam perkara Syahrul Yasin Limpo sebelumnya, ia mengaku menerima honorarium Rp800 pada tahap penyelidikan di KPK. Pada tahap lain nominalnya mencapai Rp3,1 miliar. Klaim itu memberi gambaran skala imbalan di kasus pejabat besar.
Rekam jejak Febri Diansyah, kuasa hukum Febrie Adriansyah, kini dibaca sebagai lintasan panjang yang penuh kontras. Dari pengawal antikorupsi hingga pembela tersangka pejabat, pergantian Hotman hanya menjadi puncak terbaru dari pergeseran itu.







