Surabaya, Optimaise News – Jamhadi, Dewan Penasihat KADIN Jawa Timur, menegaskan pelemahan daya beli memaksa masyarakat mengadopsi strategi konsumsi yang sangat pragmatis dan sensitif terhadap harga. Konsumen menahan pembelian non-esensial hingga muncul insentif diskon yang dianggap sepadan value for money, sehingga frekuensi belanja barang non-pokok menurun atau bertahan di level moderat saja.
Inti artikel
- Pembelian impulsif juga anjlok tajam, dan Optimaise News mencatat pola wait and see ini kini menjadi normal baru di pasar ritel
- Masyarakat belum kehilangan daya beli secara total
- Namun ruang manuver finansial menyempit sehingga belanja non-pokok hanya dilanjutkan kalau ada promosi yang nyata
Porsi pendapatan diskresioner yang terbatas membuat prioritas bergeser ke kebutuhan sehari-hari, sementara nilai rata-rata setiap transaksi mengecil karena orang membeli jumlah lebih sedikit atau memangkas barang pelengkap. Pembelian impulsif juga anjlok tajam, dan Optimaise News mencatat pola wait and see ini kini menjadi normal baru di pasar ritel.
Strategi Pragmatis dan Penurunan Impulse Buying
Masyarakat belum kehilangan daya beli secara total. Namun ruang manuver finansial menyempit sehingga belanja non-pokok hanya dilanjutkan kalau ada promosi yang nyata. Mereka menunggu momen yang tepat, menahan transaksi, lalu baru bergerak saat diskon atau cashback muncul.
Dampak langsung terlihat pada penurunan frekuensi belanja barang sekunder. Konsumen lebih sering membandingkan harga antar toko dan merek sebelum memutuskan. Hasilnya, impulse buying hampir hilang dari pola harian mereka.
Nilai keranjang belanja ikut mengecil. Orang membeli stok lebih kecil atau meniadakan item tambahan yang dulu sering ikut terbawa. Pola ini memperkuat tekanan pada peritel yang harus menyesuaikan stok dan penawaran.
Diskon Cashback Jadi Pemicu Dominan Transaksi
Insentif harga berubah menjadi buying trigger utama. Diskon langsung, cashback, cicilan, dan program promosi lainnya berhasil menggerakkan volume. Selama kampanye seperti Harbolnas, payday sale, atau pameran, diskon dan cashback mampu menaikkan volume transaksi harian sekitar 20 persen hingga 50 persen.
Tanpa insentif tersebut, transaksi cenderung stagnan. Konsumen menimbang ulang apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan sekarang. Hanya saat harga dirasa adil, mereka melepas dana yang ditahan.
Pola ini menempatkan promo sebagai penentu ritme penjualan. Peritel yang gagal menyiapkan penawaran kompetitif akan merasakan frekuensi kunjungan dan konversi yang lebih rendah.
Cicilan 0 Persen dan BNPL Tahan Arus Kas Bulanan
Untuk barang tahan lama, skema cicilan 0 persen serta Buy Now Pay Later menjadi penopang utama. Elektronik, gawai, dan furnitur tetap dibeli, tetapi pembayaran dipecah agar arus kas bulanan tetap terkendali. Skema ini menjaga konsumsi durable goods tidak langsung mandek.
Konsumen memanfaatkan fasilitas tersebut untuk menjaga likuiditas. Mereka tetap mendapatkan barang yang diinginkan tanpa mengeluarkan cash full di muka. Cara ini selaras dengan perilaku price-sensitive yang sedang mendominasi.
Tanpa opsi cicilan atau BNPL, pembelian kategori ini diperkirakan akan jauh lebih lesu. Peritel yang menyediakan kemudahan pembayaran meraih keunggulan kompetitif di tengah tekanan daya beli.
Tren Down Trading ke Merek Mid-Tier dan Lokal
Selain menahan belanja, masyarakat juga melakukan down trading massal. Mereka beralih dari merek premium ke mid-tier, private label, atau produk lokal yang setara kualitasnya tapi jauh lebih terjangkau. Pergeseran merek ini terjadi di hampir semua kategori non-pokok.
Private label dan merek lokal semakin dilirik karena harganya lebih ramah di kantong. Konsumen menilai fungsi lebih penting daripada status merek. Hasilnya, pangsa merek premium tergerus secara signifikan.
Pola brand switching ini memaksa produsen menyesuaikan portofolio. Mereka harus merilis opsi lebih murah atau memperkuat penawaran value agar tidak kehilangan pembeli yang pindah ke kompetitor mid-tier.
Daya Beli Lesu, Masihkah Tanggal Diskon di 2025 Menarik?
Pertanyaan yang muncul di ruang publik adalah apakah kalender diskon di 2025 masih memiliki daya magis yang sama. Dengan pola wait and see yang sudah mengakar, momen Harbolnas atau payday sale tetap relevan hanya jika value for money benar-benar terasa.
Optimaise News melihat bahwa tanpa penawaran yang jitu, tanggal diskon bisa kehilangan atraksi. Konsumen sudah terlatih menahan diri dan hanya bergerak bila perhitungan menguntungkan. Peritel perlu merancang promo yang lebih tajam dan terukur agar volume 20-50 persen tetap tercipta.
Kondisi ini menuntut kolaborasi lebih erat antara merek, platform, dan skema pembiayaan. Hanya dengan kombinasi diskon, cashback, dan cicilan yang solid, tanggal promo masih bisa menjadi magnet belanja di tahun depan.







