Barak Bongkar: Trump Abaikan Netanyahu

Ehud Barak bongkar Trump abaikan Netanyahu. Kerangka Gaza cuma 53% kendali, tanpa perlucutan Hamas, Israel tak punya suara di meja damai.

Author Image

Bagus

Barak Bongkar: Trump Abaikan Netanyahu

Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak membuka tabir yang pahit. Dalam wawancara di KAN, dia menegaskan Presiden AS Donald Trump sudah tidak lagi memedulikan Benjamin Netanyahu. Kerangka damai Gaza yang digodok justru meminggirkan Tel Aviv dari meja perundingan.

Inti artikel

  • Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak membuka tabir yang pahit
  • Dalam wawancara di KAN, dia menegaskan Presiden AS Donald Trump sudah tidak lagi memedulikan Benjamin Netanyahu
  • Kerangka damai Gaza yang digodok justru meminggirkan Tel Aviv dari meja perundingan

Barak menggambarkan situasi ini sangat mengkhawatirkan. Israel kini tak punya kemampuan menahan kehendak Trump, sementara negara-negara Teluk mendorong arah yang berlawanan. Hubungan yang dulu dipuji sebagai pertemuan terbaik pun retak dalam.

Barak Kritik Kerangka Gaza yang Abai Israel

Menurut Barak, kerangka Gaza yang disepakati hanya mengembalikan kendali Israel atas 53 persen Jalur Gaza, bukan 65 persen seperti yang diharapkan. Yang lebih mencolok, dokumen itu tidak mensyaratkan perlucutan senjata total Hamas. Petempur Hamas masih menyimpan puluhan ribu senjata tanpa pembahasan serius.

Klaim itu langsung menempatkan Israel dalam posisi lemah. Kerangka damai dicapai tanpa kehadiran perwakilan Israel di meja perundingan. Barak menilai keputusan itu meninggalkan Tel Aviv tanpa suara, seolah kepentingan keamanan negara itu diabaikan demi kesepakatan cepat.

Bagi pembaca di Indonesia, ini berarti proses damai di Timur Tengah kini lebih dikendalikan oleh kepentingan AS dan mitra Teluk. Israel yang selama ini menjadi sekutu utama justru digeser ke pinggir. Dampaknya bisa merambat ke stabilitas kawasan yang selama ini rawan.

Trump Batal Serangan Iran, Netanyahu Ikut Tergeser

Pada 1 Agustus 2026, Trump membatalkan rencana serangan bersama AS-Israel ke Iran. Keputusan itu memberi waktu bagi Teheran untuk merampungkan kerangka damai dengan negara-negara Timur Tengah. Netanyahu yang sebelumnya mendorong aksi militer langsung merasa digeser.

Barak mengungkapkan bahwa pembatalan itu menjadi titik balik. Trump sebelumnya memuji pertemuan dengan Netanyahu sebagai yang terbaik, lalu dengan cepat mengabaikannya. Trump bahkan sempat mengatakan Netanyahu akan melakukan apa pun yang diperintahkan.

Implikasinya jelas: Israel kehilangan inisiatif di front Iran. Ketegangan AS-Iran yang sempat memanas kini diarahkan ke jalur diplomatik tanpa keterlibatan penuh Tel Aviv. Barak menyebut situasi ini pahit karena Israel ikut tergeser dalam keputusan strategis yang menyangkut keselamatannya sendiri.

Barak: Netanyahu Kehilangan Daya Tawar di Hadapan Trump

Barak secara blak-blakan menyatakan Netanyahu benar-benar kehilangan daya tawar. Hubungan keduanya mengalami keretakan dalam setelah pertemuan yang sempat digembar-gemborkan. Trump tidak lagi memedulikan masukan dari Perdana Menteri Israel.

Konteks historis penting di sini. Barak adalah mantan PM yang paling dekat dengan lingkaran Netanyahu, sehingga penilaiannya punya bobot. Dia melihat bagaimana Israel tak lagi mampu menahan kehendak Trump. Negara-negara Teluk justru mendorong ke arah yang berlawanan dengan kepentingan Tel Aviv.

Analisis singkat: jika daya tawar Netanyahu terus merosot, proses damai Gaza bisa semakin menjauh dari kebutuhan keamanan Israel. Hamas tetap bersenjata, kendali wilayah menyusut, dan suara Israel di meja perundingan hilang. Ini risiko jangka panjang yang Barak sebut sangat mengkhawatirkan.

Kebocoran Kutipan Barak soal Lingkaran Dalam Trump

Barak membuka kebocoran dari lingkaran dalam Trump. Menurutnya, orang-orang terdekat Presiden AS sudah kehilangan kepercayaan terhadap Netanyahu. Kepercayaan itu pudar seiring ketegangan soal Iran dan kerangka Gaza.

Kutipan Barak menggambarkan alur kronologis yang utuh. Dari pertemuan terbaik yang dipuji Trump, beralih ke pengabaian total. Trump bilang Netanyahu akan patuh pada perintah, lalu kerangka damai digodok tanpa Israel. Lingkaran dalam yang dulu mendukung kini berpaling.

Sintesis ini memperlihatkan retakan yang dalam. Bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan hilangnya kepercayaan struktural. Bagi Israel, ini berarti dukungan AS yang selama ini diandalkan kini rapuh. Barak menekankan bahwa situasi itu pahit dan mengkhawatirkan bagi masa depan Tel Aviv.

Israel Tak Punya Suara dalam Kesepakatan Damai

Inti dari seluruh pernyataan Barak adalah satu fakta keras: Israel tak punya suara dalam kesepakatan damai Gaza. Kerangka itu disepakati tanpa kehadiran mereka di meja perundingan. Hanya kembali ke 53 persen kendali, tanpa tuntutan perlucutan senjata Hamas.

Barak melihat ini sebagai bukti Israel kehilangan kemampuan menahan kehendak Trump. Negara Teluk mendorong arah berlawanan, sementara pembatalan serangan Iran semakin menggeser posisi Netanyahu. Trump mengabaikan sekutu lamanya meski sempat memuji pertemuan mereka sebagai yang terbaik.

Nilai tambah bagi pembaca: kronologi lengkap dari pujian ke pengabaian menunjukkan betapa cepatnya pergeseran aliansi. Implikasi bagi proses damai Gaza adalah risiko keamanan Israel meningkat, sementara ketegangan AS-Iran diselesaikan di luar pengaruh Tel Aviv. Barak, sebagai mantan PM yang dekat, memberi peringatan yang tak bisa diabaikan.

Situasi ini meninggalkan pertanyaan besar. Apakah kerangka damai yang meminggirkan Israel akan bertahan, atau justru memicu ketegangan baru di kawasan? Barak sudah memberi jawaban pahit: Israel kini berdiri di luar lingkaran keputusan utama.

Bagus
Redaktur Berita & Game

Bagus adalah redaktur berita Optimaise News. Meliput isu nasional, kriminal, dan game. Menyusun hard news dan berita umum dengan prioritas kejelasan siapa-apa-kapan-di mana, cocok untuk halaman beranda dan pembaca yang butuh ringkasan cepat.