Jakarta, Optimaise News – Pilot Malaysia Airlines Mohd Saufi bin Othman (39) gagal mengelabui petugas di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta dengan botol urine steril yang disiapkan khusus. Ia ditangkap tim gabungan Bareskrim Polri dan Bea Cukai Selasa 28 Juli sekitar pukul 23.30 WIB setelah petugas menemukan ratusan juta imbalan di balik 26 kg ekstasi setara 70.114 butir plus sisa sabu di koper hitam-putihnya.
Inti artikel
- Hasil tes urine menunjukkan positif tiga zat sekaligus: sabu (metamfetamin), ineks atau ekstasi, dan kokain
- Kepala Bea Cukai Soetta Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang menegaskan pelaku sedang memakai narkoba saat terbang
- Saufi menyiapkan botol kecil berisi urine bersih di dalam tas sebelum mengonsumsi narkotika
Hasil tes urine menunjukkan positif tiga zat sekaligus: sabu (metamfetamin), ineks atau ekstasi, dan kokain. Kepala Bea Cukai Soetta Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang menegaskan pelaku sedang memakai narkoba saat terbang. Optimaise News merangkai timeline utuh dari video CCTV rilis Instagram @bcsoetta Senin 3 Agustus 2026 yang memperlihatkan detik-detik penangkapan hingga risiko keselamatan penumpang.
Modus Botol Urine Steril yang Gagal di Terminal 3
Saufi menyiapkan botol kecil berisi urine bersih di dalam tas sebelum mengonsumsi narkotika. Tujuannya menukar sampel jika maskapai atau otoritas melakukan tes mendadak. Humas Bea Cukai Soetta Satria Yudhatama menjelaskan cara ini umum dipakai kurir untuk lolos inspeksi.
Petugas tetap waspada. Risk Assessment Officer memeriksa lanjutan meskipun ia sempat diarahkan ke jalur fast track awak pesawat. Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Brigjen Eko Hadi Santoso menyebutkan kecurigaan muncul dari citra X-ray koper yang kemudian diambil pemiliknya sendiri.
Pemeriksaan fisik di meja kedatangan internasional mengungkap botol itu. Modus gagal total karena observasi dan profiling petugas sudah mengarah ke indikasi penyelundupan. Video CCTV yang diunggah @bcsoetta memperlihatkan urutan penangkapan yang runtut sejak koper keluar mesin X-ray.
Barang Bukti 70 Ribu Butir dan Hasil Tes Tiga Zat
Di dalam koper tersangka ditemukan 14 bungkus besar dan satu bungkus kecil narkotika jenis sabu. Kompetitor melaporkan total sitaan 26 kg ekstasi setara 70.114 butir plus 4 gram atau 2,7 gram sabu di koper hitam-putih. Angka ini menjadikan kasus tersebut salah satu volume terbesar yang digagalkan di Soetta tahun ini.
Hasil lab urine positif tiga zat. Hengky Tomuan menegaskan pelaku memakai narkoba saat berada di kokpit. Kondisi ini langsung memicu kekhawatiran keselamatan penerbangan internasional yang melintas wilayah udara Indonesia.
Barang bukti kemudian diserahterimakan ke Bareskrim untuk pengembangan jaringan. Status Saufi ditingkatkan menjadi tersangka dan ia ditahan di Rutan Bareskrim Polri. Paket 14 bungkus besar plus satu kecil sabu dari sumber utama digabungkan dengan data 26 kg ekstasi memberi gambaran lengkap modus kurir berstatus pilot.
Pengakuan Upah 50 Ribu Ringgit serta Riwayat Dua Kali
Saufi mengakui disuruh bandar di Malaysia membawa ekstasi ke Jakarta. Upah yang dijanjikan mencapai RM50.000 atau setara Rp200 juta. Ia mengaku sudah dua kali melakukan penyelundupan serupa.
Sebelumnya ia pernah membawa 7 kg sabu dari Sabah ke Jakarta. Motif finansial menjadi pendorong utama. Pengakuan ini memperkuat bahwa status pilot dimanfaatkan untuk melewati jalur khusus awak pesawat.
Imbalan ratusan juta itu menjadi taruhan yang membuatnya nekat membawa botol urine palsu. Optimaise News melihat pola ini sebagai sinyal bahaya bagi penumpang karena pilot yang terpengaruh tiga zat bisa mengendalikan pesawat dalam kondisi tidak fit.
Respons Malaysia Airlines dan Serah Terima ke Bareskrim
Malaysia Airlines menyatakan menghormati proses hukum di Indonesia. Maskapai itu kooperatif dan melakukan peninjauan internal tanpa toleransi terhadap pelanggaran. Mereka memastikan kerja sama penuh dengan pihak berwenang.
Barang bukti diserahkan ke Bareskrim di bawah Brigjen Eko Hadi Santoso. Langkah ini membuka jalan pengembangan jaringan bandar di Malaysia. Status tersangka Saufi sudah ditetapkan resmi.
Pihak maskapai menekankan zero tolerance. Respons cepat ini penting agar reputasi penerbangan internasional tetap terjaga. Video penangkapan yang dirilis Bea Cukai menjadi bukti visual publik yang memperkuat kronologi resmi.
Pengawasan Risk Assessment terhadap Kru Asing
Risk Assessment Officer tetap menjalankan pemeriksaan lanjutan meski Saufi masuk jalur fast track. Metode yang dipakai mencakup X-ray, observasi, profiling, dan meja pemeriksaan fisik di kedatangan internasional. Cara ini terbukti efektif menggagalkan modus botol urine.
Pengawasan ketat terhadap kru asing menjadi perhatian utama. Kasus ini menunjukkan bahwa status pilot tidak lagi menjamin kelolosan. Petugas gabungan Bareskrim dan Bea Cukai berhasil menutup celah yang selama ini dimanfaatkan kurir berstatus awak pesawat.
Bagi pembaca awam, temuan ini mengingatkan pentingnya keamanan di bandara. Satu pilot yang positif tiga zat sambil membawa 26 kg ekstasi bisa mengancam ratusan penumpang dalam satu penerbangan. Sintesis timeline dari video CCTV hingga serah terima ke Bareskrim memberi gambaran utuh tanpa meninggalkan celah fakta.





