Jawa Tengah, Optimaise News – Umi Hanik Wahyuni bertahan sebagai guru RA Tarbiyatul Athfal di Desa Gilis, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, dengan honor hanya Rp6.000 per hari. Jumlah itu bahkan tak cukup membeli sebungkus nasi rames di warung desa. Ia sudah mengabdi sembilan tahun di sekolah tanpa SPP itu.
Inti artikel
- Jumlah itu bahkan tak cukup membeli sebungkus nasi rames di warung desa
- Ia sudah mengabdi sembilan tahun di sekolah tanpa SPP itu
- Ketahanan ekonomi keluarganya ditopang suami yang kerja serabutan, delapan ekor kambing, serta mengajar TPQ sore hari
Ketahanan ekonomi keluarganya ditopang suami yang kerja serabutan, delapan ekor kambing, serta mengajar TPQ sore hari. Pada 23 Juli 2026 Baznas Rembang memberinya insentif. Momen itu jadi penopang setelah hampir satu dekade mengabdi tanpa imbalan layak, seperti dilansir Optimaise News.
Rp6.000 Sehari Belum Cukup untuk Sebungkus Nasi
Honor harian Rp6.000 yang diterima Umi Hanik jelas jauh di bawah biaya makan sehari. Sebungkus nasi rames sederhana di desa sudah melebihi angka itu. Ia harus mengatur setiap rupiah agar dapur rumah tetap menyala.
RA Tarbiyatul Athfal tidak memungut SPP dari murid-murid. Hanya jimpitan sukarela Rp1.000 per hari dari wali murid yang mampu. Uang itu jarang mencukupi operasional sekolah. Apalagi untuk menaikkan honor guru secara rutin.
Umi Hanik tetap datang setiap hari meski penghasilan minim. Ia fokus mengajar anak-anak usia dini dengan penuh kesabaran. Kebutuhan keluarga diurus dengan cara lain di luar honor itu.
Sembilan Tahun Mengabdi di RA Desa Gilis sebagai Balas Ilmu

Umi Hanik merupakan mantan santriwati Ma’hadul Ulum Asy-Syar’iyyah Sarang. Ia merasa berhutang budi pada ilmu agama yang didapat di pondok. Mengajar di RA menjadi cara sederhana membalas jasa itu.
Sudah sembilan tahun ia mengabdi di RA Tarbiyatul Athfal Desa Gilis. Tiap pagi ia menyiapkan materi belajar sambil mengurus anak-anak yang baru mengenal huruf. Sore hari ia lanjut mengajar di TPQ agar ilmu tetap mengalir ke generasi berikutnya.
Pengabdian panjang ini bukan tanpa tantangan. Honor tetap kecil, fasilitas sederhana, dan beban hidup semakin terasa. Namun niat membalas ilmu membuatnya bertahan di tempat yang sama.
Suami Serabutan dan Delapan Kambing Jadi Penopang Rumah

Suami Umi Hanik bekerja serabutan untuk menutupi kebutuhan harian. Ia ambil pekerjaan apa saja yang ada di desa atau sekitar Rembang. Penghasilan tidak menentu tapi menjadi tumpuan utama keluarga.
Keluarga itu memelihara delapan ekor kambing di belakang rumah. Kambing-kambing itu dijual saat butuh dana mendesak seperti biaya sekolah atau obat. Hasil jual kambing membantu bertahan di bulan-bulan sulit.
Umi Hanik juga mengandalkan penghasilan tambahan dari mengajar TPQ sore. Gabungan kerja serabutan suami, hasil kambing, dan TPQ membuat dapur tetap berasap. Tanpa itu, honor RA saja tidak mungkin mencukupi.
Insentif Baznas Rembang Datang untuk Guru RA Berhonor Minim
Pada 23 Juli 2026 Baznas Rembang menyerahkan insentif kepada Umi Hanik. Bantuan itu datang setelah hampir sembilan tahun ia mengabdi dengan honor minim. Momen ini memberi napas lega bagi keluarga.
Insentif Baznas Rembang ditujukan khusus untuk guru RA yang berhonor sangat rendah. Umi Hanik termasuk penerima karena data pengabdian dan kondisi ekonomi yang dilaporkan. Ia menerima bantuan dengan rasa syukur yang dalam.
Bantuan ini tidak mengubah honor tetapnya yang Rp6.000 sehari. Namun setidaknya meringankan beban sementara. Keluarga bisa mengatur ulang anggaran tanpa harus menjual kambing segera.
Potret Ribuan Guru Raudhatul Athfal dengan Nasib Mirip
Kisah Umi Hanik bukan satu-satunya. Ribuan guru Raudhatul Athfal di berbagai desa menghadapi honor serupa atau bahkan lebih rendah. Banyak RA swasta mengandalkan jimpitan sukarela saja untuk bertahan.
Optimaise News mencatat pola yang berulang di daerah pedesaan. Guru RA sering mantan santri yang mengabdi atas dasar niat membalas ilmu. Mereka bertahan dengan pekerjaan sampingan suami, ternak, atau mengajar TPQ.
Kondisi ini memicu perhatian lembaga seperti Baznas di tingkat kabupaten. Insentif sesekali membantu tapi belum menyentuh sistem honor yang tetap. Ribuan guru RA masih menunggu perbaikan nasib jangka panjang.
Tanya Jawab seputar Umi Hanik dan Guru RA Honor Minim
Berapa honor harian Umi Hanik di RA Tarbiyatul Athfal?
Umi Hanik menerima honor Rp6.000 per hari. Jumlah itu sudah ia terima selama sembilan tahun mengabdi.
Kapan Umi Hanik menerima insentif Baznas Rembang?
Ia menerima insentif pada 23 Juli 2026. Bantuan itu datang setelah hampir satu dekade mengajar di RA tanpa SPP.
Bagaimana keluarga Umi Hanik bertahan dengan honor minim?
Suami bekerja serabutan, keluarga memelihara delapan kambing, dan Umi Hanik mengajar TPQ sore hari. Gabungan itu menopang kebutuhan dapur sehari-hari.







