Jakarta, Optimaise News – Sultan Hassanal Bolkiah memutuskan mencabut gelar kerajaan yang disandang menantunya, Pengiran Raabi’atul Adawiyyah Pengiran Haji Bolkiah, efektif segera pada Sabtu 8 Agustus 2026 di Bandar Seri Begawan. Keputusan itu diumumkan kantor protokol istana menyusul perilaku yang dianggap mencoreng nama baik keluarga kerajaan Brunei Darussalam serta kurang menghormati sang sultan dan Raja Isteri.
Inti artikel
- Gelar yang dicabut adalah Yang Amat Mulia Pengiran Anak Isteri
- Kantor Kepala Protokol Kerajaan merilis keterangan resmi yang menyatakan pencabutan berlaku seketika
- Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai detail kejadian yang memicu titah ini
Gelar yang dicabut adalah Yang Amat Mulia Pengiran Anak Isteri. Pengumuman resmi dipublikasikan lewat Pelita Brunei setelah disampaikan sehari sebelumnya, menegaskan titah langsung dari kepala negara sultan brunei tanpa rincian insiden tambahan dari pihak istana.
Titah Langsung dan Pengumuman di Ibukota
Kantor Kepala Protokol Kerajaan merilis keterangan resmi yang menyatakan pencabutan berlaku seketika. Pejabat yang mewakili protokol menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan perintah langsung dari sultan brunei darussalam, bukan usulan birokrasi semata.
Laporan RTB News menegaskan langkah ini diambil karena sikap yang dinilai tidak sesuai dengan posisi sebagai istri anggota keluarga kerajaan. Perilaku tersebut dinilai merusak citra institusi monarki dan menampilkan kurangnya rasa hormat kepada Sultan Hassanal Bolkiah maupun Raja Isteri Pengiran Anak Hajah Saleha.
Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai detail kejadian yang memicu titah ini. Kantor kerajaan memilih diam tentang kronologi lengkap, sehingga spekulasi publik hanya berputar pada dampak simbolik bagi struktur gelar istana.
Dampak pada Status Anak Sultan Brunei
Raabi’atul adalah pasangan putra sultan yang bertitel Pangeran. Pencabutan gelar ini langsung mengubah status resminya di lingkungan istana dan memengaruhi protokol resmi yang melekat pada posisi sebagai istri anak sultan brunei.
Di kalangan istana, gelar semacam itu bukan sekadar kehormatan formal. Ia mencerminkan pengakuan terhadap tata krama dan kesetiaan kepada institusi yang dipimpin sultan brunei. Ketika gelar dicabut, pesan yang tersampaikan adalah standar perilaku yang tak bisa ditawar.
Konteks kekayaan sultan brunei kerap menyoroti gaya hidup istana yang mewah, namun kasus ini mengingatkan bahwa marwah lembaga tetap di atas citra materi. Keputusan tegas ini menunjukkan bahwa bahkan di lingkar terdekat, disiplin protokol dijaga ketat.
Respon Media Lokal dan Konteks Istana
Pelita Brunei memuat pengumuman tersebut sehari setelah penyampaian formal di Bandar Seri Begawan. Media lokal lain, termasuk RTB, menyoroti aspek penghormatan kepada raja isteri dan seluruh keluarga sebagai alasan pendukung.
Optimaise News mencatat bahwa langkah serupa jarang terjadi secara terbuka, sehingga menjadi perhatian publik di wilayah Asia Tenggara. Tanpa rincian perilaku, fokus berita tetap pada pesan monarki yang menuntut kesesuaian sikap dengan status.
Struktur keluarga kerajaan Brunei Darussalam menempatkan gelar sebagai penanda hierarki. Mencabutnya secara langsung menegaskan batasan yang berlaku bagi setiap anggota, termasuk menantu yang masuk lewat pernikahan dengan putra raja.







