Jakarta, Optimaise News – Pembalap Honda Team Asia Veda Ega Pratama finis posisi kesembilan di Moto3 Inggris 2026 di Sirkuit Silverstone, Minggu (9/8) malam WIB. Rookie 17 tahun itu start dari grid ke-15, naik ke P11 setelah start, sempat fluktuatif di grup kedua, lalu sempat merangsek ke P7 di putaran penutup sebelum turun ke P9 dan membawa pulang tujuh poin.
Inti artikel
- Pembalap Honda Team Asia Veda Ega Pratama finis posisi kesembilan di Moto3 Inggris 2026 di Sirkuit Silverstone, Minggu (9/8) malam WIB
- Ia menekankan pelajaran di grup kedua lebih berharga daripada poin semata, lalu berjanji bekerja, berkembang, dan kembali lebih kuat
- Usai GP Inggris ia tetap di peringkat keenam klasemen dengan 97 poin, 18 poin di belakang Marco Morelli di P5
Dalam rilis Honda Team Asia yang dihimpun Optimaise News, Veda Ega Pratama mengakui balapan berjalan baik secara setup, tetapi beberapa kesalahan dan insiden memutus kontak dengan rombongan terdepan. Ia menekankan pelajaran di grup kedua lebih berharga daripada poin semata, lalu berjanji bekerja, berkembang, dan kembali lebih kuat. Usai GP Inggris ia tetap di peringkat keenam klasemen dengan 97 poin, 18 poin di belakang Marco Morelli di P5.
Kepercayaan diri medium dan hilangnya kontak grup depan
Veda menjelaskan kepercayaan diri tinggi terutama pada bagian depan motor dan kompon medium sepanjang race. Rencananya sederhana: fokus pada diri sendiri dan bertahan di grup terdepan agar tetap dalam paket yang memperebutkan posisi papan atas.
“Balapan hari ini berjalan dengan baik. Sejujurnya, saya memiliki kepercayaan diri yang sangat baik, terutama dengan bagian depan dan kompon medium selama balapan,” ujar Veda Ega dikutip dari rilis Honda Team Asia. “Saya mencoba fokus pada diri sendiri dan tetap berada bersama rombongan karena rencananya adalah bertahan di grup terdepan,” kata Veda menambahkan.
Namun dinamika Moto3 cepat memutus rencana itu. Insiden di lintasan membuatnya kehilangan kontak dengan rombongan depan. Saat mengejar, ia mengakui masih melakukan kesalahan dan menyadari ada aspek cara berkendara yang harus ditingkatkan.
“Sayangnya, seperti yang biasa terjadi di Moto3, ada beberapa insiden selama balapan dan itu membuat saya kehilangan kontak dengan grup terdepan,” kata Veda. “Saya mencoba mengejar mereka lagi, tetapi saya masih melakukan beberapa kesalahan selama balapan dan saya tahu ada beberapa hal yang perlu saya tingkatkan dalam cara saya berkendara,” ucapnya. Ia memilih terus berjuang di grup kedua sambil belajar dari kesalahan tersebut, bukan menyerah pada jarak yang sudah terbuka.
Jalur start P15 ke perlawanan lap terakhir di Silverstone

Setelah Maximo Quiles absen karena cedera, Veda menempati start ke-15. Start berlangsung bersih: dalam kurang dari dua putaran ia menyalip lima pebalap dan naik ke P11. Data Dorna yang dilansir media mencatat di awal balapan jarak antarperingkat dari P1 hingga P22 masing-masing belum mencapai satu detik, sehingga setiap kelonggaran kelelahan atau kesalahan langsung menaikkan atau menurunkan urutan.
Memasuki putaran ketiga hingga keenam, posisi Veda naik-turun di sekitar P12-P13. Crash beberapa rival di depan sempat membantunya mengamankan P7 di lap ketujuh, sebelum lagi-lagi turun beberapa peringkat dalam satu putaran. Di sisa lima putaran ia bertahap menyodok ke P10, lalu di putaran terakhir merangsek hingga P7.
Di garis finis, Veda mengamankan P9 dengan menyalip Matteo Bertelle selisih 0,075 detik. Perlawanan lap akhir itu menutup recovery enam posisi dari grid. Hasil tersebut sejalan dengan pola comeback yang sudah ia tunjukkan di putaran-putaran lain musim ini, meski kualifikasi Silverstone sempat sulit setelah kesalahan di lap cepat.
P9, poin, dan janji kerja keras pasca GP Inggris
Di lap terakhir Veda mencoba mengatur pace, tetapi kembali salah dan kehilangan sedikit posisi. “Saya mencoba mengatur lap terakhir, tetapi saya kembali melakukan kesalahan dan kehilangan sedikit,” ucap Veda. “Pada akhirnya, saya finis di posisi P9 dan mengamankan beberapa poin penting. Saya senang karena poin-poin ini penting, tetapi yang lebih penting, saya belajar banyak dari balapan ini,” katanya.
Framing itu menjadi intinya: tujuh poin berguna, tetapi pembelajaran di grup kedua dan jujur mengakui error dianggap lebih primer. “Sekarang waktunya untuk bekerja, terus berkembang, dan kembali dengan lebih kuat,” kata Veda. Dalam rangkuman Optimaise News, pernyataan itu menutup siklus setup bagus, putus kontak, error kejar, error lap penutup, lalu tekad recovery.
Konteks paruh musim memperkuat kenapa P9 tetap bernilai. Sebelum Inggris ia sudah mengoleksi podium di Brasil dan podium basah di Le Mans (setelah penalti rival), P5 di Brno dengan best race lap, rekor top speed 222,2 km/jam di Jerez, serta finis solid di beberapa ronde lain. Posisi klasemen sudah P6 dengan 90 poin menjelang Silverstone; tambahan tujuh poin membawa total 97 dari 12 start dan dua podium musim 2026. Konsistensi top 10, termasuk di lintasan yang kerap membandingkan ritme seperti veda ega pratama moto3 spanyol atau babak basah ala veda ega pratama moto3 prancis, menjadi modal menjelang paruh kedua.
Almansa juara dan dampak kecil pada posisi Veda di klasemen
David Almansa merebut pimpinan sejak start dan menang usai duel ketat hingga putaran penutup. Di lap akhir Alvaro Carpe sempat melebar dan Brian Uriarte terjatuh di grup depan; Almansa mempertahankan P1 dengan keunggulan 0,701 detik. Kemenangan itu menjadi kemenangan keduanya di Moto3 2026. Carpe finis kedua, Valentin Perrone ketiga, disusul Adrian Fernandez, Joel Esteban, Joel Kelso, Rico Salmela, dan Eddie O’Shea; Veda P9 dan Bertelle P10.
Klasemen usai GP Inggris: Máximo Quiles 231 (meski absen di Silverstone), Álvaro Carpe 146, David Almansa 134, Brian Uriarte 127, Marco Morelli 115, Veda Ega Pratama 97. Hakim Danish turun ke P8 setelah crash. Selisih Veda ke P5 Morelli 18 poin. Seri berikutnya di MotorLand Aragon, 28-30 Agustus 2026. Bagi pembaca yang mengikuti veda ega pratama moto3 italia atau putaran Amerika di kalender, angka P6 dengan 97 poin menempatkan rookie Indonesia sebagai satu-satunya rider Honda di sepuluh besar klasemen, dengan target realistis menekan lima besar jika kualifikasi dan finis bisa ditingkatkan berbarengan.







