Jakarta, Optimaise News – Hitomi Soga, warga Jepang berusia 19 tahun, diculik dari Pulau Sado pada 1978 oleh agen yang dikaitkan dengan Korea Utara. Ia ditahan 24 tahun, dipaksa menikahi desertir tentara AS Charles Jenkins, lalu akhirnya bertemu keluarga lewat jalur diplomasi di Jakarta Juli 2004.
Inti artikel
- Hitomi Soga, warga Jepang berusia 19 tahun, diculik dari Pulau Sado pada 1978 oleh agen yang dikaitkan dengan Korea Utara
- Indonesia saat itu tidak punya perjanjian ekstradisi dengan AS, sehingga pertemuan aman berlangsung sekitar sebulan
- Malam Agustus di Pulau Sado, Hitomi berjalan pulang bersama ibunya Miyoshi setelah belanja
Menurut rangkuman Optimaise News dari kisah yang kembali ramai, repatriasi itu melibatkan kesepakatan Pyongyang-Tokyo dengan fasilitas pemerintah Indonesia. Indonesia saat itu tidak punya perjanjian ekstradisi dengan AS, sehingga pertemuan aman berlangsung sekitar sebulan.
Asal mula penculikan Hitomi dari Pulau Sado
Malam Agustus di Pulau Sado, Hitomi berjalan pulang bersama ibunya Miyoshi setelah belanja. Tiga laki-laki muncul dari belakang, menaruh sesuatu ke mulut mereka dan menutup kepala dengan semacam tas.
Hitomi mengingat pemindahan samar dari pantai ke perahu cepat, lalu kapal lebih besar. Ia tak sempat bertukar kata terakhir dengan ibunya, sosok yang digambarkannya murah hati, cerdas, dan hangat.
Saat mata dibuka, ia sadar: itu bukan Jepang. Ia termasuk gelombang penculikan warga Jepang 1970-an, 1980-an yang menurut Tokyo sedikitnya 17 orang antara 1977 dan 1983, kemungkinan lebih banyak.
Dua tahun di barak militer Korut sebelum paksa nikah Charles

Dua tahun pertama Hitomi ditahan di barak militer tanpa kabar ibunya. Ia tidak bertanya alasan penculikan karena yakin tak akan diberi jawaban jujur.
Pada 1980 ia diperintahkan menikahi pria yang belum pernah ditemui: Charles Jenkins, sersan AS yang membelot ke Korea Utara tahun 1965 lewat Zona Demiliterisasi. Jenkins khawatir dikirim ke Vietnam, lalu menyerah ke tentara Korut dengan harapan dikembalikan ke AS.
Joining pasangan dari dua musuh rezim, Jepang dan AS, dinilai sebagai alat propaganda. Hitomi ingat pertemuan pertama yang basah oleh hujan, penuh cemas. Meski tanpa pilihan, ia kemudian menyayangi Charles. Mereka punya dua putri; Jenkins membuat mainan dan perabot. Saat paling bahagia bagi Hitomi adalah kelahiran anak-anak.
Kehidupan sehari-hari ketat diawasi. Tidak ada konser atau bioskop. Hitomi menanam sayuran agar sibuk. Harapan tetap ada: suatu hari semua akan berakhir.
Propaganda Kim Jong-il akui 13 warga Jepang diculik
Tahun 2002, dalam pertemuan puncak Jepang, Korut, pemimpin saat itu Kim Jong-il mengakui penculikan 13 dari 17 warga Jepang. Rezim mengklaim hanya lima yang masih hidup. Status Miyoshi, ibu Hitomi, tidak dikonfirmasi.
Hitomi diizinkan pulang singkat ke Jepang. Ia berharap bertemu keluarga dan mungkin ibunya. Pertemuan dengan ayah dan saudara perempuan penuh tangisan setelah lebih dari dua dekade tanpa kepastian.
Ia memutuskan tinggal di Jepang. Suami dan putri masih di Pyongyang. Butuh dua tahun lagi sebelum reunifikasi total.
Repatriasi keluarga Hitomi melalui pertemuan Jakarta 2004
Jenkins khawatir jika langsung ke Jepang ia akan ditangkap militer AS. Awal Juli 2004, Korut dan Jepang sepakat pertemuan di Jakarta, disepakati juga pemerintah Indonesia. Menlu Hassan Wirajuda kala itu menegaskan fleksibilitas masa tinggal satu bulan atau lebih.
Pada 9 Juli 2004 keluarga tiba di Bandara Soekarno-Hatta, disambut bunga, pengawalan polisi, dan hotel bintang lima. Presiden Megawati Soekarnoputri menerima mereka di hadapan media dan menyampaikan harapan agar kesehatan Jenkins membaik; ia berjalan dengan tongkat.
Pada 20 Juli mereka terbang ke Jepang. Setelah negosiasi, Jenkins menjalani hukuman 25 hari karena mengaku desersi dan membantu musuh. Keluarga lalu menetap permanen di Pulau Sado. Putri Hitomi yang belum pernah ke sana jatuh cinta pada kampung halaman ibunya.
Dalam konteks pencarian “korea utara” hari ini, kisah ini memberi sudut lain di luar klaim militer terkini. Beberapa laporan menyebut presidén korea utara dan aliansi dengan Rusia, termasuk angka tentara yang disebut Zelensky hingga 50 ribu. Itu peristiwa terpisah; artikel ini tetap berfokus pada nasib Hitomi.
Kampanye Hitomi mencari ibunya Miyoshi yang hilang
Charles Jenkins meninggal di Jepang tahun 2017. Hitomi terus berkampanye memulangkan korban penculikan yang masih di Korea Utara. Setiap hari, ujarnya, berarti bagi orang yang terjebak di sana.
Fokus utamanya tetap Miyoshi. Hitomi berharap tekadnya menginspirasi ibunya jika masih hidup. Ia membayangkan ibu bilang: jika anaknya berjuang dan tidak menyerah, ia pun akan melakukan hal yang sama.
Optimaise News mencatat dari sumber yang dihimpun, peran RI 2004 jadi jembatan diplomatik langka: non-ekstradisi dengan AS membuat reunifikasi aman, lalu rute ke Jepang terbuka.







