Malang, Optimaise News – Harga daging sapi di pasar tradisional Kota Malang kini menembus Rp160 ribu per kilogram. Kenaikan itu terasa di kawasan Klojen dan beberapa titik lain setelah pasokan ternak lokal menipis pasca Idul Adha.
Inti artikel
- Harga daging sapi di pasar tradisional Kota Malang kini menembus Rp160 ribu per kilogram
- Kenaikan itu terasa di kawasan Klojen dan beberapa titik lain setelah pasokan ternak lokal menipis pasca Idul Adha
- Plt Perumda Tunas Kota Malang yang merangkap Kepala Dispangtan, Slamet Husnan, menegaskan ketersediaan sapi dalam negeri masih terbatas
Plt Perumda Tunas Kota Malang yang merangkap Kepala Dispangtan, Slamet Husnan, menegaskan ketersediaan sapi dalam negeri masih terbatas. Aktivitas sekolah, kuliah, serta dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kembali aktif mempercepat lonjakan permintaan.
Mengapa Pedagang UMKM Merasakan Tekanan Lebih Cepat
Pelaku usaha mikro di Malang mengandalkan stok harian dari pasar tradisional. Ketika harga naik, margin mereka langsung tergerus karena menu berbahan daging sulit diganti tanpa kehilangan pelanggan.
Pasar Bunul sempat mencatat kisaran Rp148 ribu per kilogram sebelum lonjakan. Di Klojen angka sudah mencapai Rp160 ribu. Kawasan Oro-Oro Dowo dan Klojen memang cenderung lebih mahal dibanding pasar lain di kota yang sama.
Faktor lain datang dari harga ternak impor yang relatif tinggi. Pedagang kecil jarang punya akses ke rantai pasok besar sehingga terpaksa menyesuaikan harga jual ke konsumen akhir.
Tabel Perbandingan Harga di Beberapa Pasar Malang
| Lokasi Pasar | Harga per Kilogram | Catatan |
|---|---|---|
| Pasar Bunul | Rp148 ribu | Sebelum lonjakan terbaru |
| Pasar Klojen | Rp160 ribu | Tertinggi yang tercatat |
| Oro-Oro Dowo | Lebih tinggi dari rata-rata | Karakteristik pasar padat |
| Pasar tradisional lain | Mendekati Rp150-160 ribu | Tergantung stok harian |
Data di atas merangkum kondisi terkini di lapangan. Perbedaan antar pasar terjadi karena volume transaksi dan jarak ke sumber ternak berbeda-beda.
Penjelasan Resmi Soal Stok Lokal yang Belum Pulih
Slamet Husnan menjelaskan, “Sekarang memang sapi lokal ketersediaannya kurang. Kemudian aktivitas sekolah, kuliah mulai berjalan, termasuk dapur SPPG juga berjalan.”
Pasokan banyak terserap selama masa Idul Adha. Peternak butuh waktu untuk memulihkan populasi. Sementara itu permintaan dari kantin sekolah dan dapur gizi terus meningkat.
Optimaise News mencatat bahwa kombinasi stok terbatas dan harga impor mahal menjadi penentu utama di pasaran. Pedagang UMKM disarankan menyesuaikan porsi menu atau mencari pemasok alternatif dalam jangka pendek.
Dampak Langsung bagi Konsumen dan Warung Kecil
Keluarga dan pemilik warung merasa belanja mingguan semakin berat. Banyak yang mulai mengurangi frekuensi memasak daging merah atau mengganti dengan protein lain meski selera tetap pada sapi.
Bagi UMKM katering, biaya bahan baku naik langsung memengaruhi penawaran paket. Beberapa memilih menaikkan harga jual secara bertahap agar tidak kehilangan pelanggan tetap.
Kondisi ini diperkirakan bertahan hingga pasokan lokal kembali stabil. Monitoring harian di pasar tradisional tetap diperlukan agar keputusan usaha lebih akurat.





