Medan, Optimaise News – Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN Thomas Djamaluddin menegaskan bahwa puncak hujan meteor Perseid tiba dini hari Kamis 13 Agustus 2026 bertepatan fase bulan baru. Langit malam yang lebih gelap menciptakan kondisi optimal bagi pengamat di seluruh wilayah Indonesia.
Inti artikel
- Langit malam yang lebih gelap menciptakan kondisi optimal bagi pengamat di seluruh wilayah Indonesia
- Di kondisi ideal, rata-rata satu sampai dua meteor terlihat setiap menit atau setara 50 hingga 100 meteor per jam
- Intensitas tergolong kuat sehingga menarik minat para penggemar astronomi, kata pihak BRIN
Di kondisi ideal, rata-rata satu sampai dua meteor terlihat setiap menit atau setara 50 hingga 100 meteor per jam. Intensitas tergolong kuat sehingga menarik minat para penggemar astronomi, kata pihak BRIN.
Puncak Hujan Meteor Perseid Agustus 2026 di Fase Bulan Baru
Fase bulan baru pada 13 Agustus 2026 membuat polusi cahaya bulan nyaris hilang. Pengamat di luar kota atau daerah terbuka akan merasakan manfaat terbesar dari kegelapan tersebut. Optimaise News mencatat bahwa waktu terbaik pengamatan jatuh tepat di dini hari tanggal tersebut.
Partikel debu dari komet 109P/Swift-Tuttle memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 59 kilometer per detik. Gesekan dengan lapisan udara menghasilkan kilatan terang yang mudah dikenali bahkan dari kota kecil. Arah dan jadwal kemunculan tetap berulang setiap tahun, sehingga prediksi lokasi mudah dilakukan.
Kombinasi intensitas tinggi dan langit gelap jarang terjadi bersamaan. Itulah alasan BRIN menilai peristiwa ini layak diantisipasi para pecinta astronomi amatir maupun profesional.
Mengenal Peristiwa Hujan Meteor Perseid dari Debu Komet

Peristiwa hujan meteor ini berasal dari sisa material komet 109P/Swift-Tuttle. Bumi melintasi aliran debu tersebut setahun sekali sehingga hujan meteor Perseid selalu hadir di bulan Agustus. Jejak orbit yang stabil membuat frekuensi dan arah radiasi dapat diperkirakan dengan akurat.
Prof Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa arah datang meteor selalu konsisten. Pengamat cukup mengarahkan pandangan ke timur laut untuk menangkap radiasi utama. Tidak ada peralatan khusus yang wajib dibawa karena medan pandang luas lebih penting daripada pembesaran optik.
Mata telanjang justru direkomendasikan. Penggunaan teleskop atau binokular justru mempersempit cakupan langit dan mengurangi jumlah meteor yang terlihat dalam satu waktu. Posisi nyaman di bawah langit terbuka lebih krusial daripada gawai canggih.
Cara Menangkap Meteor Perseid Agustus tanpa Alat Optik

Pastikan arah timur laut bebas dari penghalang seperti gedung bertingkat atau deretan pohon tinggi. Cari lokasi di luar keramaian kota agar polusi cahaya minim. Mulai pengamatan sekitar pukul 01.00 hingga fajar, saat puncak aktivitas paling intens.
Siapkan tikar atau kursi lipat agar posisi reclining nyaman selama satu hingga dua jam. Matikan lampu senter atau gunakan filter merah agar mata tetap teradaptasi gelap. Catat frekuensi kilatan untuk membandingkan dengan prediksi 50-100 meteor per jam.
Optimaise News menekankan bahwa intensitas kuat versi BRIN memberi peluang besar melihat bola api lebih terang dari biasanya. Fenomena ini cocok bagi pemula karena tidak memerlukan pengetahuan teknis rumit, hanya kesabaran dan langit terbuka.







