Pengolahan Sampah di Kota Bandung Baru 30 Persen

Farhan akui pengolahan sampah Bandung baru 30% dari 1.800 ton harian. Sisa 500 ton, target 600 ton 2 bulan, 220 lokasi + 151 mesin RDF. Rantai hambatan RW-TPA.

Author Image

Robbi Cahya Yudha

Pengolahan Sampah di Kota Bandung Baru 30 Persen

– Walikota Bandung Muhammad Farhan mengakui pengolahan sampah kota baru mencapai 30 persen. Produksi harian warga kini sekitar 1.800 ton. Dari jumlah itu, sekitar 500 ton per hari belum dikelola optimal sehingga menumpuk di TPS dan ruas jalan.

Inti artikel

  • Walikota Bandung Muhammad Farhan mengakui pengolahan sampah kota baru mencapai 30 persen
  • Produksi harian warga kini sekitar 1.800 ton
  • Dari jumlah itu, sekitar 500 ton per hari belum dikelola optimal sehingga menumpuk di TPS dan ruas jalan

Rantai hambatan saling terkait menjelaskan angka rendah itu. Kapasitas RW mandiri masih di bawah 10 persen, kuota TPA Sarimukti menyusut, dan pengangkutan efektif hanya Senin-Kamis. Optimaise News memetakan arti praktis sisa 500 ton harian: risiko tumpukan menutup setengah jalan serta bau menyengat yang menjalar ratusan meter.

Capaian 30 Persen dan Volume Harian yang Membengkak

Volume sampah Bandung naik ke kisaran 1.800 ton setiap hari. Angka itu lebih tinggi dibanding periode sebelumnya yang sekitar 1.500 ton. Dengan capaian penanganan hanya 30 persen, sisa 500 ton menjadi beban nyata di lapangan.

Sisa volume kerap meluap di Tempat Penampungan Sementara. Di Jalan Makam Caringin, tumpukan bisa menutup setengah badan jalan dan mengganggu lalu lintas. Bau ratusan meter menjalar ke pemukiman sekitar sehingga warga mengeluh.

Pengolahan Sampah di Kota Bandung Baru 30 Persen menjadi cermin tantangan struktural yang belum teratasi. Warga merasakan langsung dampak lewat antrean truk dan tumpukan di pinggir jalan yang berulang.

Kuota TPA Sarimukti Menyusut hingga Antrean Pengangkut Membeludak

Kuota TPA Sarimukti Menyusut hingga Antrean Pengangkut Membeludak
Ilustrasi Kuota TPA Sarimukti Menyusut hingga Antrean Pengangkut Membeludak.

Pengurangan kuota di Tempat Pemrosesan Akhir Sarimukti memicu penumpukan ulang. Truk pengangkut harus antre lebih lama karena alokasi harian dipangkas. Sistem pengangkutan efektif hanya berjalan Senin sampai Kamis.

Akhir pekan sampah ditampung sementara di TPS. Kapasitas TPS terbatas sehingga tumpukan cepat meluap ke jalan umum. Rencana penutupan TPA pada akhir 2026 menambah tekanan agar solusi jangka pendek segera berjalan.

Farhan menekankan Pemkot berpacu dengan waktu. Tanpa penambahan kapasitas pengolahan lokal, antrean di gerbang TPA akan terus membeludak dan memperparah kondisi di hilir serta TPS-TPS kota.

Target 600 Ton Pengolahan dalam Dua Bulan ke Depan

Target 600 Ton Pengolahan dalam Dua Bulan ke Depan
Ilustrasi target 600 Ton Pengolahan dalam Dua Bulan ke Depan.

Pemkot Bandung menargetkan peningkatan kapasitas pengolahan hingga 600 ton per hari dalam dua bulan ke depan. Target itu dimaksudkan untuk menyerap sisa volume yang selama ini belum terkelola. Langkah konkret mencakup penyiapan fasilitas di berbagai titik kota.

Bantuan 151 mesin RDF dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi modal utama. Mesin tersebut mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif yang lebih bernilai. Usulan 50 titik tambahan dari TNI AD juga masuk perhitungan eksekusi segera.

Jika target tercapai, sisa 500 ton harian bisa berkurang signifikan. Warga diharapkan merasakan pengurangan tumpukan di TPS dan jalan dalam waktu relatif singkat tanpa menunggu penutupan TPA.

Jaringan Titik Pengolahan: 36 Kecamatan hingga 220 Lokasi Calon

Pemkot sudah memetakan 220 lokasi potensial untuk fasilitas pengolahan. Seluruh titik diverifikasi lapangan agar sesuai kebutuhan teknis dan akses angkut. Jaringan ini menjangkau 36 kecamatan di Kota Bandung secara merata.

Setiap lokasi memerlukan lahan minimal 100 meter persegi. Kesiapan lahan menjadi syarat mutlak sebelum mesin dipasang dan dioperasikan. Koordinasi dengan kecamatan serta kelurahan terus digalakkan agar proses tidak macet di birokrasi.

Dengan sebaran merata, beban ke TPA Sarimukti bisa dilonggarkan. Pengolahan di tingkat lokal juga memperpendek rantai angkut dan menekan biaya operasional harian Pemkot.

Hambatan Lahan dan Partisipasi Masyarakat yang Masih Minim

Hambatan lahan masih menjadi kendala utama di banyak titik. Tidak semua lokasi potensial langsung tersedia karena status kepemilikan atau penolakan warga setempat. Partisipasi masyarakat untuk mengelola sampah mandiri di tingkat RW juga masih minim.

Kurang dari 10 persen RW mampu mengelola sampah secara mandiri. Mayoritas masih bergantung penuh pada sistem pengangkutan kota. Tanpa peningkatan kesadaran dan fasilitas di tingkat RT RW, target 600 ton sulit dicapai secara penuh dan berkelanjutan.

Farhan mengajak warga aktif memilah sampah dari rumah. Langkah kecil itu membantu mengurangi volume yang masuk ke TPS dan memperingan beban pengolahan di hilir. Optimaise News menilai rantai hambatan dari RW, kuota TPA, hingga sisa volume harus diputus bersamaan agar capaian 30 persen tidak stagnan.

Tanya Jawab soal Capaian dan Target Sampah Bandung
Mengapa pengolahan sampah di Kota Bandung baru 30 persen?
Kapasitas RW mandiri di bawah 10 persen, kuota TPA Sarimukti menyusut, dan pengangkutan hanya efektif Senin-Kamis. Volume 1.800 ton harian meninggalkan sekitar 500 ton yang belum optimal sehingga menumpuk di TPS dan jalan.
Apa target Pemkot Bandung dalam dua bulan ke depan dan bagaimana caranya?
Peningkatan kapasitas pengolahan hingga 600 ton per hari. Caranya lewat 220 lokasi potensial yang sudah diverifikasi, bantuan 151 mesin RDF dari Pemprov Jabar, usulan 50 titik dari TNI AD, serta penyiapan lahan minimal 100 meter persegi per titik di 36 kecamatan.
Robbi Cahya Yudha
Head of Editorial

Robbi Cahya Yudha adalah Head of Editorial (kepala redaksi) Optimaise News. Latar SEO Specialist / digital marketing, termasuk pengalaman di KATADATA (Business dan Partnership). LinkedIn: https://id.linkedin.com/in/robbi-cahya-yudha-593a6b20b