Bank Mega Syariah membiayai pembelian 22,3 kilogram emas sepanjang Desember 2025 hingga Juni 2026. Volume fisik itu menjadi bukti nyata lonjakan minat masyarakat terhadap investasi logam mulia lewat skema pembiayaan syariah.
Nilai portofolio pembiayaan emas bank mencapai Rp42,6 miliar per Juni 2026, naik 1.715 persen dibanding posisi akhir 2025. Angka tersebut menyumbang ke total pembiayaan konsumer yang tercatat Rp601 miliar, tumbuh 17,7 persen secara tahunan.
Dari Nol ke Rp42,6 Miliar: Lonjakan Pembiayaan Emas Semester I 2026
Pergerakan portofolio emas Bank Mega Syariah dari basis yang sangat rendah di akhir 2025 ke Rp42,6 miliar hanya dalam enam bulan menandai pergeseran cepat. Kenaikan 1.715 persen year-to-date itu menempatkan produk emas sebagai salah satu pendorong utama di segmen konsumer.
Proporsi Rp42,6 miliar di dalam buku konsumer Rp601 miliar memberi gambaran skala. Emas belum mendominasi, namun laju pertumbuhannya jauh di atas rata-rata produk lain. Manajemen melihat momentum ini sebagai sinyal permintaan riil, bukan sekadar promosi musiman.
Benadicto Alvonzo Ferary, Digital Business and Product Management Division Head Bank Mega Syariah, menegaskan bahwa penguatan segmen konsumer menjadi prioritas. Ia menempatkan pembiayaan emas sebagai salah satu motor yang akan terus dioptimalkan.
22,3 Kilogram Logam Mulia yang Masuk Buku Bank Mega Syariah

Angka 22,3 kilogram bukan metafora. Itu adalah berat fisik logam mulia yang benar-benar dibiayai dan masuk catatan bank dalam periode Desember 2025, Juni 2026. Bagi nasabah, skema ini memungkinkan kepemilikan emas secara bertahap tanpa harus membayar lunas di muka.
Volume tersebut memberi dimensi konkret yang jarang ditonjolkan di laporan perbankan. Ketika dikaitkan dengan nilai Rp42,6 miliar, pembaca bisa membayangkan berapa banyak keping atau batangan yang berpindah lewat fasilitas syariah. Minat beli emas pakai pembiayaan bank terbukti bukan wacana, melainkan transaksi yang sudah berjalan.
Tiga Produk Unggulan yang Akan Didorong hingga Akhir Tahun
Hingga penutupan 2026, Bank Mega Syariah akan memusatkan tenaga pada tiga produk. Pertama, pembiayaan emas yang sudah menunjukkan traksi kuat. Kedua, pembiayaan tanpa agunan untuk kebutuhan konsumtif cepat. Ketiga, pembiayaan haji khusus yang menargetkan jemaah dengan perencanaan lebih fleksibel.
Ketiga opsi ini disusun sebagai peta penawaran yang mudah dibaca nasabah. Siapa yang ingin menabung dalam bentuk logam mulia bisa masuk lewat skema emas. Nasabah yang butuh dana tanpa jaminan properti diarahkan ke produk tanpa agunan. Sementara calon jemaah haji mendapat jalur khusus yang disesuaikan dengan kemampuan cicilan.
Pendekatan ini membedakan bank dari sekadar mengejar angka. Produk dipilih karena sudah terbukti ada permintaan dan selaras dengan prinsip syariah. Optimasi fitur, harga, dan proses pencairan menjadi fokus operasional di sisa tahun.
Kanal Digital dan Akuisisi Komunitas Jadi Mesin Pertumbuhan
Pertumbuhan cepat tidak hanya mengandalkan cabang. Bank Mega Syariah mempercepat kanal digital agar pengajuan pembiayaan emas, tanpa agunan, maupun haji khusus bisa dilakukan dari gawai. Proses yang lebih ringkas diharapkan menarik segmen usia produktif yang terbiasa bertransaksi daring.
Selain itu, akuisisi lewat komunitas dan ekosistem menjadi jalur tambahan. Kerja sama dengan kelompok pengajian, asosiasi profesional, atau platform digital memungkinkan bank menjangkau calon nasabah dalam jumlah besar sekaligus. Model ini menekan biaya akuisisi per orang sambil menjaga kualitas portofolio.
Kombinasi digital dan komunitas dinilai lebih berkelanjutan daripada mengandalkan promosi massal semata. Data perilaku dari kedua kanal juga dipakai untuk menyesuaikan penawaran produk di lapangan.
Pertumbuhan Cepat Tetap Diikat Prinsip Kehati-hatian
Lonjakan 1.715 persen di pembiayaan emas dan pertumbuhan 17,7 persen di konsumer tidak dilepas tanpa filter. Bank Mega Syariah menekankan pemantauan portofolio secara berkala dan disiplin collection sebagai jangkar. Setiap ekspansi produk diikuti pengetatan skor risiko dan penagihan yang terukur.
Prinsip kehati-hatian ini menjadi penyeimbang agar pertumbuhan tidak berujung pada lonjakan pembiayaan bermasalah. Manajemen mengklaim ekspansi tetap berjalan di dalam koridor manajemen risiko yang ketat. Bagi nasabah, sinyal tersebut penting: fasilitas yang ditawarkan tersedia, namun seleksi tetap diterapkan.
Dengan sintesis volume 22,3 kilogram, nilai Rp42,6 miliar, dan kontribusi ke buku konsumer Rp601 miliar, Bank Mega Syariah menempatkan diri di tengah gelombang minat emas syariah. Tiga produk unggulan, kanal digital, serta disiplin monitoring menjadi paket lengkap yang akan diuji hingga akhir 2026.







