Surakarta, Optimaise News – PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) menargetkan pertumbuhan pendapatan 8 persen pada 2026. Emiten tekstil ini menantang pola produksi massal lewat kustomisasi dan kain fungsional, sambil mengerek porsi ekspor dari basis 90 persen domestik ke target sekitar 10 persen.
Inti artikel
- PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) menargetkan pertumbuhan pendapatan 8 persen pada 2026
- Direktur Utama Karsongno Wongso Djaja menekankan inovasi berkelanjutan lewat Trisula Innovation Center (TIC)
- Empat online live trade show digelar untuk menjangkau buyer global
Direktur Utama Karsongno Wongso Djaja menekankan inovasi berkelanjutan lewat Trisula Innovation Center (TIC). Empat online live trade show digelar untuk menjangkau buyer global. Optimaise News merangkum peta dual-track di balik angka itu, lengkap dengan kapasitas produksi sebagai penopang.
Tiga Jalur Pertumbuhan di Balik Target 8%
BELL menyusun tiga jalur yang saling menopang. Jalur pertama memperdalam kustomisasi di pasar domestik agar lebih dekat kebutuhan klien. Jalur kedua memperluas ekspor lewat TIC dan trade show daring. Jalur ketiga menyasar pengadaan pemerintah untuk seragam korporasi serta produk jadi.
Sintesis tiga jalur ini membuat target 8 persen terasa terukur, bukan sekadar pengumuman. Bagi profil pendapatan emiten tekstil, pergeseran dari 90 persen domestik ke target ekspor 10 persen pada 2026 berarti diversifikasi yang mengurangi ketergantungan satu pasar. Langkah itu memberi buffer dan paparan valas potensial.
Checklist operasional pilar 2026 mencakup penguatan TIC, empat online live trade show, pengembangan kain fungsional, bidikan seragam instansi, serta penambahan kapasitas produksi. Kelima elemen ini menjadi ringkasan praktis yang pantas dipantau investor dan mitra rantai pasok.
Kustomisasi versus Produksi Massal: Apa yang Berbeda

Produksi massal mengutamakan volume seragam dan standar katalog. Sebaliknya, layanan kustomisasi BELL mencakup bahan baku, tekstur kain, warna, hingga karakteristik produk sesuai permintaan klien. Pendekatan ini menciptakan diferensiasi di tengah persaingan ketat industri tekstil nasional.
Kain fungsional yang dikembangkan meliputi yang ramah lingkungan, antibakteri, memiliki elastisitas tertentu, dan berbahan daur ulang. Produk semacam ini menjawab kebutuhan spesifik, misalnya seragam yang nyaman dipakai lama atau kain fashion berkelanjutan. Hasilnya, customer intimacy ikut terbangun karena penawaran lebih pas.
Dengan model itu BELL tidak lagi bersaing semata di harga volume. Inovasi produk menjadi senjata untuk mempertahankan margin dan loyalitas pembeli industri maupun korporasi.
TIC: dari Meja Desain sampai Trade Show Global

Trisula Innovation Center di Cimahi bukan sekadar laboratorium. TIC berfungsi sebagai jembatan penuh rantai nilai, mulai dari meja desain hingga strategi pemasaran global. Di sinilah kain diuji, disesuaikan, lalu dikemas untuk pasar internasional.
Empat online live trade show difasilitasi TIC agar BELL menjangkau buyer luar negeri tanpa batasan geografis. Format daring ini efisien untuk memperkenalkan kain fungsional dan layanan kustomisasi secara langsung ke calon mitra. Dimensi customer intimacy juga digarap lewat penyesuaian desain yang lebih akurat.
Peran ganda TIC sebagai pusat riset dan saluran pemasaran membuat ambisi ekspor lebih realistis. Pusat inovasi itu diharapkan mempererat hubungan pelanggan lewat produk yang benar-benar sesuai kebutuhan, bukan penawaran generik.
Porsi Ekspor 10% dan Peluang Seragam Instansi
Saat ini sekitar 90 persen pendapatan BELL masih berasal dari pasar domestik. Target menaikkan kontribusi ekspor ke sekitar 10 persen pada 2026 menuntut eksekusi konsisten di jalur internasional. BELL Targetkan Pertumbuhan Pendapatan 8% di 2026 justru bersandar pada pergeseran porsi itu.
Selain trade show, perseroan membidik pengadaan pemerintah. Fokus utamanya seragam korporasi dan produk jadi. Pabrik garmen di Solo dioptimalkan untuk mendukung volume pesanan tersebut agar lead time tetap terjaga.
Konteks bagi pembaca: porsi 10 persen ekspor meski masih minor memberikan buffer pendapatan. Profil emiten tekstil di 2026 menjadi sedikit lebih seimbang antara domestik dan luar negeri, mengurangi risiko konsentrasi pasar tunggal.
Kapasitas Produksi sebagai Penopang Momentum
Peningkatan kapasitas produksi disebut sebagai penopang momentum di tengah persaingan tekstil yang ketat. Tanpa kapasitas memadai, pesanan kustomisasi maupun ekspor bisa terhambat meski inovasi sudah siap.
Optimasi pabrik, termasuk fasilitas di Solo, memastikan BELL siap memenuhi demand yang naik seiring ekspansi. Langkah ini melengkapi inovasi produk agar pertumbuhan 8 persen tercapai secara berkelanjutan, bukan hanya di atas kertas.
Dengan kapasitas yang diperkuat, ketiga jalur pertumbuhan bisa berjalan paralel tanpa bottleneck operasional. Hal ini membedakan BELL dari pemain yang hanya mengandalkan volume massal tanpa ruang untuk kustomisasi cepat.
Tanya Jawab Target BELL 2026
Apa strategi utama BELL untuk mencapai pertumbuhan 8 persen di 2026?
Strategi utama meliputi inovasi produk, layanan kustomisasi, dan perluasan ekspor. Kain fungsional, empat online live trade show lewat TIC, serta bidikan seragam instansi menjadi andalan operasional.
Bagaimana TIC mendukung target porsi ekspor sekitar 10 persen?
TIC menghubungkan desain hingga pemasaran, memfasilitasi empat online live trade show, dan membangun kedekatan pelanggan lewat kustomisasi. Pusat ini menopang pergeseran dari basis 90 persen domestik ke profil pendapatan yang lebih seimbang.







