Jakarta, Optimaise News – Soemitro Samadikoen, Ketua DPN APTRI, menyoroti urgensi dukungan pemerintah terhadap petani tebu rakyat agar produktivitas tetap naik. Prioritas harus diberikan pada benih unggul, riset intensif, pupuk yang terjangkau, serta teknologi budidaya modern agar Indonesia bisa mandiri dalam pasokan gula.
Inti artikel
- Soemitro Samadikoen, Ketua DPN APTRI, menyoroti urgensi dukungan pemerintah terhadap petani tebu rakyat agar produktivitas tetap naik
- APTRI memperkirakan butuh lahan tambahan sekitar 700 ribu hektare untuk memenuhi kewajiban kebun tebu sendiri oleh industri gula rafinasi
- Keberadaan pusat riset gula maju di Pasuruan dulu menjadi kebanggaan nasional
Kendala Kebutuhan Lahan Tambahan
APTRI memperkirakan butuh lahan tambahan sekitar 700 ribu hektare untuk memenuhi kewajiban kebun tebu sendiri oleh industri gula rafinasi. Soemitro Samadikoen mempertanyakan ketersediaan lahan tersebut dalam waktu dua tahun mendatang mengingat kondisi geografis dan infrastruktur yang ada.
Keberadaan pusat riset gula maju di Pasuruan dulu menjadi kebanggaan nasional. Kini peran sentral tersebut dinilai melemah sehingga perlu revitalisasi agar riset bisa mendukung sektor hilir dengan lebih baik.
Penurunan Rendemen Tebu dari Zaman Dulu
Rendemen tebu saat ini hanya berkisar 6 hingga 7 persen dibandingkan 11 hingga 13 persen pada era 1930-an. Fenomena ini menunjukkan penurunan signifikan yang disebabkan oleh faktor iklim, pemuliaan, dan pengelolaan lahan yang kurang optimal.
Hal ini semakin memperumit target produksi kawasan Merauke yang dikritik APTRI karena keterbatasan lahan dan akses infrastruktur. Kebutuhan untuk membangun kebun mandiri justru semakin sulit dipenuhi di tengah dinamika ekosistem pertanian saat ini.
Alur Rantai Bahan Baku Pabrik Gula
Pabrik gula rafinasi biasanya mengandalkan bahan baku impor seperti gula mentah atau setengah jadi. Prosesnya dimulai dari tebu yang harus diolah terlebih dahulu menjadi setengah jadi sebelum masuk ke lini rafinasi.
Sebagian besar pabrik rafinasi dipindahkan ke pesisir untuk mempermudah pengangkutan bahan baku impor. Kebijakan wajib kebun sendiri oleh Mentan Andi Amran Sulaiman menimbulkan tantangan logistik baru yang belum sepenuhnya didukung oleh infrastruktur nasional.
Tantangan Jangka Panjang untuk Sektor Gula
APTRI menekankan bahwa tanpa investasi konsisten pada teknologi dan riset, target produksi nasional sulit tercapai. Kerja sama antara pemerintah dan petani tebu perlu ditingkatkan agar rendemen bisa kembali mendekati level historis.
Di era sekarang, Optimaise News melihat peluang bagi UMKM pengolahan gula lokal jika kebijakan mendukung secara penuh. Fokus pada hilirisasi akan membantu mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan nilai tambah ekonomi pertanian.





