Jakarta, Optimaise News – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mematok pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 di 4,80% year on year, rentang 4,78, 4,82%. Angka itu di bawah 5% dan lebih lemah dari realisasi 5,61% di kuartal I serta basis 5,12% pada triwulan II 2025.
Inti artikel
- Angka itu di bawah 5% dan lebih lemah dari realisasi 5,61% di kuartal I serta basis 5,12% pada triwulan II 2025
- Hari ini, Rabu 5 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB, Badan Pusat Statistik dijadwalkan merilis angka resmi
- Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menegaskan proyeksi di bawah 5% untuk triwulan kedua
Hari ini, Rabu 5 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB, Badan Pusat Statistik dijadwalkan merilis angka resmi. Optimaise News merangkum prediksi LPEM, sinyal daya beli, belanja negara, defisit dagang, dan optimisme KSSK agar pembaca melihat satu potret utuh sebelum data BPS keluar.
Angka resmi prediksi LPEM: 4,80% Q2 dan 5,00% sepanjang 2026
Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menegaskan proyeksi di bawah 5% untuk triwulan kedua. “Meskipun angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 masih menimbulkan sejumlah pertanyaan, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 akan berada di bawah 5%,” ujarnya dalam publikasi lembaga, dikutip Selasa 4 Agustus 2026.
Akumulasi setahun 2026 diperkirakan sekitar 5,00% yoy (kisaran 4,95, 5,05%). Tiga penekan utama: high base effect dari 5,12% yoy triwulan II 2025, hilangnya dorongan konsumsi Ramadan dan Idulfitri yang sudah lewat di kuartal I, serta tekanan harga energi global dan pelemahan rupiah yang memicu inflasi impor dan menaikkan biaya produksi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengamini perlambatan. Ia menilai estimasi empat lembaga di bawah 5,6% (capaian kuartal I), tapi “mungkin gak jauh dari 5,4% juga” sehingga melambat tapi tidak parah. Bank Danamon sebelumnya mematok sekitar 5,18% yoy, lebih tinggi dari LPEM namun tetap di bawah kuartal sebelumnya.
Runtuhnya keyakinan konsumen dan lonjakan inflasi pangan
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) merosot beruntun: 123,0 di April, 120,9 di Mei, 117,8 di Juni. Rata-rata kuartal II 120,6, turun 4,4 poin dari 125,0 di kuartal I. Bagi rumah tangga, angka itu berarti mood belanja lebih hati-hati, padahal konsumsi rumah tangga biasanya menyumbang sekitar 54% pembentukan PDB.
Inflasi umum naik dari 2,42% yoy (April) ke 3,08% (Mei) lalu 3,34% (Juni). Pangan bergejolak sempat 6,24% yoy di Mei sebelum melandai ke 5,58% di Juni. Kenaikan harga BBM Pertamax dinilai merembet ke tarif transportasi dan harga barang, sehingga menekan daya beli di tengah imported inflation.
Core Indonesia memperkirakan laju 4,8, 4,9%. Indikasi lesunya konsumsi juga muncul dari indeks penjualan riil yang kontraksi rata-rata sekitar 4% yoy April, Juni, serta kredit konsumsi Juni yang tumbuh lebih lambat dibanding kredit investasi. Artinya, pemulihan permintaan domestik masih bertahap dan belum merata.
Belanja negara melambat tapi program MBG dongkrak belanja barang 90%
Pertumbuhan belanja pemerintah melambat tajam dari 31,4% yoy di triwulan I menjadi 7,04% yoy di triwulan II, realisasi Rp841,0 triliun. Penerimaan negara justru Rp884,5 triliun (naik 29,81% yoy), sehingga anggaran mencatat surplus sekitar Rp43,5 triliun. Pola ini beda dari defisit dagang yang dibahas di bawah: kas negara surplus, tapi neraca luar negeri tertekan migas.
Lonjakan belanja barang 90,38% yoy mengerek porsi dari 13,91% (kuartal II 2025) menjadi 22,71% (kuartal II 2026), didorong penyaluran Makan Bergizi Gratis. Rincian pos lain menunjukkan prioritas yang tidak merata.
| Pos belanja | Perubahan yoy Q2 2026 |
|---|---|
| Belanja barang (termasuk MBG) | +90,38% |
| Belanja pegawai | +27,33% |
| Belanja modal | +5,56% |
| Bantuan sosial | +4,35% |
| Subsidi dan kompensasi | −11,40% |
| Total belanja (realisasi) | Rp841,0 triliun (+7,04% yoy) |
| Penerimaan negara | Rp884,5 triliun (+29,81% yoy) |
Bagi konsumen, MBG mengerek belanja barang negara, sementara kontraksi subsidi-kompensasi dan IKK yang turun tetap menjadi sinyal bahwa tekanan harga harian belum lenyap.
Defisit perdagangan Mei 1,6 miliar dolar AS dari impor migas
Neraca perdagangan Mei 2026 berbalik defisit 1,6 miliar dolar AS setelah surplus tipis 0,09 miliar dolar AS di April. Impor migas melampaui 20 miliar dolar AS per bulan di April dan Mei. Ekspor total turun dari 25,3 miliar menjadi 23,2 miliar dolar AS.
Tekanan eksternal yang disebut Menkeu, termasuk harga minyak dunia, eskalasi geopolitik Timur Tengah, dan arus modal keluar, selaras dengan defisit itu. Kontrasnya jelas: anggaran negara surplus Rp43,5 triliun, tapi defisit dagang migas membebani sektor luar negeri dan menambah biaya produksi yang berujung ke harga di pasar domestik.
Investasi Rp511,8 triliun masih jadi penopang di tengah optimisme KSSK
Realisasi investasi kuartal II 2026 mencapai Rp511,8 triliun, setara 25,1% target tahunan Rp2.041,3 triliun, tumbuh 7,1% yoy dengan porsi PMDN dan PMA relatif seimbang. Di sisi lain, Komite Stabilitas Sistem Keuangan lewat Menkeu Purbaya memproyeksikan pertumbuhan full year 2026 di kisaran 5,6, 6% yoy berkat sinergi Kemenkeu, OJK, BI, dan LPS.
“Ke depan, sinergi kebijakan antara lembaga anggota KSSK akan terus diperkuat guna menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan. Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 5,6-6 persen year on year,” ujar Purbaya dalam konferensi pers hasil rapat KSSK di Jakarta, Senin 3 Agustus 2026.
Purbaya menempatkan daya beli, peran APBN sebagai shock absorber, investasi proyek prioritas, serta konsumsi pemerintah (gaji ke-13 ASN dan bansos) sebagai penopang. Catatan Optimaise News menunjukkan gap antara prediksi LPEM untuk Q2 dan target KSSK setahun akan diuji oleh rilis BPS hari ini: apakah perlambatan hanya normalisasi pasca-Lebaran atau sinyal yang lebih keras bagi konsumen dan UMKM.







