Jakarta, Optimaise News – Investasi saham menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk mengamankan masa depan, terutama di tengah pertumbuhan ekonomi yang terus bergerak maju. Pada 4 Agustus 2026, saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mengalami penurunan tajam 14,78 persen hingga menyentuh level Rp865 yang langsung mentok auto reject. Perdagangan berlangsung aktif dengan total 153,54 juta saham dilepas-lihatkan sebanyak 18.159 kali dan bernilai Rp151,31 miliar, diikuti antrean jual yang membengkak hingga 729.286 lot di bawah harga Rp865.
Inti artikel
- Saham BACH baru saja didaftarkan di BEI pada 8 Juli 2026 melalui penawaran umum perdana dengan harga awal Rp442
- Dari harga tersebut, saham sempat melonjak kuat hingga naik 129 persen dan menyentuh rekor tertinggi Rp1.080
- Pergerakan ini menandakan potensi yang cukup menarik meski kemudian mengalami koreksi tajam
Berita ini memberikan gambaran jelas tentang volatilitas pasar saham di Indonesia, di mana faktor makro seperti sektor telekomunikasi turut berperan besar dalam menentukan arah harga. Para analis memandang dinamika ini sebagai sinyal penting untuk investor ritel yang ingin memahami peluang dan risiko investasi jangka panjang.
Sejarah Singkat IPO BACH di Bursa Efek Indonesia
Saham BACH baru saja didaftarkan di BEI pada 8 Juli 2026 melalui penawaran umum perdana dengan harga awal Rp442. Dari harga tersebut, saham sempat melonjak kuat hingga naik 129 persen dan menyentuh rekor tertinggi Rp1.080. Pergerakan ini menandakan potensi yang cukup menarik meski kemudian mengalami koreksi tajam.
Pandangan Para Ahli tentang Potensi Sektor Telekomunikasi
Dipo Satria Ramli dari CORE Indonesia menyebut peluang pertumbuhan di sektor telekomunikasi masih besar dalam tiga hingga lima tahun mendatang, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia. Sementara itu Ian Yosef M. Edward dari ITB menekankan bahwa prioritas utama adalah ketersediaan sistem daya listrik yang andal serta keandalan infrastruktur BTS untuk mendukung koneksi nasional.
Influence Grup Djarum terhadap Minat Investor
Fauzan Luthsa dari Menteng Kleb mengungkap bahwa masuknya Grup Djarum melalui PT Global Teknologi Perkasa (GTP) ini semakin meningkatkan perhatian investor terhadap saham BACH. BACH saat ini mengelola sekitar 41.000 site telekomunikasi yang menjadi bagian dari ekosistem infrastruktur telekomunikasi Grup Djarum. Pendapatan BACH tahun 2025 mencapai Rp1,73 triliun dan meningkat hampir 40 persen dibanding tahun sebelumnya.
Analisis Dampak bagi Investor Retail dan UMKM
Bagi pelaku usaha kecil menengah, pergerakan saham BACH bisa menjadi acuan dalam memilih diversifikasi investasi yang bijak. Volatilitas harga yang tinggi ini mengingatkan pentingnya pemahaman mendalam tentang tren makro seperti pertumbuhan telekomunikasi nasional. Optimaise News mencatat bahwa sentimen positif dari sisi bisnis grup ini tetap menjadi daya tarik jangka panjang meski ada koreksi sementara.






