Lebih dari 4.200 pemukim Israel dan anggota kelompok sayap kanan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Kamis 24 Juli 2026. Otoritas Palestina mencatat tepat 4.288 orang hingga siang hari.
Jumlah itu diproyeksikan mencapai sekitar 5.000 dan melampaui rekor peringatan Tisha B’Av sebelumnya. Aksi ini diperparah pembatasan ekstrem akses jemaah Palestina sejak salat Subuh serta kehadiran Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir yang menjadi penanda eskalasi resmi.
Jumlah Masuk Diproyeksikan Lampaui 5.000 Orang
Otoritas Palestina mengonfirmasi 4.288 warga Israel sudah masuk hingga siang. Proyeksi total sekitar 5.000 orang menjadikannya salah satu aksi terbesar sepanjang tahun ini di luar angka harian biasa.
Lonjakan itu mencerminkan tren peningkatan dibanding catatan Tisha B’Av tahun-tahun sebelumnya. Peringatan hari berkabung Yahudi atas kehancuran dua Bait Suci kuno ini kini jadi momentum masuk massal yang kian terstruktur.
Data lapangan menunjukkan gelombang pemukim terus mengalir sepanjang hari. Hal ini menguatkan indikasi eskalasi yang bukan sekadar insiden sporadis.
Ben-Gvir Masuk di Bawah Pengawalan Ketat Polisi

Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir ikut memasuki kompleks di bawah pengawalan ketat polisi. Kehadirannya menandai dukungan resmi dari pejabat tinggi terhadap aksi tersebut.
Pasukan Israel memperketat penjagaan di seluruh pintu masuk. Langkah ini memfasilitasi aliran pemukim sambil menekan akses pihak lain.
Kehadiran menteri sayap kanan itu langsung memicu kecaman luas. Ia menjadi simbol penanda bahwa aksi tak lagi terbatas pada aktivis akar rumput.
Akses Jemaah Palestina Dibatasi Sejak Salat Subuh

Sejak dini hari aparat membatasi keras akses warga Palestina. Hanya sedikit jemaah berhasil melaksanakan salat Subuh di dalam kompleks.
Laporan Anadolu mencatat aparat kemudian menyerang sejumlah jemaah yang sudah berada di lokasi. Serangan itu terjadi segera setelah ibadah berakhir dan jarang digarisbawahi di banyak pemberitaan awal.
Penjagaan diperketat di pos-pos Kota Tua dan sekitar Qalandiya. Langkah ini memutus aliran jemaah Muslim secara sistematis sejak pagi buta.
Ritual Talmud Dilakukan di Dalam Kompleks
Pemukim yang sudah masuk melakukan ritual menurut Talmud di area dalam kompleks. Mereka bersujud, melantunkan doa, dan bernyanyi keras di kawasan yang sensitif.
Praktik itu berlangsung di hadapan pasukan yang mengawal. Aktivitas ibadah non-Muslim ini melanggar pemahaman status quo lama yang berlaku di lokasi suci.
Suara nyanyian dan doa terdengar jelas di sekitar Kubah Batu. Momen itu menambah ketegangan di tengah pembatasan terhadap jemaah Palestina.
Kegubernuran Yerusalem Desak Intervensi Internasional
Kegubernuran Yerusalem mengecam masuknya Ben-Gvir sebagai eskalasi berbahaya. Mereka menegaskan kompleks sepenuhnya diperuntukkan bagi ibadah umat Islam dan menuntut aksi internasional segera.
Pernyataan itu menekankan pelanggaran status historis-hukum yang diatur sejak 1967. Pendudukan Yerusalem Timur dan aneksasi sepihak 1980 tidak diakui masyarakat internasional sehingga aksi sepihak memperburuk situasi.
Bagi pembaca di Indonesia, status historis-hukum Al-Aqsa berarti lokasi ini khusus untuk salat Muslim sementara kunjungan non-Muslim dibatasi ketat tanpa ritual. Eskalasi seperti ini berisiko memicu spiral kekerasan lebih luas karena mengikis kesepakatan yang menjaga keseimbangan rapuh.
Optimaise News merangkai kronologi utuh dari pembatasan Subuh, serangan jemaah, masuk massal 4.288 orang, ritual, hingga desakan intervensi. Sintesis ini memperlihatkan pola eskalasi terencana, bukan peristiwa terpisah, dan menempatkan aksi sebagai salah satu yang terbesar tahun ini di luar hitungan harian mentah.







