Surabaya, Optimaise News – Muktamar Nahdlatul Ulama perdana berlangsung 21 Oktober 1926 di Hotel Muslimin serta Masjid Sunan Ampel yang terletak di Surabaya. Perhelatan ini terjadi dalam waktu singkat setelah organisasi NU lahir pada tahun 1926 dan menjadi fondasi konsolidasi warga nahdliyin di tanah air.
Inti artikel
- Muktamar Nahdlatul Ulama perdana berlangsung 21 Oktober 1926 di Hotel Muslimin serta Masjid Sunan Ampel yang terletak di Surabaya
- Optimaise News mengulas perjalanan panjang tradisi ini yang kini digelar setiap lima tahun sekali sesuai AD/ART organisasi
- Sejarah Muktamar Pertama NU 1926 menandai langkah awal penataan organisasi setelah kelahirannya
Kota Surabaya tidak hanya menyelenggarakan yang pertama, tetapi juga muktamar kedua serta ketiga sebelum lokasi mulai bergilir ke daerah lain. Optimaise News mengulas perjalanan panjang tradisi ini yang kini digelar setiap lima tahun sekali sesuai AD/ART organisasi.
Sejarah Muktamar Pertama NU 1926 sebagai Titik Awal
Sejarah Muktamar Pertama NU 1926 menandai langkah awal penataan organisasi setelah kelahirannya. Acara tersebut diadakan di dua lokasi utama di Surabaya, yakni hotel dan masjid bersejarah, guna menampung para ulama dan tokoh yang hadir.
Keputusan memilih Surabaya sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Kota pelabuhan ini saat itu menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam di Jawa Timur. Dari situ, pola penyelenggaraan mulai terbentuk sebelum kemudian menyebar.
Peserta awal datang dari berbagai wilayah untuk membahas isu keagamaan dan sosial. Format kongres ini langsung menjadi wadah musyawarah resmi yang membedakan NU dari gerakan lain pada masa itu.
Muktamar NU dan Catatan Sejarahnya dari Masa ke Masa

Muktamar NU dan Catatan Sejarahnya dari Masa ke Masa memperlihatkan ketahanan organisasi di tengah gejolak. Rencana perhelatan 1941 di Palembang terpaksa dibatalkan karena meletusnya Perang Asia Pasifik yang mengganggu seluruh aktivitas publik.
Selama pendudukan Jepang, tidak ada satupun muktamar yang digelar. Kekosongan ini berlangsung hingga masa kemerdekaan. Baru pada 1946 perhelatan pertama era merdeka muncul di Purwokerto, Banyumas.
Langkah itu menghidupkan kembali tradisi musyawarah nasional. Sejak saat itu lokasi mulai bergerak lebih luas. Banjarmasin kemudian tercatat sebagai tuan rumah pertama di luar Pulau Jawa, menandai perluasan jangkauan organisasi ke Kalimantan.
Awalnya muktamar digelar setiap tahun. Seiring pertumbuhan anggota dan kompleksitas isu, frekuensi diubah menjadi lima tahun sekali sesuai AD/ART yang berlaku hingga sekarang. Perubahan ini menjaga kualitas pembahasan tanpa membebani jamaah.
Jejak Tuan Rumah hingga Rencana Muktamar ke-35

Setelah tiga kali digelar di Surabaya, sistem bergilir diterapkan agar lebih merata. Setiap daerah yang ditunjuk biasanya melibatkan pondok pesantren dan tokoh setempat sebagai penopang logistik serta akomodasi.
Muktamar ke-34 yang berlangsung 2021 mencatat 1.959 peserta resmi ditambah 336 panitia. Total keseluruhan mencapai 2.295 orang. Angka tersebut mencerminkan skala besar yang terus terjaga meskipun dalam kondisi pandemi.
Ke depan, muktamar ke-35 dijadwalkan 27 sampai 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Pilihan lokasi di Jombang menegaskan kembali peran pesantren sebagai pusat kekuatan NU di Jawa Timur.
Tradisi bergilir ini juga membuka ruang partisipasi warga di luar pusat organisasi. Setiap perhelatan menjadi ajang pembaruan keputusan strategis yang mengikat seluruh pengurus dan jamaah di tingkat cabang hingga ranting.







