Jakarta, Optimaise News – Ahmad Musyaddad, pria asal Lombok NTB, mengemban peran penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram ke bahasa Indonesia sejak 2015. Suaranya memastikan pesan imam dan khatib Haramain sampai ke muslim berbahasa Indonesia di berbagai negara lewat kanal siaran resmi.
Inti artikel
- Ahmad Musyaddad, pria asal Lombok NTB, mengemban peran penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram ke bahasa Indonesia sejak 2015
- Suaranya memastikan pesan imam dan khatib Haramain sampai ke muslim berbahasa Indonesia di berbagai negara lewat kanal siaran resmi
- Peluang itu muncul saat ia menempuh semester kedua program doktor di UIKA Bogor tahun 2014
Peluang itu muncul saat ia menempuh semester kedua program doktor di UIKA Bogor tahun 2014. Pengelola dua masjid suci Haramain membuka program penerjemahan multi bahasa secara langsung. Seleksi digelar bersama LIPIA dan lima kandidat saja yang diterima, termasuk dirinya.
Perjalanan Ilmu dari Pesantren Lombok hingga Doktor di Bogor
Fondasi keilmuannya dibangun lewat pendidikan menengah enam tahun di pesantren Nurul Hakim di Lombok Barat. Di sana ia menguasai bahasa Arab dan dasar ilmu keislaman secara mendalam. Beasiswa dan disiplin pondok membentuk daya ingat serta ketajaman tafsir yang kelak dipakai di studio haramain.
Ia kemudian menempuh studi tujuh tahun di LIPIA Jakarta. Tiga tahun pertama difokuskan pada pendalaman bahasa Arab. Empat tahun berikutnya diisi di Fakultas Syariah hingga gelar sarjana diraih.
Setelah itu ia melanjutkan magister lalu masuk program doktor di UIKA Bogor. Di tengah semester kedua itulah undangan seleksi penerjemah datang. Latar belakang pesantren plus LIPIA membuatnya siap menghadapi ujian lisan dan praktik live yang ketat.
Rangkaian pendidikan panjang ini jarang disorot media umum. Meski banyak yang mengangkat Kisah Inspiratif Ustaz Ahmad Musyaddad Harom, Optimaise News menekankan sisi persiapan akademik yang membawanya ke posisi strategis tersebut.
Seleksi Ketat LIPIA dan Lima Penerjemah yang Diterima

Program penerjemahan langsung multi bahasa diluncurkan pengelola Masjidil Haram bersama Masjid Nabawi. Kerja sama dengan LIPIA menjadi filter utama. Calon diuji kemampuan mendengar, merangkai, dan menyampaikan khutbah secara real time tanpa jeda berarti.
Dari proses tersebut lima orang berhasil diterima sebagai penerjemah resmi. Ahmad Musyaddad termasuk di dalamnya dan mulai bertugas penuh sejak 2015. Ia tidak berdiri di mimbar, melainkan bekerja di balik layar.
Keberhasilan lolos seleksi bukan soal keberuntungan semata. Ia membawa bekal enam tahun pondok, tujuh tahun LIPIA, plus jenjang magister dan doktor. Kombinasi itu membuat terjemahannya akurat dan mengalir natural ke telinga pendengar Indonesia.
Suara dari Studio Tersembunyi hingga Khutbah Wukuf Arafah
Setiap khutbah berlangsung, Ahmad Musyaddad berada di ruang studio di tingkat tiga area kompleks Masjidil Haram. Jutaan jemaah di mataf tidak pernah melihat wajahnya. Namun suaranya disiarkan lewat kanal resmi agar pesan sampai utuh.
Siaran itu menjangkau muslim berbahasa Indonesia di dalam negeri maupun diaspora. Mereka yang berada di Asia, Eropa, Amerika, atau Australia bisa mengikuti isi khutbah tanpa hambatan bahasa. Peran ini menjadikannya jembatan sunyi antara mimbar haramain dan rumah-rumah muslim Indonesia.
Beberapa tahun belakangan kepercayaan bertambah. Ia dipercaya menerjemahkan khutbah saat wukuf di Arafah. Siaran tersebut kemudian menjangkau puluhan bahasa di seluruh dunia. Tanggung jawabnya semakin besar karena wukuf merupakan puncak ibadah haji yang dinantikan jutaan orang.
Optimaise News mencatat bahwa kerja di studio menuntut konsentrasi penuh. Satu detik keterlambatan atau salah pilih padanan kata bisa mengubah makna. Latihan berulang dan fondasi ilmu yang kuat menjadi penopang utamanya selama bertahun-tahun.







