Makassar, Optimaise News – Tragedi kebakaran kapal di perairan utara Madura merenggut tujuh ekor kuda milik warga Jeneponto, Sulawesi Selatan. Di antara yang tewas adalah Bintang Permata, kuda pacu juara nasional yang menjadi satu-satunya wakil Sulsel di Kejuaraan Nasional. Insiden itu terjadi saat rombongan pulang dari rangkaian lomba di Pulau Jawa, Minggu 2 Agustus 2026.
Inti artikel
- Tragedi kebakaran kapal di perairan utara Madura merenggut tujuh ekor kuda milik warga Jeneponto, Sulawesi Selatan
- Di antara yang tewas adalah Bintang Permata, kuda pacu juara nasional yang menjadi satu-satunya wakil Sulsel di Kejuaraan Nasional
- Insiden itu terjadi saat rombongan pulang dari rangkaian lomba di Pulau Jawa, Minggu 2 Agustus 2026
Pemilik kuda, H. Lolong Azis, harus menelan kerugian besar. Enam kuda potong yang baru dibeli untuk usaha di kampung halaman ikut hangus bersama sang juara. Joki Verdianto alias Aco selamat setelah dievakuasi, sementara lima penumpang kapal dinyatakan tewas dan 227 orang berhasil diselamatkan.
Bintang Permata Wakili Sulsel di Kejurnas Pacuan Kuda
Bintang Permata bukan sekadar kuda pacu biasa. Kuda milik H. Lolong Azis itu menjadi satu-satunya perwakilan Sulawesi Selatan di Kejuaraan Nasional pacuan kuda. Prestasinya mencolok: juara pertama dan juara ketiga di lintasan Bantul, Kebumen, Salatiga, serta Pangandaran.
Keberhasilan itu menempatkan Bintang Permata sebagai kebanggaan Jeneponto. Empat bulan terakhir, Verdianto melatihnya intensif agar siap menghadapi lawan dari berbagai daerah. Kehadirannya di Kejurnas memberi harapan besar bagi komunitas pacuan kuda Sulsel yang jarang mengirim wakil tunggal.
Kehidupan Sebelum Insiden dan Perjalanan dari Jawa ke Sulsel

Sejak Februari 2026, Bintang Permata sudah dibawa ke Jawa. Tujuannya jelas: mengikuti rangkaian kompetisi di sejumlah lintasan. Setelah meraih gelar, kuda itu bersama enam kuda potong baru dipersiapkan untuk pulang ke Jeneponto.
Enam kuda potong dibeli seharga lebih dari Rp100 juta. Lolong Azis berencana menjadikannya bekal usaha di kampung halaman. Perjalanan pulang menggunakan KMP Mutiara Sentosa 2 diharapkan aman, tapi api tiba-tiba melalap kapal di perairan utara Madura.
Kematian 7 Ekor Kuda dan Kerugian Materil Pemilik
Api merenggut seluruh tujuh ekor kuda milik warga Jeneponto. Bintang Permata hangus bersama enam kuda potong yang baru saja dibeli. Kerugian materiil terasa berat, terutama karena kuda-kuda itu dirancang sebagai modal usaha di Jeneponto.
Seorang penumpang lain, Arif Hidayat, juga mengalami kerugian mencapai Rp300 juta. Ia kehilangan mobil dan tujuh kuda dalam peristiwa yang sama. Istrinya, Denik Rohana, selamat setelah terombang-ambing di laut bersama suaminya. Lolong Azis sendiri mengaku bersyukur karena seluruh pengawal perjalanan tetap hidup.
Joki Verdianto Selamatkan Diri dari Kebakaran
Verdianto alias Aco, joki Bintang Permata, berhasil diselamatkan. Ia dievakuasi ke Tanjung Perak setelah kapal terbakar. Lolong Azis sempat berbicara langsung dengan Verdianto pukul 02.00 WIB, tak lama setelah proses penyelamatan selesai.
Komunikasi itu memberi kepastian bahwa joki yang melatih kuda selama empat bulan terakhir dalam keadaan baik. Verdianto menjadi saksi hidup dari momen terakhir Bintang Permata sebelum api melahap ruang penumpang hewan di kapal.
Kronologi dan Dampak Insiden di Perairan Madura
Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 dilaporkan pertama kali pukul 08.24 WIB oleh Syahbandar Tanjung Perak. Api cepat merembet hingga menewaskan lima penumpang. Sebanyak 227 orang berhasil dievakuasi, termasuk pasangan Arif Hidayat dan Denik Rohana yang sempat terombang-ambing di laut.
Dampaknya meluas ke komunitas pacuan kuda Jeneponto. Hilangnya Bintang Permata sebagai wakil tunggal Sulsel di Kejurnas meninggalkan kekosongan. Kerugian ratusan juta rupiah dari tujuh kuda dan barang bawaan lain memaksa pemilik untuk memulai ulang. Insiden ini menjadi pengingat pahit tentang risiko perjalanan laut bagi hewan berharga yang dibawa pulang setelah berkompetisi di Jawa.







