Warga Jepang Anjlok ke 119,7 Juta Usai Fertilitas 1,14 Rekor

Warga Jepang 119,7 juta pertama di bawah 120 juta dalam 42 tahun. Fertilitas 1,14 rekor, app TOKYO Enmusubi hasilkan 265 nikah, median usia 49,9.

Author Image

Adel

Warga Jepang Anjlok ke 119,7 Juta Usai Fertilitas 1,14 Rekor

– Jumlah warga negara Jepang di dalam negeri tercatat 119,74 juta per 1 Januari 2026, pertama kali di bawah 120 juta dalam 42 tahun. Data Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi menyebutkan angka pasti 119.736.483 jiwa, turun 0,76 persen atau sekitar 917 ribu orang dibanding tahun sebelumnya, penurunan tahunan terbesar sejak pencatatan 1968.

Inti artikel

  • Jumlah warga negara Jepang di dalam negeri tercatat 119,74 juta per 1 Januari 2026, pertama kali di bawah 120 juta dalam 42 tahun
  • Tren penyusutan berlangsung 17 tahun berturut-turut sejak puncak 2009
  • Hanya Tokyo yang mencatat kenaikan warga Jepang, sekitar 0,09 persen

Tren penyusutan berlangsung 17 tahun berturut-turut sejak puncak 2009. Fenomena ini beriringan dengan fertilitas rekor terendah 1,14 serta uji coba aplikasi jodoh AI metropolitan Tokyo yang sudah melahirkan ratusan pernikahan, tanda pemerintah mencoba merespons krisis demografi.

Angka Warga Asli, Prefektur, dan Lonjakan Penduduk Asing

Hanya Tokyo yang mencatat kenaikan warga Jepang, sekitar 0,09 persen. Empat puluh enam prefektur lain semuanya menyusut. Sementara itu penduduk asing mencapai rekor 4.031.159 jiwa, naik sekitar 354 ribu orang.

Total penduduk termasuk warga asing berada di angka 123.767.642 atau sekitar 123,8 juta, turun sekitar 563 ribu. Pertumbuhan total populasi hanya terjadi di Tokyo, Chiba, dan Osaka. Lonjakan warga asing ini menjadi penyeimbang sementara, namun belum mengubah peta demografi jangka panjang.

Optimaise News mencatat bahwa penurunan warga asli sebesar 917 ribu jiwa ini menandai laju penyusutan paling tajam dalam lima dekade terakhir. Wilayah luar Tokyo kehilangan daya tarik karena peluang kerja dan layanan yang menyempit.

Fertilitas 1,14 serta Dampak ke Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial

Fertilitas 1,14 serta Dampak ke Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial
Ilustrasi fertilitas 1,14 serta Dampak ke Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial.

Angka fertilitas total 2025 mencapai 1,14, rekor terendah, turun 0,01 poin dari tahun sebelumnya. Kelahiran hanya sekitar 670 ribu bayi, turun hampir 15 ribu dan terendah sejak 1899. Penurunan fertilitas sudah berlangsung 10 tahun berturut-turut.

Sementara itu kematian mencapai sekitar 1,6 juta orang pada 2025. Defisit alami ini memangkas pasokan tenaga kerja produktif. Beban jaminan sosial membengkak karena rasio penduduk lanjut usia yang semakin tinggi, sementara penerimaan pajak menyusut karena basis pekerja menyempit.

Konsekuensi langsung terasa di sektor industri dan layanan publik. Perusahaan kesulitan merekrut tenaga muda, sementara anggaran negara terbebani pembiayaan pensiun dan perawatan kesehatan. Tanpa terobosan, jurang ini akan melebar setiap tahun.

Aplikasi TOKYO Enmusubi: Anggota, Pasangan Serius, dan Hasil Nikah

Aplikasi TOKYO Enmusubi: Anggota, Pasangan Serius, dan Hasil Nikah
Ilustrasi aplikasi TOKYO Enmusubi: Anggota, Pasangan Serius, dan Hasil Nikah.

Pemerintah Metropolitan Tokyo meluncurkan TOKYO Enmusubi pada September 2024. Hingga 30 Juni 2026 tercatat sekitar 16 ribu anggota aktif dari 36 ribu pendaftar. Hasilnya 760 pasangan serius terbentuk dan 265 di antaranya sudah menikah.

Syarat pendaftaran ketat: wajib bukti status lajang dan wawancara daring. Aplikasi ini memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mencocokkan pasangan berdasarkan profil serius. Survei menunjukkan sekitar 70 persen warga yang ingin menikah ternyata tidak aktif mencari pasangan sendiri.

Pengguna berinisial Turtle menerima lamaran akhir Desember. Ia menyebut kenalan lewat aplikasi sebagai kesempatan terakhir menjelang usia 40 tahun. Kisah seperti ini menjadi bukti intervensi kebijakan yang memberi hasil konkret di tengah krisis kelahiran.

Usia Median 49,9 Tahun dan Beban Demografi Jangka Panjang

Usia median penduduk Jepang kini 49,9 tahun. Menurut Bank Dunia, angka ini menempatkan Jepang sebagai negara tertua kedua di dunia setelah Monako. Kombinasi kelahiran rendah dan usia median tinggi menciptakan beban demografi yang berkepanjangan.

Rasio pekerja terhadap penerima manfaat jaminan sosial semakin timpang. Dalam jangka panjang, pasokan tenaga kerja produktif terus berkurang. Penerimaan pajak menyusut seiring menyusutnya populasi usia kerja, sementara biaya perawatan lansia meningkat tajam.

Sintesis data menunjukkan bahwa penurunan warga asli, rekor fertilitas, lonjakan asing, dan intervensi AI Enmusubi membentuk satu kerangka krisis sekaligus respons. Tanpa kenaikan kelahiran yang signifikan, Jepang akan terus menghadapi defisit alami yang membebani ekonomi.

Tanya Jawab Seputar Populasi Jepang
Mengapa jumlah warga Jepang pertama kali di bawah 120 juta?
Data per 1 Januari 2026 mencatat 119.736.483 jiwa. Penyebab utama adalah fertilitas 1,14 yang rekor terendah, kelahiran 670 ribu, dan kematian 1,6 juta yang menciptakan defisit alami terbesar dalam puluhan tahun.
Bagaimana TOKYO Enmusubi membantu mengatasi krisis pernikahan?
Aplikasi yang diluncurkan September 2024 sudah mengumpulkan 16 ribu anggota aktif. Dari situ terbentuk 760 pasangan serius dan 265 pernikahan. Syarat bukti lajang dan wawancara daring memastikan niat serius, sementara AI membantu mencocokkan profil.
Adel
Redaktur Tren

Adel adalah redaktur tren Optimaise News. Meliput Google Trends, topik viral, dan isu hangat harian di Indonesia. Menyusun artikel tren agar pembaca paham kenapa topik naik dan apa konteksnya, bukan hanya meniru judul yang sedang ramai.