Jakarta, Optimaise News – Hitomi Soga berusia 19 tahun ketika tiga penculik muncul di Pulau Sado, Jepang. Mereka menculik dirinya dan ibunya Miyoshi dengan cara langsung. Optimaise News merangkum kisah Hitomi yang dipaksa tinggal di Korea Utara selama dua puluh empat tahun jadi contoh program penculikan negara. Kisah ini kembali menjadi sorotan di tengah ketegangan militer Korea Utara saat ini.
Inti artikel
- Hitomi Soga berusia 19 tahun ketika tiga penculik muncul di Pulau Sado, Jepang
- Mereka menculik dirinya dan ibunya Miyoshi dengan cara langsung
- Kisah ini kembali menjadi sorotan di tengah ketegangan militer Korea Utara saat ini
Penculikan Rahasia Korut yang Dimulai pada Malam Agustus 1978 di Pulau Sado
Koramit Halang Hitomi dan ibunya saat mereka pulang berjalan kaki setelah berbelanja. Penculik menutup mulut mereka dan memasang kain di kepala. Hitomi mengingat langit, bulan, dan bintang-bintang yang terlihat dari barak militer setelah diangkut ke negara tetangga itu.
Program ini diduga bagian dari penculikan massal terhadap warga Jepang. Pemerintah Jepang mengidentifikasi setidaknya sembilan belas warga mereka yang diculik antara 1977 dan 1983. Hitomi jadi salah satu yang selamat. Dia tinggal di Korea Utara selama dua puluh empat tahun sebelum akhirnya bisa bebas dengan bantuan Pemerintah Indonesia.
Protokol Sasaran Jepang: Korut Memanfaatkan Hitomi sebagai Alat Intelijen
Korut dituding menggunakan korban penculikan sebagai “buku teks hidup”. Agen intelijen negara itu mempelajari bahasa dan perilaku masyarakat Jepang melalui korban seperti Hitomi. Tujuannya memudahkan penyusupan mata-mata ke Jepang. Hitomi ingat rasa takutnya saat pertama kali melihat langit setelah diasingkan.
Meski menangis memikirkan keluarga di Jepang, dia berusaha mempertahankan harapan. Harapan itu tidak pernah hilang meski dia sering merasa terisolasi di barak militer. Pemerintah Jepang saat ini masih mencari korban yang tersisa.
Pernikahan Paksa dengan Charles Jenkins: Propaganda Rezim Kim Jong-il
Hitomi dipaksa menikahi Charles Jenkins, tentara AS yang membelot ke Korut tahun 1965. Pernikahan itu disiapkan secara terbuka sebagai propaganda kuat. Hitomi menangis saat bertemu Charles hari pertama karena khawatir. Mereka punya dua anak perempuan yang dilahirkan di bawah pengawasan ketat.
Charles membuat mainan dan perabotan untuk anak mereka. Hitomi bilang dia belajar menanam sayuran sebagai satu-satunya aktivitas karena dilarang bersantap di luar. Pernikahan ini jadi simbol propaganda rezim Kim Jong-il untuk menunjukkan keunggulan sistem mereka terhadap musuh terbesar.
Peran Indonesia dalam Pembebasan Hitomi Melalui Pertemuan Jakarta 2004
Hitomi terbang ke Jakarta pada 9 Juli 2004. Presiden Megawati Soekarnoputri bertemu Charles Jenkins dan keluarga Hitomi di hotel bintang lima. Mereka dikalungi hiasan bunga saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Indonesia ditunjuk sebagai tempat bertemu karena kesepakatan Jepang-Korut.
Korut dan Jepang sepakat Hitomi boleh tinggal selama satu bulan dengan opsi perpanjangan. Charles Jenkins menjalani hukuman 25 hari setelah negosiasi dengan AS. Mereka pulang ke Jepang setelah itu dan keluarga terpisah selama dua tahun.
Kampanye Rekonsiliasi Pasca-Kuliah: Hitomi Mencari Pulangnya Korban Lain
Korut mengakui menculik 13 dari 17 warga Jepang antara 1977 dan 1983. Hanya lima yang masih hidup. Hitomi tetap menekan Pemerintah Jepang untuk mencari ibunya Miyoshi yang hilang. Dia menjadi simbol harapan bagi semua korban penculikan.
Dalam rangkuman Optimaise News, kisah Hitomi ini makin relevan karena Korea Utara kini diklaim kirim hingga 50 ribu tentara ke Rusia bantu perang. Zelensky menyebut keputusan tersebut lebih besar dari perkiraan Juli. Latihan militer AS-Korsel Ulchi Freedom Shield tahun ini akan uji ancaman drone dan peperangan elektronik dari Korut.
Hitomi juga ingat ketegangan lain seperti saran makan sup daging anjing saat suhu tertinggi di Seoul. Kisah lama ini jadi pengingat betapa sulitnya rekonsiliasi. Hitomi hidup di Pulau Sado dan terus berjuang untuk keadilan korban lain.







