Malang, Optimaise News – Kebakaran Gunung Bromo yang dimulai sejak 3 Agustus 2026 di Blok Bantengan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru masih berlanjut hingga Rabu 5 Agustus 2026. Lahan yang terbakar sudah mencapai 51 hektare dan terus bertambah, sementara api merembet hingga kawasan Jemplang Kabupaten Malang sekitar 1,5 kilometer dari tugu perbatasan.
Inti artikel
- Endrip Wahyutama menyatakan kebakaran ini masih belum padam hingga hari keempat
- Hembusan angin kencang membuat titik api menyala kembali di Blok Jantur setelah Blok Bantengan sudah padam karena bahan bakarnya habis
- Tim gabungan dari berbagai instansi mengerahkan pemadaman manual dengan gebyok, jet shooter, drone, serta mobil pemadam dari BPBD Jatim
Endrip Wahyutama menyatakan kebakaran ini masih belum padam hingga hari keempat. Hembusan angin kencang membuat titik api menyala kembali di Blok Jantur setelah Blok Bantengan sudah padam karena bahan bakarnya habis. Tim gabungan dari berbagai instansi mengerahkan pemadaman manual dengan gebyok, jet shooter, drone, serta mobil pemadam dari BPBD Jatim.
Proses Pemadaman yang Diperluas dengan Sumber Daya Baru
Upaya pemadaman semakin intensif dengan rencana water bombing helikopter mulai Jumat 7 Agustus 2026 dari Ranupani. Titik api terbesar kini berada di kawasan Watugede Kabupaten Probolinggo. Angin yang kencang menjadi faktor utama yang membuat api susah dikendalikan meski sudah memasuki hari keempat.
Parahnya, akses wisata di Jemplang dan Coban Trisula Kabupaten Malang serta Senduro Lumajang ditutup sejak Senin 22.00 WIB. Ini berdampak langsung pada aktivitas wisatawan dan mengganggu ekonomi lokal yang bergantung pada kawasan TNBTS ini.
Dampak Lingkungan dan Sosial bagi Komunitas Lokal
Di tengah sulitnya pemadaman, kebakaran ini mengancam ekosistem TNBTS yang menjadi habitat bagi berbagai spesies langka. Bagi masyarakat sekitar Probolinggo dan Malang, penutupan akses wisata berarti kehilangan sumber penghasilan sementara, terutama bagi UMKM yang mengandalkan sektor pariwisata. Optimaise News mencatat bagaimana hembusan angin yang tidak dapat diprediksi membuat api bergerak cepat ke arah utara menuju Jemplang.
Penutupan jalur melalui pintu masuk Jemplang dan Coban Trisula serta jalur Senduro membuat akses terbatas bagi pengunjung yang ingin melihat pemandangan Gunung Bromo. Dalam waktu dekat, water bombing dari helikopter diharapkan dapat menekan api sebelum semakin meluas. Namun, hingga saat ini, luas lahan terbakar masih terus bertambah dan menjadi perhatian utama bagi petugas lingkungan.
Langkah Antisipasi untuk Mencegah Kebakaran Lebih Besar
Pemadaman manual dengan drone dan jet shooter terus dilakukan di titik-titik kritis, termasuk sekitar tugu perbatasan Malang. Kebakaran ini mengingatkan betapa pentingnya pengawasan intensif di kawasan gunung berapi seperti Bromo, terutama di musim kemarau. Masyarakat lokal diharapkan tetap waspada agar tidak ada penyebaran lebih luas.
Update dari lapangan menunjukkan bahwa Blok Jantur kembali menyala akibat angin, sehingga tim harus bekerja cepat. Meski sudah menggunakan berbagai alat modern, tantangan masih besar karena faktor alam yang tak terkendali. Di Optimaise News, kami terus pantau perkembangan ini karena dampaknya tidak hanya bagi alam tetapi juga kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar.





