Peringatan pejabat senior Teheran soal respons militer yang bisa meluas keluar perbatasan memicu kekhawatiran eskalasi regional, setelah Amerika Serikat menyerang target di Iran selama tujuh malam beruntun dan kesepakatan gencatan senjata dinyatakan berakhir.
Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, penasihat militer senior pemimpin tertinggi Iran sekaligus pejabat tinggi IRGC, menegaskan Teheran akan memasuki fase operasi serangan berskala penuh apabila serangan AS berlanjut dua atau tiga hari lagi.
Peringatan dari Penasihat Militer Senior Pemimpin Tertinggi
Pernyataan Rezaei disiarkan lembaga penyiaran negara IRIB pada Jumat, 17 Juli 2026 waktu setempat. Ia berbicara sebagai penasihat militer senior bagi pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.
Informasi yang dihimpun Optimaise News dari AFP dan Egypt Independent, Sabtu 18 Juli 2026, menempatkan ancaman itu sebagai sinyal eskalasi di tengah benturan militer yang masih berlangsung.
“Jika serangan-serangan AS berlanjut selama dua atau tiga hari lagi, kami akan memasuki fase operasi serangan skala penuh,” tegas Rezaei.
Dia menekankan Iran tidak lagi akan menahan diri hanya pada balasan sepadan. “Iran tidak akan lagi membatasi diri pada tindakan pembalasan, respons yang sepadan… Tidak akan ada batas politik yang aman dari kekuatan serangan Iran,” ujarnya.
Frasa itu menandai pergeseran dari pola respons terbatas menuju ancaman operasi tanpa batas politik yang aman bagi pihak lawan.
Tuntutan Kompensasi dan Bantahan Soal Target Sipil

Menurut Rezaei, Washington seharusnya menanggung ganti rugi finansial atas kerusakan yang pejabat Iran sebut menimpa infrastruktur sipil.
Pihak Amerika Serikat membantah dengan tegas tudingan itu. Washington menyatakan tidak secara sengaja menargetkan fasilitas sipil di Teheran.
Saling bantah soal karakter target menambah ketegangan diplomatik di atas bentrokan senjata yang sudah berlangsung beberapa hari. Klaim kerusakan sipil versus bantahan niat militer murni menjadi bahan perdebatan publik di kedua belah pihak.
Rangkaian Serangan Balasan ke Pangkalan AS di Negara Teluk

Amerika Serikat telah melancarkan serangan ke target-target di Iran selama tujuh malam beruntun. Teheran membalas dengan menyerang aset militer AS di sejumlah negara Teluk.
Pangkalan di Qatar, Kuwait, dan Bahrain menjadi sasaran. Fasilitas militer AS di Yordania dan Arab Saudi juga diklaim sebagai target pembalasan Iran.
Dalam konteks yang sama, rilis rekaman serangan udara AS menyebut sekitar 90 target di sepanjang pesisir selatan Iran dihantam. Aksi itu digambarkan sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal komersial di Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump menyatakan, “Setiap kali Iran menyerang kami, kami akan serang mereka 20 kali lipat.” Iran lantas meluncurkan gelombang serangan drone ke pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar.
Pola serangan silang ini memperluas medan konflik ke wilayah negara-negara yang menampung aset militer Washington. Kekhawatiran akan jangkauan geografis yang terus bertambah kian terasa di kawasan.
Risiko Perluasan Konflik ke Luar Wilayah Iran
Rezaei memperingatkan respons militer Iran dapat menjangkau wilayah di luar perbatasan negara itu jika konflik terus memanas.
Peringatan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan benturan regional yang lebih luas. Negara tetangga yang menampung pasukan atau fasilitas AS berisiko terseret lebih dalam.
Ketegangan di kawasan Teluk kian meruncing karena pembalasan silang sudah menjangkau beberapa negara di luar Iran dan Amerika Serikat secara langsung. Perluasan jangkauan respons menjadi isu sentral bagi keamanan regional.
Konteks Berakhirnya Nota Kesepahaman dan Gelombang Serangan Baru
Ancaman terbaru sejalan dengan pernyataan Presiden Donald Trump. Ia menyatakan gencatan senjata dan nota kesepahaman AS-Iran yang sudah rapuh telah “berakhir”.
Setelah itu, Trump mengizinkan gelombang serangan baru terhadap Teheran. Iran kemudian melancarkan serangkaian aksi pembalasan ke pangkalan militer AS di wilayah tetangga.
Dengan MoU yang dinyatakan usai, penahan eskalasi yang sebelumnya digadang-gadang tidak lagi berfungsi. Ruang untuk konfrontasi berskala lebih besar terbuka lebih lebar di tengah retakan diplomasi yang belum terisi.
Rangkaian peristiwa tujuh malam serangan, balasan drone, dan ancaman fase penuh membentuk lingkaran eskalasi yang sulit diputus tanpa jalur komunikasi yang jelas.
FAQ
Siapa yang menyampaikan ancaman serangan skala penuh Iran?
Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, pejabat tinggi IRGC sekaligus penasihat militer senior pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, lewat wawancara IRIB pada Jumat 17 Juli 2026.
Berapa lama batas waktu sebelum Iran masuk fase serangan penuh?
Rezaei menyebut jika serangan AS berlanjut dua atau tiga hari lagi, Iran akan memasuki fase operasi serangan skala penuh.
Negara mana saja yang menjadi sasaran balasan Iran terhadap aset AS?
Iran menargetkan pangkalan dan fasilitas militer AS di Qatar, Kuwait, Bahrain, Yordania, serta Arab Saudi.
Bagaimana sikap Presiden Trump soal gencatan senjata dengan Iran?
Trump menyatakan gencatan senjata dan MoU AS-Iran yang rapuh telah “berakhir” sebelum mengizinkan gelombang serangan baru. Ia juga mengancam membalas 20 kali lipat setiap serangan Iran.






