Sebuah keluarga di kawasan Pancoran Mas, Depok, memilih melepaskan hunian mereka setelah intimidasi berulang dari orang di sebelah rumah. Keputusan itu diambil Azis Suraji bersama putrinya, Novita (29), usai kenyamanan tinggal hancur dan kasusnya viral di media sosial.
Pantauan Optimaise News mencatat rangkaian aksi terekam kamera, berawal dari salah paham sepele soal ucapan, lalu memicu pelemparan benda, cacian harian, hingga laporan resmi ke Polres Metro Depok.
Rekaman Kamera Ungkap Pola Gangguan Berulang
Cuplikan CCTV yang beredar memperlihatkan seorang pria mengendarai motor mondar-mandir di depan pagar, lalu melempar helm ke arah rumah korban. Pada hari terpisah, pria yang sama tampak membuang sampah ke halaman hunian itu.
Pola itu menandai gangguan yang tidak sesaat. Keluarga korban menyebut tekanan berlangsung lama, memicu tekanan psikologis meski sempat ada upaya mediasi.
Akar Perselisihan dari Ucapan yang Disalahartikan

Novita menjelaskan pangkal masalahnya adalah kesalahpahaman. Suaminya berkewarganegaraan asing dan hanya menangkap kata sarkas sederhana, bukan percakapan utuh bahasa Indonesia.
Ibunya sempat bercanda menenangkan cucu yang menangis. “Awal mulanya dulu kan suami saya WNA. Nggak mengerti bahasa Indonesia. Dia hanya paham kata-kata yang sarkas gitu, kayak intinyalah. Nah dia bercanda sama anaknya sampai nangis-nangis gitu. Terus mama bilang ‘orang gila’, biar anaknya ketawa segala macam, biar nggak nangis lagi,” ujar Novita di rumahnya, Jumat (17/7/2026).
“Nah, katanya sakit hati sama perkataan mama saya ‘orang gila’, padahal nggak pernah ada sedikit pun keluarga saya yang ngatain dia pas kejadian,” sambungnya. Menurutnya, frasa itu tidak pernah ditujukan ke pelaku.
Rangkaian Intimidasi yang Mengganggu Aktivitas Harian

Setelah salah paham itu, gangguan menjadi rutin. Saat keluarga mengadakan pengajian, musik diputar kencang hingga mengganggu ibadah di rumah.
“(Tahun) 2025, itu ketika, kenapa saya bilang nyetel musik itu benar adanya? Karena mama lagi pengajian ratiban malam Jumat. Wajar nggak tuh?” tanya Novita. Pagar juga rusak ditendang pada Rabu (15/7).
Mereka mengaku sempat diancam dengan golok saat Lebaran. Cacian verbal hampir setiap hari menambah rasa tidak aman di lingkungan padat itu.
Dampak Psikologis dan Rencana Relokasi Keluarga
Keluarga itu semula pindah dari Kebagusan, Pasar Minggu, dengan harapan hidup lebih tenang. Kini penyesalan muncul karena rasa aman hilang.
“Culture shock ya Mas, yang tadinya kita, satu, kita dari Kebagusan, Pasar Minggu, pindah. Awalnya tuh kita senang pindah ke sini. Pas kita punya tetangga seperti ini jadinya nyesel. Perasaannya tuh kayak nyesel kenapa pindah,” katanya.
“Beneran mau dijual, ini karena ya kenyamanannya udah terganggu,” tegas Novita. Sempat ada tawaran tukar hunian, namun batal setelah calon penukar mengetahui kondisi sekitar.
“Dulu pernah ada tuh, udah ada yang mau tukaran rumah katanya gitu, terus pas tahu tetangganya kayak gini tuh ya udah pada nggak mau, nggak jadi,” imbuhnya. Optimaise News merangkum bahwa relokasi menjadi jalan terakhir menjaga ketenangan keluarga.
Upaya Warga Sekitar Menenangkan Situasi
Beberapa warga sempat turun tangan melerai saat aksi pembuangan sampah. Intervensi itu justru memunculkan keributan di lokasi.
Korban kemudian mendaftarkan laporan di kepolisian. “Iya baru buat LP semalam,” kata Kasat Reskrim AKBP Made Gede Oka saat dikonfirmasi Kamis (16/7).
Petugas melakukan olah TKP, mengamankan barang bukti, serta memeriksa pelapor dan saksi. Penyidik masih memanggil pihak terkait dan menyatakan penanganan berjalan profesional, objektif, serta sesuai hukum yang berlaku demi rasa aman warga.
FAQ
Apa yang mendorong keluarga Azis melepas hunian di Depok?
Intimidasi berulang dari orang di sebelah rumah membuat kenyamanan hilang, sehingga mereka bertekad menjual dan pindah.
Bagaimana awal perselisihan itu muncul?
Salah paham berawal dari candaan ibu keluarga yang menyebut “orang gila” saat menenangkan cucu; pelaku merasa tersinggung meski frasa itu tidak ditujukan kepadanya.
Apa saja bentuk gangguan yang terekam?
CCTV menunjukkan pelemparan helm dan pembuangan sampah; ada juga musik kencang saat pengajian, pagar rusak ditendang, ancaman golok saat Lebaran, serta cacian harian.
Bagaimana respons kepolisian?
Laporan didaftarkan di Polres Metro Depok; petugas olah TKP, amankan barang bukti, periksa saksi, dan masih mendalami perkara secara transparan.







