Jakarta, Optimaise News – Saifullah Yusuf atau Gus Ipul bersama KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) meninjau kesiapan penginapan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin 3 Agustus 2026. Mereka mengecek Tower 7 yang semula MAN 3 Jombang kini disiapkan sebagai tempat istirahat tamu dan muktamirin Muktamar 35 Nahdlatul Ulama.
Inti artikel
- Mereka mengecek Tower 7 yang semula MAN 3 Jombang kini disiapkan sebagai tempat istirahat tamu dan muktamirin Muktamar 35 Nahdlatul Ulama
- Meja resepsionis menjadi pusat layanan, sementara setiap kamar mendapat petugas khusus
- Rombongan langsung masuk ke dalam kamar contoh
Didampingi Ketua Panitia Lokal KH Abdurrozaq Sholeh (Gus Rozaq) serta Ketua Majelis Pengasuh KH M Hasib Wahab (Gus Hasib), rombongan menilai konsep layanan sudah setara hotel. Meja resepsionis menjadi pusat layanan, sementara setiap kamar mendapat petugas khusus.
Standar hotel di asrama pesantren untuk kenyamanan muktamirin
Rombongan langsung masuk ke dalam kamar contoh. Gus Ipul menjajal keempukan kasur yang sudah dipasangi seprai dan bantal. Ia menekankan pentingnya kenyamanan peserta agar proses musyawarah berjalan lancar.
Kutipan yang disampaikan Gus Ipul berbunyi: “Kita harus membuat muktamirin nyaman. Makanya kita sediakan kasur ini.” Setiap ruang dilengkapi pendingin udara serta petugas pesantren yang bertugas memenuhi kebutuhan harian dan menjaga kebersihan.
Model ini meniru alur hotel modern, namun tetap mempertahankan suasana pesantren. Petugas room boy bersumber dari santri dan alumni setempat sehingga komunikasi lebih akrab dengan tamu yang mayoritas kiai dan pengurus ranting.
Tiga ribu unit kasur dari PBNU dan Pemprov Jatim

Panitia lokal menyiapkan sekitar 3.000 unit kasur lengkap bantal dan seprai. Dari jumlah tersebut, 2.000 unit didukung PBNU sementara 1.000 unit lainnya berasal dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Logistik tersebut ditargetkan tiba pada pertengahan Agustus 2026. Penjadwalan ini memberi ruang cukup bagi panitia untuk merapikan penempatan di seluruh tower dan asrama yang dikonversi.
Kerja sama pusat dan daerah ini menjadi contoh pengelolaan logistik besar di lingkungan pesantren. Optimaise News mencatat bahwa kolaborasi semacam itu penting agar beban panitia lokal tidak menumpuk sendirian.
Mengintip Kesiapan Tambakberas Menyambut Muktamar 35 NU dari sisi layanan
Pengalaman tamu dimulai sejak tiba di resepsionis. Petugas mencatat data, menyerahkan kunci, lalu mengantar ke kamar yang sudah siap pakai. Sirkulasi udara dan kebersihan dijaga harian agar standar tetap konsisten selama muktamar berlangsung.
Bagi pelaku usaha mikro di sekitar Jombang, persiapan ini membuka peluang. Warung, laundry, dan jasa antar barang berpotensi mendapat lonjakan permintaan saat ribuan muktamirin hadir. Standar layanan yang ketat juga bisa menjadi acuan bagi pengelola homestay lokal yang ingin meningkatkan mutu.
Panitia menekankan bahwa kenyamanan fisik akan menopang kualitas musyawarah. Kasur yang empuk, AC yang stabil, dan petugas yang responsif diharapkan membuat peserta fokus pada agenda organisasi tanpa terganggu urusan teknis menginap.
Langkah berikutnya menjelang kedatangan logistik
Setelah peninjauan, panitia akan memetakan ulang distribusi kasur per lantai. Mereka juga menyiapkan daftar petugas jaga malam agar setiap keluhan bisa ditangani cepat. Latihan singkat untuk room boy dijadwalkan sebelum barang tiba.
Pendekatan ini memadukan tradisi pesantren dengan tata kelola event modern. Hasilnya diharapkan memberi pengalaman menginap yang rapi tanpa kehilangan nilai kekeluargaan khas NU. Optimaise News akan terus memantau perkembangan kesiapan di lokasi hingga hari H muktamar.
Dengan 3.000 kasur siap pakai dan sistem layanan per kamar, Tambakberas berupaya menjadi tuan rumah yang andal. Kenyamanan muktamirin menjadi prioritas utama agar Muktamar 35 NU berjalan khidmat dan produktif.






