Jakarta, Optimaise News – Pertanyaan yang sering muncul saat azan Isya telah berkumandang setelah waktu Salat Maghrib lewat adalah apakah harus mengerjakan Salat Maghrib melalui qadha atau langsung salat Isya. Urutan yang tepat bergantung pada jumlah sisa waktu Isya yang tersisa.
Inti artikel
- Urutan yang tepat bergantung pada jumlah sisa waktu Isya yang tersisa
- Jika sisa waktu Isya masih cukup panjang, utamakan Salat Maghrib terlebih dahulu
- Sebaliknya, jika sangat mepet, salat Isya lebih dulu dan qadha Maghrib dilakukan setelahnya
Jika sisa waktu Isya masih cukup panjang, utamakan Salat Maghrib terlebih dahulu. Sebaliknya, jika sangat mepet, salat Isya lebih dulu dan qadha Maghrib dilakukan setelahnya. Ini membantu menjaga keseimbangan antara kedua kewajiban tanpa tekanan berlebih.
Penentuan Urutan Salat Berdasarkan Sisa Waktu Isya
Azan Isya telah berkumandang setelah waktu salat Maghrib lewat. Dalam hal ini, qadha salat Maghrib masih diperbolehkan meskipun Maghrib telah terlewat karena uzur tidak disengaja seperti tertidur tanpa sengaja, kesiangan, sakit berat, kecelakaan, atau lupa murni. Memahami hal ini memberikan ketenangan saat menghadapi situasi mendadak seperti kesalahan umum yang dialami banyak orang.
Ahmad Sarwat dalam buku Qadha Shalat yang Terlewat Haruskah? mendefinisikan qadha sebagai pelaksanaan ibadah di luar rentang waktu syariat. Hadits Rasulullah SAW dalam riwayat HR Muslim menyatakan qadha salat saat teringat, dengan ayat Allah SWT yang menegaskan mengingat untuk mengerjakan salat, sehingga qadha tetap menjadi pilihan yang tepat untuk umat yang mengalami kejadian tak disengaja.
Apabila sisa waktu Isya sangat mepet, maka salat Isya didahulukan dan baru dilanjutkan qadha Maghrib. Apabila rentang waktu Isya masih panjang dan lapang, salat Maghrib dapat dikerjakan terlebih dahulu. Pandangan jumhur ulama mewajibkan maghrib terlebih dahulu baru disusul Isya jika keduanya tertinggal, yang membuat urutan ini menjadi panduan praktis untuk menjaga ketertiban shalat.
Pandangan Jumhur Ulama dan Mazhab Syafi’i tentang Ketertiban

Jumhur ulama dari kitab Al-Fiqh ‘ala al-madzahib al-khamsah yang diterjemahkan Masykur A.B dkk menyatakan qadha hendaknya dilakukan secara tertib sesuai urutan waktu. Ini berarti Salat Maghrib harus dilakukan lebih dulu sebelum Isya jika keduanya tertinggal. Namun untuk Mazhab Syafi’i, ketertiban qadha hanya bersifat sunnah, bukan wajib, sehingga salat tetap sah meski Isya didahulukan lalu qadha Maghrib dilakukan belakangan. Perbedaan ini menunjukkan fleksibilitas fiqih yang mempertimbangkan keadaan setiap umat.
Pemahaman perbedaan antar mazhab membantu umat memilih cara yang paling sesuai kondisinya tanpa merasa khawatir shalatnya batal. Dengan begitu, aturan sisa waktu Isya menjadi kunci utama untuk menentukan prioritas yang benar, terutama di saat-saat mendadak seperti saat adzan masuk lebih awal dari yang direncanakan.
Langkah Lengkap Mengqadha Salat Maghrib di Waktu Isya

Pelaksanaan qadha Maghrib dilakukan sebanyak 3 rakaat seperti fardhu Maghrib pada umumnya. Ini meliputi beberapa tahapan yang perlu dilakukan secara urut untuk menjaga kesahihan shalat meski dilakukan di luar waktu normal.
Tahap awal qadha Maghrib: membaca niat qadha salat Maghrib. Langkah ini menjadi dasar niat yang harus dibaca dengan penuh kesadaran agar shalat diterima Allah. Selanjutnya: membaca takbiratul ihram dan doa iftitah untuk memulai shalat seperti shalat fardlu pada umumnya, yang mempersiapkan jiwa dalam kondisi yang lebih lengkap.
Membaca surah Al-Fatihah dilanjutkan surah pendek. Gerakan berikutnya adalah rukuk dengan tumakninah dan iktidal, yang membantu konsentrasi saat melaksanakan shalat agar tidak tergesa atau kurang khusyuk. Dua kali sujud dengan duduk di antara dua sujud juga dilakukan untuk menyempurnakan rakaat pertama dengan gerakan yang tepat dan bertahap.
Mengerjakan rakaat kedua dan ketiga sama seperti tasyahud akhir dan salam di akhir. Setiap gerakan ini menjamin shalat tetap sah meski dalam kondisi qadha. Langkah-langkah ini memberikan panduan praktis agar mudah diikuti meski dalam waktu yang terbatas, sehingga umat tetap mampu menunaikan ibadah tanpa beban tambahan.
Keringanan Pelaksanaan Ibadah Saat Terjadi Uzur Tak Sengaja
Ulama menyebutkan kondisi ini memberikan keringanan agar tetap dapat menunaikan ibadah tanpa meninggalkannya. Saat azan Isya telah berkumandang, umat tetap bisa melaksanakan qadha Maghrib tanpa harus merasa takut atau menyesal karena keterlambatan waktu, asal uzur berasal dari kesalahan murni tanpa niat buruk.
Mengingat hadits tentang teringat untuk shalat dan ayat yang menegaskan perintah salat sebagai pengingat kepada Allah, ibadah tetap berjalan dengan aman. Hal ini mencegah umat panik dan mendorong mereka untuk tetap fokus pada pelaksanaan yang benar, terutama saat menghadapi situasi seperti kelelahan atau gangguan tak terduga lainnya.
Checklist Praktis Penentuan Urutan Salat Maghrib dan Isya
Agar lebih mudah diterapkan dalam situasi nyata, berikut checklist praktis yang disusun berdasarkan sisa waktu Isya untuk membantu memilih prioritas dengan cepat:
- Periksa sisa waktu Salat Isya pada jam atau aplikasi ibadah Anda.
- Jika sisa waktu masih panjang, lakukan Salat Maghrib terlebih dahulu kemudian qadha saat nanti.
- Jika sisa waktu Isya mepet atau sangat terbatas, salat Isya lebih dulu lalu qadha Maghrib dilakukan setelahnya.
- Catat kondisi uzur murni seperti lupa atau kecelakaan untuk catatan sendiri agar siap kapan saja.







