Jakarta, Optimaise News – Surat Ali Imran ayat 26 menegaskan hanya Allah yang berhak memberi maupun mencabut kekuasaan. Pembukaan ayat menyuruh Nabi Muhammad SAW mengucapkan “Qulillāhumma mālika al-mulki” yang berarti “Katakanlah: Ya Allah, Pemilik seluruh kerajaan”.
Inti artikel
- Surat Ali Imran ayat 26 menegaskan hanya Allah yang berhak memberi maupun mencabut kekuasaan
- Ali Imran merupakan surat ke-3 Al-Qur’an
- Isinya 200 ayat dan digolongkan Madaniyyah
Optimaise News merangkai penafsiran Kemenag dan Buya Hamka Al-Azhar. Ayat ini turun di Madinah setelah ratusan tahun nubuwwat terpusat di Bani Israil, lalu Islam membangun kewibawaan baru yang membuat sebagian kalangan Yahudi iri.
Pembukaan Ali Imran 26 dan terjemah Kemenag
Ali Imran merupakan surat ke-3 Al-Qur’an. Isinya 200 ayat dan digolongkan Madaniyyah. Ayat 26 dilanjutkan dengan pernyataan Allah memberi kerajaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, lalu mencabutnya dari siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Terjemah Kemenag menegaskan Allah juga memuliakan dan menghinakan siapa yang dikehendaki. Segala kebajikan berada di tangan-Nya. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tafsir resmi Kemenag RI menambahkan bahwa kekuasaan tertinggi mutlak milik Allah yang Maha Bijaksana dalam menyusun, mengatur, dan menyelesaikan setiap perkara.
Ciri orang ditinggikan dan dihinakan
Menurut tafsir Kemenag, orang yang diberi kuasa biasanya memiliki tutur kata yang didengar. Ia dikelilingi banyak penolong. Wibawa dan ilmu memengaruhi jiwa orang lain. Rezekinya luas sehingga ia mampu berbuat baik.
Sebaliknya, orang yang dihinakan ditandai akhlak rendah. Semangat mempertahankan kehormatan melemah. Ia tak mampu mengusir musuh dan enggan menyatukan pengikut. Kuasa itu kadang menyertai pangkat kenabian seperti keluarga Ibrahim. Kadang hanya berupa wewenang memerintah kabilah atau bangsa berdasarkan hukum kemasyarakatan semata.
Sudut Hamka: iri Bani Israil terhadap cahaya nubuwwat
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menempatkan ayat ini dalam konteks iri Bani Israil atau Yahudi. Cahaya nubuwwat Rasulullah SAW membuat mereka gerah. Selama berabad-abad risalah hanya beredar di kalangan mereka.
Ketika Islam membentuk kuasa di Madinah, musuh-musuh itu merasa tidak senang. Ayat 26 menjadi pengingat bahwa peralihan kewibawaan bukan hasil tipu daya manusia, melainkan ketetapan Allah semata. Kapolres Lamongan AKBP Arif Fazlurrahman sempat mengutip surah yang sama dalam acara kenal pamit, menandakan ayat ini tetap hidup dalam ruang publik.







