Industri otomotif Thailand tertekan banjir mobil listrik CBU impor, terutama dari China. Harga bersaing EV impor menekan produksi dalam negeri, produsen komponen, dan memicu potensi PHK. Federation of Thai Industries (FTI) mendorong agar biaya komponen lokal diakui sebagai pengurang pajak. Langkah itu digabung dengan mitigasi ancaman tarif AS untuk menjaga rantai pasok serta posisi hub ASEAN.
Inti artikel
- Industri otomotif Thailand tertekan banjir mobil listrik CBU impor, terutama dari China
- Harga bersaing EV impor menekan produksi dalam negeri, produsen komponen, dan memicu potensi PHK
- Federation of Thai Industries (FTI) mendorong agar biaya komponen lokal diakui sebagai pengurang pajak
Ancaman itu bertambah dengan sorotan Amerika Serikat terhadap praktik transshipment. AS berpotensi mengenakan tarif lebih tinggi pada ekspor Thailand. Suwat Supakandechakul, Ketua Automotive Industry Club FTI, menekankan perlunya insentif segera. Usulan FTI menyatukan proteksi dari banjir CBU China dan risiko transshipment dalam satu narasi kebijakan.
Tekanan Ganda: CBU China dan Sorotan Transshipment AS
Banjir unit CBU mobil listrik dari China membuat produsen lokal kesulitan bersaing. Harga yang lebih murah memukul volume produksi di pabrik-pabrik Thailand. Dampaknya merembet ke pemasok komponen yang pesanan berkurang. Risiko pemutusan hubungan kerja semakin nyata di sejumlah fasilitas produksi.
Di saat bersamaan, Amerika Serikat menyoroti praktik transshipment. Jika ekspor Thailand dinilai didominasi komponen impor, tarif tinggi bisa dikenakan. Tekanan ganda ini mengancam status Thailand sebagai pusat rantai pasok otomotif di kawasan ASEAN. Tanpa respons cepat, posisi hub regional bisa goyah.
Komponen Siap Lokal: Jok, Kabel, Kaca hingga Sasis

Suwat Supakandechakul menyebutkan jok, kabel kelistrikan, dan kaca depan sudah mampu diproduksi lokal. Kapasitas ini siap dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan impor. Komponen bernilai tinggi seperti sasis yang sudah diproduksi di Thailand perlu diprioritaskan lebih dulu. Prioritas itu memberi nilai tambah lebih besar bagi industri dalam negeri.
Dengan fokus pada bagian-bagian tersebut, industri komponen mendapat kepastian pesanan. Nilai tambah lokal meningkat dan rantai pasok regional semakin kuat. Langkah ini menjadi fondasi sebelum tekanan dari luar semakin berat. Pemanfaatan kapasitas yang ada juga mendukung target produksi jangka panjang.
Usulan FTI: Biaya Lokal Diakui sebagai Pengurang Pajak

FTI mengusulkan biaya komponen lokal dijadikan pengurang pajak. Produsen yang memakai jok, kabel, kaca, atau sasis buatan Thailand bisa mengurangi beban pajaknya. Skema ini memberi insentif langsung agar serapan dalam negeri naik. Usulan konkret ini jarang dirinci di diskusi publik sebelumnya.
Pengakuan tersebut diharapkan membantu menutup selisih biaya dibanding EV impor China. Tanpa dukungan, produsen cenderung memilih opsi impor yang lebih murah. Usulan ini menjadi bagian penting dari upaya melindungi industri lokal. Mekanisme pengurang pajak memberi sinyal jelas kepada pemain asing dan lokal.
Samakan Kewajiban Serap Komponen BEV dengan Aturan ICE
FTI meminta kewajiban serap komponen lokal yang ketat bagi produsen BEV luar negeri. Aturan itu harus setara dengan ketentuan yang sudah berjalan untuk kendaraan bermesin bakar (ICE). Tanpa kesetaraan, produsen BEV asing bisa leluasa mengandalkan CBU murni. Industri komponen lokal akan semakin terpinggirkan jika celah itu dibiarkan.
Penyetaraan menjaga keadilan dan rantai pasok. Produsen asing yang ingin beroperasi di Thailand wajib berkontribusi pada industri komponen lokal. Langkah itu melindungi lapangan kerja dan investasi jangka panjang. Kesetaraan aturan juga memperkuat posisi tawar Thailand di rantai pasok ASEAN.
Lobi Intens FTI ke Komite Parlemen
FTI sedang berdiskusi intens dengan komite parlemen untuk merumuskan aturan. Usulan pengurang pajak dan kewajiban serap komponen menjadi inti pembicaraan. Dialog ini bertujuan menghasilkan kebijakan yang seimbang antara proteksi dan daya saing. Proses lobi melibatkan berbagai pemangku kepentingan di industri otomotif.
Hasil lobi diharapkan segera terwujud. Thailand perlu bergerak cepat agar tidak kehilangan posisi sebagai hub otomotif ASEAN. Kombinasi insentif dan kewajiban ketat menjadi kunci di tengah banjir CBU China dan ancaman tarif AS. Kebijakan yang tepat akan menjaga rantai pasok tetap berdaya saing di tingkat regional.







