Ekspor Aluminium ADRO ke AS-Korsel Dorong Laba US$612 Juta

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) lewat anak usaha ADMR mengapalkan 35.000 ton aluminium perdana

Author Image

Dyah

Ekspor Aluminium ADRO ke AS-Korsel Dorong Laba US$612 Juta

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) lewat anak usaha ADMR mengapalkan 35.000 ton aluminium perdana pada Juni 2026, dengan porsi 31.500 ton ke Amerika Serikat dan 3.600 ton ke Korea Selatan. Debut ekspor itu memicu MNC Sekuritas menaikkan proyeksi laba bersih 2026 sebesar 21 persen menjadi US$612 juta, setara pertumbuhan 37 persen year-on-year.

Pantauan Optimaise News, revisi agresif tersebut menempatkan aluminium sebagai mesin baru di luar batubara kokas. Kapasitas, asumsi harga jual, dan alokasi pasar kini menjadi penentu valuasi emiten di mata analis.

Volume dan destinasi pengiriman perdana aluminium anak usaha ADRO

Satu kiloton setara 1.000 ton, sehingga total 35 kiloton berarti 35.000 ton logam aluminium yang pertama kali keluar dari rantai ADRO. Hampir 90 persen kargo mengarah ke pasar Amerika Serikat.

Korea Selatan menerima sisa 3.600 ton sebagai gerbang Asia. Analis MNC Sekuritas Raka Junico W menilai momen ini membuka jalur pendapatan baru di luar komoditas batubara tradisional.

“Ekspor perdana tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya diversifikasi sumber pendapatan ADRO,” tulis Raka dalam riset yang dikutip Minggu, 19 Juli 2026.

Anak usaha yang menjalankan pengiriman adalah PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Langkah itu menandai pergeseran portofolio grup dari pure-play energi fosil ke hilir logam.

Potensi skala produksi aluminium dan asumsi harga jual

Potensi skala produksi aluminium dan asumsi harga jual

Fasilitas aluminium memulai operasi dengan kapasitas 500 kiloton per tahun. Bila ekspansi berjalan sesuai rencana, volume bisa digeser hingga 1,5 juta ton per tahun.

Dengan average selling price aluminium diasumsikan US$3.000 per ton, bisnis ini berpotensi menyumbang pendapatan tahunan US$1,5 miliar hingga US$4,5 miliar. Rentang itu bergantung seberapa cepat ramp-up produksi tercapai.

“Perhitungan tersebut menggunakan asumsi harga jual rata-rata ( average selling price /ASP) aluminium sebesar US$ 3.000 per ton,” jelas Raka. Asumsi ASP ini menjadi fondasi revisi model keuangan sekuritas.

Metrik Nilai
Volume ekspor perdana 35.000 ton
Alokasi Amerika Serikat 31.500 ton
Alokasi Korea Selatan 3.600 ton
Kapasitas awal pabrik 500 ktpa
Potensi kapasitas penuh 1,5 mtpa
ASP aluminium (asumsi) US$3.000/ton
Potensi pendapatan aluminium US$1,5–4,5 miliar/tahun
Estimasi produksi aluminium 2026 275.000 ton
Estimasi laba bersih ADRO 2026 US$612 juta
Estimasi pendapatan total ADRO 2026 US$2,8 miliar
ASP batubara kokas US$173/ton (+12,5% YoY)

Dampak revisi estimasi laba bersih serta pendapatan 2026

Dampak revisi estimasi laba bersih serta pendapatan 2026

Estimasi volume produksi aluminium digeser ke 275.000 ton, dari angka lama 198.000 ton. Bersamaan dengan itu, asumsi ASP aluminium dinormalisasi ke US$3.000 per ton.

Akibat dua penyesuaian itu, bottom line ADRO 2026 dipatok US$612 juta setelah ditambah 21 persen dari model sebelumnya. Proyeksi top line grup juga diselaraskan menjadi US$2,8 miliar untuk tahun berjalan.

Optimaise News mencatat bahwa lonjakan laba 37 persen secara tahunan mencerminkan bobot aluminium yang mulai masuk skenario analis. Diversifikasi ini memberi lapisan pertumbuhan di luar siklus harga batubara murni.

Peran batubara kokas dalam proyeksi keseluruhan

Meski aluminium menjadi pemicu revisi, batubara kokas tetap menopang arus kas inti. Asumsi ASP batubara kokas dipertahankan di US$173 per ton.

Angka tersebut sudah memasukkan kenaikan 12,5 persen dibanding basis tahunan sebelumnya. Kombinasi dua komoditas itu membuat model pendapatan ADRO lebih seimbang daripada era pure-play batubara.

Stabilnya asumsi kokas membantu membatasi downside jika ramp-up aluminium lebih lambat dari perkiraan. Sebaliknya, bila produksi logam melampaui 275.000 ton, upside laba bisa melebihi skenario saat ini.

Implikasi valuasi saham setelah penyesuaian analis

Naiknya estimasi laba dan kapasitas aluminium membuka ruang penyesuaian target harga di meja riset sekuritas. Investor menimbang apakah arus kas aluminium cukup mengurangi volatilitas yang selama ini terikat harga batubara.

Narasi pasar sebelumnya sempat menyoroti valuasi ADRO yang relatif menarik di tengah tekanan komoditas. Debut ekspor ke AS dan Korsel menambah argumen bahwa diversifikasi hilir sudah beralih dari wacana ke realisasi volume.

Ke depan, frekuensi pengiriman berikutnya dan realisasi ASP aktual akan menjadi indikator apakah proyeksi US$612 juta bertahan atau perlu disesuaikan lagi. Transparansi produksi ADMR juga akan memengaruhi sentimen likuiditas saham induk.

FAQ

Berapa volume ekspor aluminium perdana ADRO?

ADMR, anak usaha ADRO, mengirim 35.000 ton aluminium pada Juni 2026 sebagai pengiriman perdana grup.

Ke negara mana aluminium ADRO diekspor?

Sebanyak 31.500 ton dikirim ke Amerika Serikat dan 3.600 ton ke Korea Selatan.

Berapa estimasi laba bersih ADRO 2026 setelah revisi MNC Sekuritas?

Estimasi dinaikkan 21 persen menjadi US$612 juta, setara pertumbuhan 37 persen secara tahunan.

Berapa kapasitas dan potensi pabrik aluminium ADRO?

Kapasitas awal 500 kiloton per tahun, dengan potensi ditingkatkan hingga 1,5 juta ton per tahun bila ekspansi penuh tercapai.

Dyah
Redaktur Hiburan

Dyah adalah redaktur hiburan Optimaise News. Meliput film, selebriti, drama Asia, dan industri hiburan regional. Menyusun berita hiburan berbasis rilis, unggahan resmi, dan konteks industri agar pembaca mendapat ringkasan yang jelas, bukan sekadar copas judul viral.