Arus modal asing di Bursa Efek Indonesia berbalik arah pada periode 13–17 Juli 2026. Setelah pekan sebelumnya mencetak net sell Rp1,7 triliun, investor luar negeri membukukan net buy Rp442 miliar di pasar reguler.
Magnet selektifnya tiga emiten berkapitalisasi besar yang PE TTM-nya 7,1–8,7 kali: Bank Mandiri (BMRI), Chandra Asri Pacific (TPIA), dan Aneka Tambang (ANTM). Data Stockbit Sekuritas per Minggu (19/7/2026) juga menempatkan ketiganya sebagai nama dengan ROE yang dinilai solid.
Valuasi PE TTM di kisaran 7-9 kali sebagai penarik utama
Trailing PE menjadi filter pertama yang paling mudah dibaca. BMRI tercatat 7,1 kali, TPIA 8 kali, dan ANTM 8,7 kali.
Rentang di bawah sembilan kali itu menempatkan trio ini di zona valuasi yang sering dipantau dana asing selektif. Optimaise News mencermati bahwa bank, petrokimia, dan logam jarang muncul serempak dalam satu basket PE serupa.
| Emiten | Kode | PE TTM |
|---|---|---|
| Bank Mandiri | BMRI | 7,1x |
| Chandra Asri Pacific | TPIA | 8x |
| Aneka Tambang | ANTM | 8,7x |
Angka valuasi itu diambil dari pantauan Stockbit pada 19 Juli 2026. PE rendah tidak menjamin arah harga, tetapi menjelaskan kenapa aliran beli terpusat.
Bagi pelaku yang membandingkan big cap lintas sektor, ambang sub-9x memberi kerangka cepat tanpa harus membuka model valuasi penuh. Konteks itu relevan saat pasar sedang menyaring mana yang murah secara relatif.
Rincian nominal net buy asing per emiten 13-17 Juli 2026

BMRI menjadi favorit mutlak dengan beli bersih Rp557,1 miliar. Transaksi itu tercatat di pasar reguler sepanjang sepekan tersebut.
TPIA menyusul Rp244 miliar, sementara ANTM diguyur Rp237,4 miliar. Akumulasi ketiga kode saja menembus Rp1,03 triliun, meski net buy seluruh pasar hanya Rp442 miliar.
| Emiten | Net buy asing (13–17 Juli 2026) |
|---|---|
| BMRI | Rp557,1 miliar |
| TPIA | Rp244 miliar |
| ANTM | Rp237,4 miliar |
Selisih antara total trio dan total pasar mengisyaratkan rotasi: asing menambah posisi di ketiga nama sambil melepas emiten lain secara bersih. Pola itu berbeda dari banjir masuk merata ke seluruh big cap.
Posisi BMRI sebagai net buy terbesar di bursa sepekan itu menegaskan penekanan pada perbankan yang valuasinya terkompresi. TPIA dan ANTM menjadi pelengkap sektor non-bank di dalam basket yang sama.
Kinerja harga penutupan Jumat dan arah berbeda ketiga saham

Pada penutupan Jumat (17/7/2026), arah harga tidak seragam. BMRI melonjak 3,9 persen dan ditutup di Rp4.480.
TPIA menguat tipis 0,7 persen ke Rp1.945. Sebaliknya ANTM turun 0,3 persen ke Rp3.070, meski tetap dibeli asing secara bersih sepanjang sepekan.
Pola itu menegaskan bahwa aksi borong asing tidak otomatis sejalan dengan kenaikan harga harian. Likuiditas domestik, aksi ambil untung, dan sentimen komoditas bisa membelokkan penutupan sesi.
Bagi pembaca yang hanya melihat ticker hijau-merah, data net buy memberi lapisan kedua. ANTM contoh nyata: aliran beli sepekan positif, penutupan Jumat justru melemah.
Pergeseran sentimen: dari net sell triliunan ke net buy ratusan miliar
Pekan sebelumnya, asing masih mencatat net sell Rp1,7 triliun di BEI. Pembalikan ke net buy Rp442 miliar dalam satu siklus perdagangan menunjukkan perubahan mood yang tajam.
Pergeseran ini relevan bagi pelaku ritel yang memantau aliran dana asing sebagai sinyal sekunder. Namun total pasar yang lebih kecil dari akumulasi tiga emiten menandakan rotasi selektif, bukan euforia menyeluruh.
Menurut pantauan Optimaise News, pembalikan arah sepekan seperti ini sering memicu pertanyaan lanjutan soal daya tahan aliran. Data yang tersedia menghentikan klaim di angka periode 13–17 Juli 2026 saja, tanpa proyeksi pekan berikutnya.
Investor yang meniru basket asing perlu memisahkan sinyal flow dari keputusan alokasi pribadi. Nominal besar di BMRI tidak berarti profil risiko bank cocok untuk semua portofolio.
ROE solid sebagai penopang daya tarik di tengah harga murah
Meski PE rendah, ketiga emiten dinilai punya return on equity yang baik menurut data Stockbit. Filter ROE membedakan harga murah karena tekanan fundamental dari harga murah dengan daya labur yang bertahan.
BMRI mewakili perbankan, TPIA kimia-petrokimia, dan ANTM tambang logam. Diversifikasi sektoral di basket yang sama membuat aliran tampak selektif, bukan spekulasi sempit satu industri.
Kombinasi PE sub-9x plus ROE solid itulah yang menjelaskan kenapa net buy terpusat di trio non-homogen ini. Gap itu jarang diangkat utuh di banyak ringkasan pasar yang hanya memajang daftar bank besar.
Bagi investor jangka menengah, kerangka valuasi-plus-ROE memberi checklist ringkas sebelum meniru aliran asing. Tetap perlu dicek laporan keuangan, prospek sektor, dan toleransi fluktuasi harian masing-masing kode.
FAQ
Saham mana yang paling banyak dibeli asing sepekan 13–17 Juli 2026?
BMRI memimpin dengan net buy Rp557,1 miliar, disusul TPIA Rp244 miliar dan ANTM Rp237,4 miliar di pasar reguler.
Berapa rasio PE TTM ketiga emiten tersebut?
BMRI 7,1 kali, TPIA 8 kali, dan ANTM 8,7 kali berdasarkan data Stockbit per 19 Juli 2026.
Apakah seluruh pasar BEI juga net buy pada periode yang sama?
Ya. Total net buy asing di BEI sepekan itu Rp442 miliar, berbalik dari net sell Rp1,7 triliun pekan sebelumnya.
Bagaimana penutupan harga ketiga saham pada Jumat 17 Juli 2026?
BMRI naik 3,9 persen ke Rp4.480, TPIA naik 0,7 persen ke Rp1.945, sedangkan ANTM turun 0,3 persen ke Rp3.070.







