Malang, Optimaise News – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang resmi membuka Program Pendampingan Desa Wisata 2026 di akhir Juli 2026. Acara berlangsung di Balai Dusun Drigu, Desa Poncokusumo, dengan sasaran utama dua lokasi: Poncokusumo di Kecamatan Poncokusumo dan Ngawonggo di Kecamatan Tajinan.
Inti artikel
- Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang resmi membuka Program Pendampingan Desa Wisata 2026 di akhir Juli 2026
- Tujuan utamanya jelas, yakni menaikkan kualitas manajemen, jumlah kunjungan, dan perputaran uang di masyarakat desa
- Mitra yang dilibatkan adalah CV Kreol Indonesia bersama East Java Ecotourism Forum atau EJEF
Tujuan utamanya jelas, yakni menaikkan kualitas manajemen, jumlah kunjungan, dan perputaran uang di masyarakat desa. Mitra yang dilibatkan adalah CV Kreol Indonesia bersama East Java Ecotourism Forum atau EJEF. Optimaise News mencatat program ini menjadi langkah praktis bagi pengelola lokal yang ingin merapikan destinasi berbasis komunitas.
Fokus 2026: layanan, kelembagaan, dan pengelolaan profesional
Program ini digelar rutin setiap tahun. Tahun 2026 penekanannya digeser ke kualitas pelayanan, penguatan kelembagaan, serta pengelolaan yang lebih rapi dan berkelanjutan. Pelatihan tidak hanya teori. Tim langsung menyertakan pengelola desa wisata dan tenaga yang sudah berpengalaman di sektor pariwisata berbasis masyarakat.
Ir. Budi Susilo, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata di Disparbud Kabupaten Malang, menjelaskan bahwa dampingan sangat diperlukan. Menurutnya, setiap desa punya aset berbeda. Identifikasi awal akan membantu merapikan tata kelola sebelum skala kunjungan diperbesar.
Dalam pernyataan yang disampaikan Minggu 9 Agustus 2026, Budi Susilo menegaskan arah kerja. Ia berharap manajemen desa wisata semakin baik, jumlah wisatawan bertambah, lalu dampaknya terasa pada perputaran ekonomi warga setempat. Harapan itu menjadi ukuran keberhasilan program, bukan sekadar jumlah kegiatan.
Peran EJEF dan Kreol: merangkai keunikan jadi paket perjalanan

Rachmanu Tri Anugerah dari EJEF menekankan perbedaan mendasar. Destinasi biasa sering harus menciptakan atraksi baru. Desa wisata justru sudah membawa daya tarik khas yang jarang ditemui di tempat lain. Baik Poncokusumo maupun Ngawonggo sudah memiliki modal itu.
Tugas pendamping selanjutnya adalah mengelola aset yang ada, lalu menghubungkannya menjadi rangkaian perjalanan yang runtut dan berkesan. Paket tidak harus mewah. Yang diutamakan adalah alur pengalaman, kejelasan informasi, dan keterlibatan warga agar tamu merasa nyaman dan ingin kembali.
CV Kreol Indonesia serta EJEF diposisikan sebagai mitra teknis. Mereka membantu merancang alur kerja lapangan, melatih pengelola, dan mendorong koordinasi antarpelaku. Model ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada event sesaat dan lebih mengandalkan sistem yang bisa dijalankan warga sehari-hari.
Kesiapan desa dan dampak bagi pelaku usaha lokal

Kepala Desa Poncokusumo Syamsul Mulio menyatakan pemerintah desa bersama kelompok sadar wisata sudah siap ikut rangkaian pendampingan. Kesiapan itu penting karena pelaksanaan di lapangan banyak bergantung pada komitmen pengelola dan tokoh lokal.
Bagi pelaku UMKM di sekitar destinasi, program ini bisa membuka ruang produk lokal masuk ke dalam alur kunjungan. Makanan, kerajinan, serta jasa pemandu berpeluang mendapat jadwal yang lebih teratur jika paket perjalanan disusun dengan rapi. Pengelola tidak lagi menunggu musim libur besar saja, melainkan merancang kalender sederhana sepanjang tahun.
Dari sisi kelembagaan, penataan pokdarwis dan pemetaan peran warga menjadi prioritas. Tanpa pembagian kerja yang jelas, atraksi alami sering tidak terekam dengan baik. Pendampingan digarap agar dokumentasi, standar layanan, dan alur komunikasi dengan calon tamu lebih terukur.
Langkah praktis yang bisa ditiru desa lain
Pembukaan di Balai Dusun Drigu menjadi sinyal dimulainya proses. Setelah itu, kegiatan lapangan akan menyasar dua desa sekaligus. Tim akan mengidentifikasi potensi, menyusun prioritas, lalu merapikan pengelolaan harian. Pendekatan ini memberi contoh bahwa desa tidak perlu memulai dari nol jika sudah punya keunikan.
Optimaise News melihat pola kerja yang relevan untuk pengelola destinasi skala kecil. Mulai dari inventarisasi aset, latih staf, hubungkan elemen lokal, lalu uji paket sederhana. Setelah umpan balik masuk, barulah skala diperluas. Cara itu lebih hemat sumber daya dibanding membangun atraksi baru yang belum teruji.
Keberhasilan diukur dari tiga indikator yang disampaikan pejabat dinas: manajemen yang naik kelas, volume kunjungan yang bertambah, serta perputaran ekonomi warga yang terasa. Jika ketiganya bergerak, program 2026 bisa menjadi acuan bagi desa wisata lain di Kabupaten Malang yang ingin merapikan pengelolaan tanpa kehilangan karakter setempat.







