Semesta Indovest Sekuritas memulai cakupan riset terhadap PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) dengan rekomendasi beli dan target harga Rp1.725 per saham. Analis Nicholas Dharmawan menilai pendapatan investasi topang pertumbuhan kinerja TUGU bersama perbaikan disiplin underwriting dalam beberapa tahun ke depan.
Penilaian itu disampaikan di Jakarta, Kamis (16/7/2026), dan kembali menjadi sorotan pasar pada Jumat (17/7/2026). Optimaise News mencatat, investor juga memantau rencana konsolidasi asuransi BUMN sebagai konteks industri yang menyertai sentimen positif emiten asuransi umum ini.
Valuasi TUGU dinilai belum mencerminkan fundamental
Nicholas menilai valuasi TUGU saat ini belum mencerminkan kualitas fundamental perusahaan. Saham TUGU masih diperdagangkan pada kisaran 0,4 kali price-to-book value (PBV), jauh lebih rendah dibanding rata-rata perusahaan asuransi umum.
Padahal, menurutnya, emiten ini memiliki permodalan solid, profitabilitas yang terus membaik, dan prospek pertumbuhan menarik. Ia menekankan valuasi masih terlalu murah dibanding prospek laba dan kualitas fundamental.
“Kami menginisiasi riset TUGU dengan rekomendasi BUY dan target harga Rp1.725 per saham. Kami melihat valuasi TUGU saat ini masih terlalu murah dibandingkan prospek pertumbuhan laba dan kualitas fundamentalnya,”
ujar Nicholas dikutip di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Dua faktor yang topang pertumbuhan kinerja

Menurut Nicholas, dua faktor utama akan menopang pertumbuhan kinerja TUGU ke depan. Pertama, meningkatnya disiplin underwriting yang mendorong perbaikan rasio operasional perusahaan.
Kedua, kenaikan pendapatan investasi seiring membesarnya portofolio investasi dan masih tingginya tingkat suku bunga. Kombinasi keduanya disebut menjadi penopang utama prospek laba emiten.
Dalam ringkasan Optimaise News, frasa investasi topang pertumbuhan menjadi penekanan analis karena portofolio yang membesar berpotensi menambah kontribusi non-underwriting. Disiplin underwriting tetap menjadi fondasi agar rasio operasional tidak longgar saat ekspansi.
Laba bersih diproyeksi naik ke Rp942 miliar

Kedua faktor tersebut diperkirakan mampu mendorong laba bersih TUGU tumbuh dari Rp711 miliar pada 2025 menjadi sekitar Rp942 miliar pada 2027. Angka itu menjadi acuan proyeksi yang diangkat analis dalam inisiasi riset.
Proyeksi tersebut menempatkan Tugu Insurance pada lintasan pertumbuhan laba yang lebih tegas dalam dua tahun ke depan. Investor ritel dan institusi dapat membandingkan realisasi tahunan dengan rentang proyeksi itu tanpa mengabaikan risiko suku bunga dan underwriting.
Rating AM Best A- dan ruang ekspansi reasuransi
Selain prospek laba, TUGU dinilai memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi, termasuk posisi permodalan yang kuat. Perusahaan mempertahankan Financial Strength Rating A- dari AM Best selama 10 tahun berturut-turut.
Menurut Nicholas, rekam jejak itu menunjukkan kekuatan modal, kualitas manajemen risiko, serta kredibilitas TUGU dalam memperoleh kapasitas reasuransi untuk proyek bernilai besar. Sisi permodalan tersebut memberi ruang ekspansi bisnis di segmen yang membutuhkan kapasitas tinggi.
Dengan inisiasi riset, target harga, dan dua pilar pertumbuhan yang jelas, sentimen pasar terhadap TUGU mendapat landasan fundamental yang lebih terukur. Pemantauan lanjutan tetap perlu diarahkan pada realisasi underwriting, hasil investasi, dan dinamika konsolidasi asuransi BUMN.






