9.059 Ton Sampah Sehari di Jakarta, Sisa Makanan Jadi Beban Utama

Jakarta, Optimaise News - Tumpukan sampah yang memenuhi akses jalan di TPS Rawadas, Pondok Kopi, dan Duren Sawit di wilayah Duren Sawit menjadi bukti lapangan betapa sisa makanan memberatkan pengelolaan sampah perkotaan

Author Image

Bagus

9.059 Ton Sampah Sehari di Jakarta, Sisa Makanan Jadi Beban Utama

– Tumpukan sampah yang memenuhi akses jalan di TPS Rawadas, Pondok Kopi, dan Duren Sawit di wilayah Duren Sawit menjadi bukti lapangan betapa sisa makanan memberatkan pengelolaan sampah perkotaan Jakarta. Dari total timbulan sekitar 9.059 ton setiap hari, hampir separuhnya adalah sampah organik yang didominasi food waste atau sisa makanan.

Inti artikel

  • Dari total timbulan sekitar 9.059 ton setiap hari, hampir separuhnya adalah sampah organik yang didominasi food waste atau sisa makanan
  • Angka itu bukan statistik kosong
  • Bagi warga, setiap piring tersisa di meja langsung menambah volume yang harus dikumpulkan, diangkut, dan diolah petugas

Angka itu bukan statistik kosong. Bagi warga, setiap piring tersisa di meja langsung menambah volume yang harus dikumpulkan, diangkut, dan diolah petugas. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dudi Gardesi Asikin menegaskan volume food waste sebagai tantangan besar sistem kota, sehingga paket solusi kebiasaan harian plus kolaborasi hotel-restoran-katering jadi andalan.

Skala Timbulan dan Porsi Sisa Makanan di Ibu Kota

Data resmi menempatkan timbulan sampah DKI Jakarta di kisaran 9.059 ton per hari. Hampir separuh volume tersebut berupa material organik, dan sisa makanan mendominasi komposisi itu.

Bagi warga ibu kota, angka ini punya arti langsung. Setiap sisa di rumah tangga atau usaha makan berkontribusi pada gunungan di titik kumpul yang kemudian membebani armada dan fasilitas pengolahan.

Kondisi di TPS Rawadas, Pondok Kopi, serta Duren Sawit yang menutup akses jalan memperkuat gambaran skala masalah. Food waste tidak lagi soal perilaku personal semata, melainkan beban nyata infrastruktur harian kota.

Mengapa Food Waste Memberatkan Rantai Pengelolaan Kota

Dudi Gardesi Asikin menyebut volume sisa makanan tantangan besar dalam sistem perkotaan. Setiap ton yang terbuang memperpanjang rantai kerja mulai dari pengumpulan di sumber, pengangkutan armada, hingga proses di fasilitas pengolahan.

Pengurangan langsung di hulu akan menekan beban di seluruh mata rantai. Tanpa intervensi, sistem kota terus digerus volume yang sebenarnya bisa dicegah lewat pengelolaan pangan lebih baik.

Framing ini menempatkan food waste sebagai isu struktural rantai kumpul-angkut-olah. Solusinya harus memotong dari kebiasaan mengelola pangan sehari-hari, bukan hanya menambah kapasitas di hilir.

Kebiasaan Harian yang Bisa Memangkas Volume dari Sumber

Warga didorong menerapkan kebiasaan sederhana yang berdampak besar. Mulai merencanakan belanja sesuai kebutuhan agar bahan tidak menumpuk lalu rusak, mengambil porsi secukupnya saat makan, hingga menghabiskan apa yang sudah diambil.

Pangan yang masih layak bisa diolah ulang menjadi hidangan baru. Sisa yang tak terhindari wajib dipilah organik dan anorganik sejak dari rumah supaya memudahkan pengolahan lanjutan.

Checklist praktis ini disintesis dari arahan pejabat dan mitra: rencanakan belanja, ambil secukupnya, habiskan, olah ulang yang layak, lalu pilah dari sumber. Perubahan di tingkat rumah tangga langsung memangkas volume yang masuk sistem kota dan meringankan petugas di lapangan.

Gerakan Bijak Pangan Dipadukan Pilah Sampah

Pemprov DKI menggulirkan Gerakan Warga Jakarta Bijak Pangan yang dipadukan secara integral dengan Gerakan Pilah Sampah. Keduanya bukan program terpisah, melainkan satu paket intervensi dari sumber untuk menekan sisa makanan sekaligus meningkatkan kualitas pemilahan.

Dengan menyatukan ajakan bijak mengelola pangan dan memilah sampah, warga mendapat panduan utuh. Hasilnya volume organik sisa makanan berkurang, sementara sisa yang ada lebih mudah diolah karena sudah dipisah sejak rumah.

Integrasi dua gerakan ini menjadi penekanan penting agar dampaknya sistemik. Warga yang menerapkan keduanya berkontribusi ganda pada peringanan beban rantai pengelolaan kota.

Kolaborasi IBCSD, Komunitas, dan Sektor HORECA

Program dijalankan bersama Indonesia Business Council for Sustainable Development atau IBCSD, melibatkan komunitas serta pelaku hotel, restoran, dan katering. Sektor HORECA punya peran besar karena volume sisa di usaha mereka sering signifikan dan berdampak langsung ke timbulan harian.

Executive Director IBCSD Indah Budiani mendorong kebiasaan sederhana, termasuk menyimpan pangan dengan benar agar tidak cepat rusak serta menyalurkan pangan yang masih layak ke pihak yang membutuhkan. Kolaborasi multi-pihak ini menyatukan Pemprov, dunia usaha, komunitas, dan warga dalam satu gerakan.

Gambaran utuhnya tampak dari rumah tangga yang merencanakan belanja, restoran yang menyesuaikan porsi, hingga komunitas yang menyalurkan surplus. Hanya dengan sinergi seperti ini food waste bisa ditekan secara nyata di ibu kota dan rantai kumpul-angkut-olah benar-benar mereda.

Bagus
Redaktur Berita & Game

Bagus adalah redaktur berita Optimaise News. Meliput isu nasional, kriminal, dan game. Menyusun hard news dan berita umum dengan prioritas kejelasan siapa-apa-kapan-di mana, cocok untuk halaman beranda dan pembaca yang butuh ringkasan cepat.