26 Titik Pendidikan Gratis: Surabaya Buka Akses Kejar Paket A-C

Pemkot Surabaya melalui Dispendik menyediakan 26 lokasi belajar gratis untuk Kejar Paket A, B, dan C. Fasilitas tersebar di sembilan titik KRISNA dan 17 PKBM.

Author Image

Adel

26 Titik Pendidikan Gratis: Surabaya Buka Akses Kejar Paket A-C

– Pemerintah Kota Surabaya lewat Dinas Pendidikan kini menggelar total 26 titik gratis untuk Kejar Paket A, B, dan C. Jaringan itu menyatukan sembilan lokasi program KRISNA dengan 17 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di berbagai pelosok Kota Pahlawan.

Inti artikel

  • Pemerintah Kota Surabaya lewat Dinas Pendidikan kini menggelar total 26 titik gratis untuk Kejar Paket A, B, dan C
  • Jaringan itu menyatukan sembilan lokasi program KRISNA dengan 17 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di berbagai pelosok Kota Pahlawan
  • Angka 26 itu bukan sekadar label

Dalam rangkuman Optimaise News, langkah ini digelar agar warga yang putus sekolah atau sudah melewati usia formal tetap bisa mengejar ijazah tanpa batasan umur. Kepala Dispendik Febrina Kusumawati menekankan hak belajar bagi semua elemen usia.

Rincian 26 lokasi belajar di Surabaya

Angka 26 itu bukan sekadar label. Sembilan titik KRISNA, singkatan Kesetaraan Hadir untuk Masyarakat, memakai ruang publik yang dekat warga: aula kecamatan, Balai RW, hingga fasilitas lain yang bisa dialihfungsi jadi ruang kelas.

Sementara 17 PKBM melengkapi jaringan nonformal di tingkat komunitas. Gabungan keduanya memungkinkan warga menempuh Paket A setara SD, Paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA tanpa harus mencari lokasi jauh dari rumah.

Febrina merinci ruang KRISNA dengan tegas. “Kami memiliki sembilan lokasi KRISNA yang bertempat di aula kecamatan, Balai RW, atau lokasi lain yang bisa digunakan sebagai sarana belajar,” ujarnya terkait sebaran fasilitas di wilayah Surabaya.

Fleksibilitas jadwal untuk warga yang sudah kerja

Fleksibilitas jadwal untuk warga yang sudah kerja
Fleksibilitas jadwal untuk warga yang sudah kerja.

Banyak peserta sudah punya pekerjaan harian. Dispendik merespons dengan memberi kelonggaran jam belajar yang bisa dibicarakan langsung bersama tutor, bukan jam sekolah formal yang kaku.

Contoh yang dipakai Febrina sangat gamblang. “Misalnya usianya sudah 25 tahun tetapi baru tamat SMP dan ingin lanjut ke jenjang SMA, namun terkendala waktu jika harus sekolah formal. Di sini ada fleksibilitas waktu yang bisa dikomunikasikan bersama para tutor,” jelasnya.

Dengan pola itu, warga dewasa yang dulu terpaksa berhenti sekolah tetap bisa melanjutkan tanpa meninggalkan mata pencarian. Optimaise News mencatat dari keterangan pejabat bahwa pendidikan kesetaraan memang digeser mendekati ritme hidup warga, bukan sebaliknya.

Open class responsif berdasarkan laporan kelurahan

Open class responsif berdasarkan laporan kelurahan
Ilustrasi Open class responsif berdasarkan laporan kelurahan.

Kalau di satu kawasan banyak warga belum berijazah tetapi belum ada kelas, Dispendik siap membuka open class. Respons itu tidak menunggu antrean panjang di pusat kota.

Warga cukup menyampaikan kebutuhan lewat kantor kelurahan setempat atau datang langsung ke Kantor Dispendik Surabaya. Data lapangan lalu dijadikan dasar penempatan tutor dan ruang belajar baru.

Model laporan dari bawah ke atas ini membuat layanan tidak berhenti di 26 titik yang sudah ada. Wilayah yang semula kosong pun bisa segera diisi kelas jika permintaan warga terverifikasi.

Pelatihan vokasi jadi penguat daya saing lulusan

Program KRISNA tidak hanya mengejar dokumen kelulusan. Materi keterampilan disisipkan agar peserta punya bekal praktis saat memasuki pasar kerja setelah menuntaskan paket.

Lulusan Paket C juga punya hak yang sama untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Febrina memaparkan bukti lapangan: “Kisah suksesnya, lulusan Kejar Paket C bisa masuk perguruan tinggi. Bahkan kemarin ada lulusan yang berhasil menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN),” pungkasnya.

Kombinasi ijazah setara SMA dan keterampilan vokasi menjadi modal ganda. Warga tidak hanya mengejar status administrasi, tetapi juga peluang kerja dan studi lanjut yang setara jalur formal.

Cara daftar dan akses layanan kesetaraan

Langkah praktisnya sederhana. Datang ke kelurahan untuk menyampaikan kebutuhan open class atau konsultasi jenjang, atau langsung ke Kantor Dispendik bila ingin mempercepat verifikasi.

Siapkan data riwayat sekolah terakhir agar tutor menempatkan Anda di Paket A, B, atau C yang tepat. Setelah terdaftar, atur jadwal belajar fleksibel dengan tutor di titik KRISNA atau PKBM terdekat.

Fasilitas publik yang sudah dipakai program memastikan kelas sering kali berada di lingkungan yang familiar. Warga putus sekolah masa lalu maupun pekerja shift malam punya jalur yang sama tanpa batasan usia formal.

FAQ
Berapa total lokasi belajar kesetaraan di Surabaya?
Totalnya 26 titik: sembilan program KRISNA dan 17 PKBM yang tersebar di Kota Surabaya.
Apakah ada batasan usia untuk Kejar Paket A, B, dan C?
Tidak. Layanan terbuka bagi semua elemen usia, termasuk warga yang sudah melewati usia sekolah formal atau putus sekolah di masa lalu.
Bagaimana cara minta open class di wilayah yang belum ada kelas?
Ajukan lewat kantor kelurahan setempat atau datang langsung ke Kantor Dispendik Surabaya agar kelas baru bisa dibuka sesuai kebutuhan lapangan.
Adel
Redaktur Tren

Adel adalah redaktur tren Optimaise News. Meliput Google Trends, topik viral, dan isu hangat harian di Indonesia. Menyusun artikel tren agar pembaca paham kenapa topik naik dan apa konteksnya, bukan hanya meniru judul yang sedang ramai.