Padang, Optimaise News – Zhifanna Putri Allaysa, peserta Dangdut Academy 8 asal Pesisir Selatan, merasakan perubahan harian besar sejak masuk karantina. Di belakang panggung babak Top 37 di Studio Emtek Indosiar, ia menceritakan rutinitas asrama yang memaksanya tumbuh mandiri, sambil terus berpegang pada pesan mama.
Inti artikel
- Zhifanna Putri Allaysa, peserta Dangdut Academy 8 asal Pesisir Selatan, merasakan perubahan harian besar sejak masuk karantina
- Pindah dari Pesisir Selatan ke asrama kontes berarti meninggalkan jadwal yang dulu terisi penuh
- Di kampung halaman, harinya banyak dihabiskan di sekolah dan di panggung-panggung kecil di Padang
Menurut rangkuman Optimaise News dari keterangan yang dibagikan di lokasi acara, satu hal paling mencolok adalah urusan mencuci pakaian: di rumah ia hampir tak pernah melakukannya, kini justru jadi bagian wajib supaya tetap siap tampil.
Dari Padang ke Studio Emtek: Rutinitas Baru Zhifanna di Karantina DA8
Pindah dari Pesisir Selatan ke asrama kontes berarti meninggalkan jadwal yang dulu terisi penuh. Di kampung halaman, harinya banyak dihabiskan di sekolah dan di panggung-panggung kecil di Padang. Sekarang pola itu diganti dengan latihan, penampilan, dan kehidupan bersama peserta lain di karantina DA8.
Penyesuaian itu bukan hanya soal lagu. Ia belajar mengatur waktu, berbagi fasilitas, dan menjaga kebersihan pribadi di tengah tekanan kompetisi Top 37. Konteks ini relevan bagi pembaca muda yang baru tinggal di asrama atau karantina lomba: mandiri kecil seperti laundry sering jadi ujian pertama sebelum urusan panggung.
Dalam himpunan sumber yang dirangkum Optimaise News, momen wawancara digelar usai penampilan di Studio Emtek Indosiar. Zhifanna melaju ke Top 31 dan sempat borong SO, sementara dinamika Top 37 Grup 6 juga mencatat Niswah Pemalang tersenggol meski mendapat 2 SO juri.
Cuci Baju Jadi Ujian Terbesar, Dulu Waktu Habis Sekolah dan Nyanyi

Perubahan terbesar yang ia rasakan justru banal: mencuci pakaian sendiri. Saat masih di rumah, kebiasaan itu jarang, bahkan hampir tidak pernah. Alasan sederhananya padatnya aktivitas: sekolah plus undangan menyanyi di Padang menyita sisa waktu.
Kontras itu menandai kedewasaan peserta Top 37. Di karantina, tak ada orang rumah yang otomatis merapikan setelan untuk panggung. Ia harus menyiapkan kostum sendiri agar tetap rapi saat tampil di depan juri dan kamera.
Bagi penonton yang mengikuti DA8, detail laundry terasa dekat. Banyak finalis muda tiba dengan skill panggung kuat, tapi keterampilan harian di asrama baru diasah di situ. Zhifanna menempatkan cuci baju sebagai bukti konkret bahwa karantina mengubah cara hidup, bukan hanya cara bernyanyi.
Pesan Mama Jadi Bekal Utama Saat Beradaptasi di Asrama
Judul cerita ini menyinggung pesan mama, dan itulah pegangan yang ia bawa ke asrama. Saat rutinitas baru menekan, ingatan pada nasihat ibu menjadi kompas agar tetap disiplin dan tidak goyah.
Di tengah padatnya latihan, pesan itu berfungsi seperti jangkar emosional. Ia tidak hanya belajar teknik dangdut; ia juga belajar menahan rindu sambil menyelesaikan tugas kecil yang dulu dikerjakan orang lain di rumah.
Nilai itu mudah dibaca sebagai pelajaran bagi penonton seumuran: talent show mengajarkan panggung, tapi asrama menguji kemandirian. Mengingat pesan mama membantu Zhifanna menyeimbangkan tuntutan kontes dengan sikap yang tenang di luar spotlight.
Backstage Top 37: Zhifanna Buka-bukaan Soal Kebiasaan yang Berubah Total
Wawancara digelar di area belakang panggung Top 37 D’Academy 8. Di sana ia membuka soal kebiasaan yang berubah total sejak karantina: dari jarang menyentuh cucian hingga menjadikan pekerjaan itu bagian dari hari.
Babak Top 37 juga diisi potret peserta lain, termasuk kelompok asal Jawa Barat, serta momen duet Rama dan Alexa yang membuat Lesti Kejora, Soimah, hingga Wika Salim berdiri memberi pujian. Latar kompetisi itu memperlihatkan betapa ketatnya stage yang sedang dijalani Zhifanna.
Di luar panggung, berita DA8 sempat diwarnai absennya Melly Lee karena kondisi ayah yang drop hingga harus pulang kampung, disusul kabar duka ayahnya meninggal dunia yang diungkapkan Arbil Fahrizan. Suasana itu menegaskan bahwa peserta dan juri sama-sama membawa beban pribadi sambil tetap tampil.






