Saung sederhana di Blok Como Desa Pilangsari, Jatibarang, Indramayu, masih berdiri dekat tanggul Cimanuk sebagai ruang baca gratis. Tempat itu digagas Tardiarto (46) bersama Komunitas Lentera Selawe sejak akhir 2018 dan menampung hampir seribu buku donasi warga serta bantuan pemerintah.
Inti artikel
- Saung sederhana di Blok Como Desa Pilangsari, Jatibarang, Indramayu, masih berdiri dekat tanggul Cimanuk sebagai ruang baca gratis
- Setahun terakhir pengunjung anjlok tajam di tengah dominasi gadget
- Rak berdebu, koleksi jarang diperbarui, namun komunitas desa tepi sungai ini terus berjuang merawat budaya baca lewat bekas pos ronda itu
Setahun terakhir pengunjung anjlok tajam di tengah dominasi gadget. Rak berdebu, koleksi jarang diperbarui, namun komunitas desa tepi sungai ini terus berjuang merawat budaya baca lewat bekas pos ronda itu. Optimaise News menyoroti perjuangan mereka yang tak padam.
Asal Usul Ruang Baca Gratis di Blok Como
Bangunan dulu hanya pos ronda sederhana untuk menjaga keamanan malam. Tardiarto melihat potensi literasi di desanya yang minim fasilitas baca resmi. Ia mengajak rekan Komunitas Lentera Selawe mengubah fungsi ruangan itu jadi perpustakaan mini terbuka.
Lokasi dekat tanggul Cimanuk memudahkan akses warga Blok Como dan sekitar. Tidak ada biaya masuk atau sewa. Anak-anak dan orang dewasa bebas mampir kapan saja selama ada yang menjaga.
Gagasan lahir dari keprihatinan terhadap minat baca yang rendah di desa tepi sungai. Sejak akhir 2018 mereka merapikan saung, memasang rak kayu, dan memasang papan penanda sederhana. Warga setempat menyambut baik perubahan itu.
Koleksi Donasi yang Mendekati Seribu Eksemplar

Hampir seribu buku kini memenuhi rak di saung itu. Mayoritas berasal dari sumbangan warga Desa Pilangsari dan bantuan dinas terkait. Isi koleksi beragam, mulai buku pengetahuan umum, novel, cerita anak, hingga komik favorit.
Komik dan cerita anak paling banyak diminati dulu. Novel ringan dan buku pelajaran juga tersedia untuk remaja. Semua ditata rapi biar mudah dipilih tanpa harus antri lama.
Tardiarto mencatat setiap sumbangan di buku catatan kecil. Ia rutin mengecek kondisi fisik buku agar tidak rusak parah. Donasi baru jarang masuk belakangan ini, jadi koleksi cenderung stagnan.
Masa Ramai Berkat Lapangan Bulutangkis

Saung pernah ramai setiap sore karena lapangan bulutangkis di samping rumah pengelola. Anak-anak selesai bermain langsung diajak mampir baca. Mereka duduk di tikar sambil buka komik atau buku cerita.
Suasana saat itu hidup. Orang tua menunggu sambil mengobrol di luar saung. Beberapa remaja bahkan pinjam novel untuk dibaca di rumah, lalu dikembalikan minggu berikutnya.
Kehadiran lapangan jadi magnet alami. Aktivitas fisik berpadu dengan kebiasaan baca tanpa dipaksa. Komunitas Lentera Selawe hanya perlu membuka pintu dan menyalakan lampu di sore hari.
Penurunan Kunjungan dan Buku yang Usang
Setahun terakhir suasana berubah total. Pengunjung sepi, rak penuh debu, dan banyak buku mulai usang. Anak-anak lebih asyik dengan ponsel dan game online di rumah.
Koleksi jarang diperbarui karena minim donasi baru. Beberapa judul favorit dulu kini robek di sudut halaman. Tardiarto mengaku sedih melihat saung sepi, tapi belum mau menyerah.
Dominasi gadget jadi tantangan utama di desa tepi sungai. Orang tua juga jarang mengajak anak ke saung. Hasilnya, budaya baca yang sempat hidup kembali meredup.
Strategi Komunitas Hadapi Tantangan Digital
Komunitas Lentera Selawe tak tinggal diam. Mereka mulai rapat rutin membahas cara tarik kembali pengunjung. Salah satu ide adalah kerja sama dengan sekolah dasar terdekat untuk jadwal kunjungan wajib.
Mobil Literasi Sungai menjadi salah satu pendekatan yang digagas agar buku bisa menjangkau anak-anak di titik lebih jauh sepanjang Cimanuk. Mereka berencana minta dukungan desa untuk perbaikan rak dan penambahan koleksi baru.
Tardiarto juga memanfaatkan media sosial sederhana untuk unggah foto kegiatan lama. Harapannya, orang tua teringat dan mau mengantar anak lagi. Optimaise News mencatat semangat itu masih kuat meski sumber daya terbatas.
Langkah lain termasuk lomba baca singkat di saung setiap akhir bulan. Hadiah sederhana dari iuran komunitas digelar biar anak-anak tertarik datang. Mereka yakin budaya baca bisa hidup lagi jika ada sentuhan konsisten.
Tanya Jawab Seputar Saung Baca Blok Como
Siapa penggagas utama saung baca di Blok Como?
Tardiarto (46) bersama Komunitas Lentera Selawe membuka ruang baca gratis itu sejak akhir 2018 di bekas pos ronda.
Berapa jumlah koleksi buku yang tersedia?
Hampir seribu eksemplar dari donasi warga dan bantuan pemerintah, berisi pengetahuan, novel, cerita anak, serta komik.
Mengapa kunjungan ke saung menurun tajam?
Dominasi gadget membuat anak-anak lebih sering di rumah. Lapangan bulutangkis di samping rumah pengelola juga jarang ramai seperti dulu.
Apa langkah komunitas ke depan?
Mereka mempertimbangkan Mobil Literasi Sungai dan kerja sama sekolah agar minat baca di tepi Cimanuk kembali hidup.





