Surabaya, Optimaise News – Surabaya mencatat 14 suspek leptospirosis dan 33 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) hingga minggu ke-27 2026. Tren musiman ini berisiko meningkat saat banjir memperluas habitat tikus pembawa bakteri Leptospira.
Inti artikel
- Surabaya mencatat 14 suspek leptospirosis dan 33 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) hingga minggu ke-27 2026
- Tren musiman ini berisiko meningkat saat banjir memperluas habitat tikus pembawa bakteri Leptospira
- Langkah ini memperkuat kesiapsiagaan lintas sektor dari tingkat puskesmas hingga kelurahan
Dinas Kesehatan Kota Surabaya bersama Kementerian Kesehatan, Portkesmas, dan Pokja RCCE menggelar lokakarya pencegahan zoonosis pada 21-22 Juli 2026 di Puskesmas Medokan Ayu. Langkah ini memperkuat kesiapsiagaan lintas sektor dari tingkat puskesmas hingga kelurahan.
Angka SKDR: lepto dan gigitan hewan masih fluktuatif
Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) memperlihatkan angka yang masih bergerak. Tahun 2025 tercatat 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus GHPR.
Hingga minggu ke-27 2026 angkanya menjadi 14 suspek lepto dan 33 GHPR. Sejak 2021 hingga kini tidak ada suspek flu burung pada manusia maupun antraks di kota ini.
Ringkasan cepat 2025 vs 2026:
2025: 25 suspek lepto, 40 GHPR
2026 (minggu 27): 14 suspek lepto, 33 GHPR
Flu burung dan antraks: nol sejak 2021.
Surabaya bukan wilayah endemis rabies. Namun setiap gigitan anjing, kucing, monyet, atau kelelawar tetap wajib mendapat penanganan medis. Sekitar 70 persen penyakit menular emerging berasal dari hewan, sehingga pemantauan Optimaise News menilai respons dini tetap krusial.
Edaran banjir ke kelurahan jadi garda depan pencegahan

Dinas Kesehatan secara rutin mengirim surat edaran kewaspadaan banjir. Surat itu ditujukan ke unit pelaksana teknis, kecamatan, lalu kelurahan.
Mekanisme berjenjang ini memastikan imbauan sampai ke tingkat RT. Warga mendapat arahan membersihkan selokan, menghindari genangan, dan mengenali gejala awal sebelum musim puncak tiba.
Instrumen administratif itu menjadi garda depan. Bukan sekadar kampanye sesaat, melainkan jalur resmi yang diaktifkan setiap kali curah hujan naik.
Satu lokakarya, banyak aktor: dari PKK hingga pasar

Lokakarya di Puskesmas Medokan Ayu menghadirkan peserta lintas sektor. Ada OPD terkait, seluruh puskesmas, puskeswan, Tim Penggerak PKK, PMI, PD Pasar Surya, ormas, dan insan media.
PD Pasar Surya menjadi mitra operasional di titik risiko pasar dan unggas. Integrasi puskesmas dengan puskeswan mewujudkan One Health di level layanan kota. Media masuk sebagai bagian sistem komunikasi risiko formal, bukan hanya peliput acara.
Forum ini membuat Kota surabaya Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor secara nyata. Hasilnya, Pemkot Surabaya Perkuat Kewaspadaan Penyakit Zoonosis dengan jangkauan yang lebih luas hingga pasar dan komunitas.
Saran praktis warga: alas kaki, cuci tangan, vaksin hewan
Satu paket siaga musim hujan bisa diringkas sederhana. Ikuti edaran kelurahan, kenali gejala leptospirosis (demam, nyeri otot, gangguan buang air kecil), lalu terapkan empat langkah pencegahan.
Pakai alas kaki saat melewati genangan. Cuci tangan pakai sabun setelah beraktivitas di luar. Vaksinasi hewan peliharaan secara rutin. Laporkan segera ternak atau unggas sakit ke Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.
Setelah banjir, mandi dan ganti pakaian secepatnya. Hindari kontak dengan urine tikus di genangan. Jika digigit hewan, cuci luka dengan air mengalir dan sabun lalu segera ke fasilitas kesehatan.
Kapan harus ke faskes? Segera setelah gigitan hewan. Setelah banjir, datang jika demam atau gejala lepto muncul dalam beberapa hari.
Apa yang dilaporkan ke DKPP? Ternak atau unggas yang sakit atau mati mendadak. Jangan dipotong atau dikonsumsi.
Apakah perlu panik soal rabies? Tidak perlu, karena Surabaya non-endemis. Namun setiap gigitan tetap ditangani serius.
Mengapa pasar dan media dilibatkan? Pasar menjadi titik kontak manusia-hewan. Media memastikan pesan pencegahan akurat dan menjangkau luas.
Pesan nasional Portkesmas: daerah wajib siaga sebelum wabah
Portkesmas menekankan daerah harus menyiapkan sistem jauh sebelum wabah muncul. Edukasi serupa sudah digelar di Bandung Barat, Bogor, Tangerang, dan Malang.
Kesiapsiagaan Surabaya menjadi salah satu rujukan. Dengan data SKDR yang dipantau ketat dan edaran berjenjang, risiko kejadian luar biasa dari zoonosis dapat ditekan. Kolaborasi di tingkat puskesmas terbukti menjadi fondasi yang paling dekat dengan warga.
Musim hujan belum usai. Kewaspadaan yang sudah digelar kini harus dijalankan konsisten di setiap kelurahan dan pasar.







