Sultan Brunei Hassanal Bolkiah mencabut gelar kerajaan “Yang Amat Mulia Pengiran Anak Isteri” dari menantu perempuannya, Raabi’atul Adawiyyah binti Pengiran Haji Bolkiah, istri Pangeran Abdul Malik. Titah yang diumumkan sekitar 7 hingga 8 Agustus 2026 berlaku segera, sementara hingga 10 Agustus 2026 tidak ada pengumuman resmi tentang perceraian.
Inti artikel
- Yang berubah hanya gelar ibu
- Empat putri pasangan itu tetap menyandang sapaan Yang Amat Mulia dan gelar Pengiran Anak
- Pemberitahuan lalu dimuat lewat media resmi Pelita Brunei
Yang berubah hanya gelar ibu. Empat putri pasangan itu tetap menyandang sapaan Yang Amat Mulia dan gelar Pengiran Anak. Optimaise News merangkum, kontras itu menjelaskan kenapa topik sultan brunei naik di pencarian Indonesia: gelar hilang, status keluarga inti belum dibongkar di ruang publik.
Titah resmi 7, 8 Agustus: gelar Yang Amat Mulia Pengiran Anak Isteri hilang sejak pengumuman
Pengumuman disampaikan pejabat protokol kerajaan, Pemangku atau Plt Grand Chamberlain Pengiran Haji Raffizanna bin Pengiran Haji Razali (juga ditulis Raffizana di sebagian laporan). Pemberitahuan lalu dimuat lewat media resmi Pelita Brunei.
Ada sedikit selisih tanggal antar laporan. Sebagian sumber menyebut Jumat, 7 Agustus 2026; laporan lain merujuk 8 Agustus. Intinya sama: titah sultan brunei darussalam berlaku efektif segera setelah diumumkan, bukan ditunda.
Kantor Kepala Protokol Kerajaan tidak merinci peristiwa atau tindakan spesifik. Alasan yang tertulis secara resmi: perilaku Raabi’atul dinilai tidak pantas bagi istri anggota keluarga kerajaan, mencemarkan nama baik, serta kurang menghormati Sultan, Raja Isteri Pengiran Anak Hajah Saleha, dan keluarga diraja.
Siapa Raabi’atul Adawiyyah: latar bangsawan, IT, dan juara baca Al-Qur’an 2013 di Indonesia
Raabi’atul lahir di Brunei pada 27 Oktober 1992. Ia anak kedua dari sepuluh bersaudara pasangan Pengiran Haji Bolkiah bin Pengiran Haji Jaluddin dan Pengiran Hajah Noor’aismah binti Pengiran Haji Ismail, keduanya dari garis bangsawan setempat.
Jejak pendidikan mencatat Sekolah Al-Falaah, Sekolah Rendah Rimba I, Sekolah Menengah Menglait dan Rimba, Sijil Sekolah Rendah Agama 2008, serta GCE O Level 2010. Pada 2006 ia sempat jadi ketua pengawas di Sekolah Agama Pengiran Anak Puteri Hafizah Sururul Bolkiah.
Sebelum masuk istana, ia punya jejak teknologi informasi. Tahun 2012 ia meraih sertifikasi Internet and Computing Core Certification, Microsoft Office Specialist, dan sertifikat Adobe, lalu bekerja sebagai analis data sistem di BAG Networks serta instruktur TI di HAD Technologies.
Di ranah keagamaan, namanya sempat menyentuh Indonesia. Tahun 2013 ia dinobatkan sebagai pembacaan Al-Qur’an terbaik (Best Muslimah Al-Qur’an Recital) di ajang Miss World Muslimah. Prestasi itu kini terbaca sebagai kontras kuat terhadap penilaian “perilaku tak pantas” yang mendasari pencabutan gelar tanpa rincian publik.
Empat putri Abdul Malik: nama, tanggal lahir, dan gelar yang tidak dicabut
Dari pernikahan dengan Pangeran Abdul Malik, putra kedua sultan brunei, lahir empat anak perempuan. Muthee’ah Raayatul Bolqiah lahir 2 Maret 2016. Fathiyyah Rafaahul Bolqiah lahir 10 Maret 2018.
Khaalishah Mishbaahul Bolqiah lahir 5 Januari 2020. Nabeelah Najmul Bolqiah lahir 9 April 2025. Keempatnya tetap disebut menyandang Yang Amat Mulia dan gelar Pengiran Anak.
Itu menjadi titik yang jarang dibedah sebagai paket terpisah di banyak berita: gelar istri hilang, gelar anak sultan brunei lewat garis Abdul Malik tidak ikut dicabut dalam pengumuman yang sama. Bagi pembaca Indonesia, perbedaan ini menandai batas titah: sanksi simbolik pada posisi menantu, bukan otomatis penghapusan status keturunan.
Pernikahan 2015 di Istana Nurul Iman hingga kini: belum ada pengumuman cerai
Pertunangan diumumkan 11 Januari 2015. Rangkaian pernikahan kerajaan berlangsung 5 hingga 16 April 2015, termasuk Majlis Istiadat Bersuruh Diraja di Istana Nurul Iman pada 5 April, prosesi berbedak, akad di Masjid Omar Ali Saifuddien, serta majlis bersanding sekitar 12 April 2015.
Tamu yang tercatat mencakup sultan dan tokoh kerajaan Malaysia: Ahmad Shah (Pahang), Mizan Zainal Abidin (Terengganu), Ibrahim Ismail (Johor), Nazrin Shah (Perak), Sharafuddin Idris Shah (Selangor), dan Tuanku Muhriz (Negeri Sembilan), plus tamu dari kawasan Arab Saudi.
Berdasarkan sumber yang dihimpun Optimaise News, hingga 10 Agustus 2026 pihak kerajaan masih menyebut Raabi’atul sebagai istri Pangeran Abdul Malik. Tidak ada pernyataan resmi tentang putusnya ikatan perkawinan.
Alasan resmi vs spekulasi: perilaku dinilai tak pantas tanpa rincian peristiwa
Media lokal seperti RTB News dan rujukan New Straits Times mengulang frasa “perilaku tidak pantas” dan “mencoreng nama baik kesultanan”. Tidak ada daftar insiden, waktu, atau tempat yang dibuka pejabat.
Karena itu, spekulasi di luar material resmi tidak bisa dikunci sebagai fakta. Yang bisa dipastikan dari rangkuman multi-sumber adalah: gelar menantu dicabut, alasan perilaku dan penghormatan kepada sultan brunei serta Raja Isteri, dan kekosongan rincian teknis di pernyataan protokol.
Sebagai penanda seberapa cepat topik merembes ke ruang digital Indonesia, galeri foto kampus STEKOM bertanggal 11 Agustus 2026 menayangkan enam gambar soal pencabutan gelar, ditulis Wizdan Ulum, dengan catatan penayangan masih sangat rendah (sekitar 16 kali). Metadata tipis itu berlawanan dengan biografi padat di portal berita, tapi menandai minat visual publik di hari yang sama.







